Serapan Penggunaan Pupuk Organik di Bantul Masih Minim

share on:
Di salah satu gudang distributor, berkarung-karung pupuk masih menumpuk || YP-Supardi

Yogyapos.com (BANTUL) - Serapan volume pembelian dan penggunaan pupuk jenis organik oleh para petani di Bantul, relatif masih minim (rendah). Karenanya perlu digalakkan penggunaannya oleh semua pihak.

Hal itu sebagaimana yang diungkapkan oleh Akudi dan Sugeng Riyadi, selaku karyawan Toko Sarana Tani yang juga distributor pupuk di Sewon Bantul, kepada yogyapos.com, di tempat kerjanya, Selasa (21/10/2020).

“Memang serapan konsumen terhadap pupuk organik cenderung masih minim. Jatah tebusan pupuk organik yang tersedia  di tempat ini sejak beberapa  waktu lalu satu ton, namun masih ada yang tersisa,” papar Akudi.

Dikatakan, minat menggunakan pupuk organik masih terbatas, penyebabnya adalah pupuk jenis ini tidak bisa untuk bertani secara instan dan banyak para petani yang sudah mempunyai pupuk kandang dari ternaknya. Selain itu mereka terbiasa menggunakan pupuk pabrikan.

Mengenai harga pupuk jenis organik relatif lebih murah dibandingkan pupuk pabrikan bersubsidi dan non subsidi. Pupuk organik Rp 500 per kg. Pupuk subsidi Urea Rp 1.800 per kg, NPK Rp 2.300 per kg, ZA Rp 1.400  per kg dan SP36 Rp 2.000 per kg.  Harga pupuk non subsidi Nitria isi 50 kg Rp 290.000 per zak, urea Pusri  isi 25 kg Rp 145.000 per zak dan Ponska Plus isi 25 kg Rp 190.000 per zak.

“Apabila jatah tebusan pupuk ini habis, maka kami langsung meminta untuk disuplai. Dan pasokan lansung dilakukan. Sehinnga persediaan bisa dibilang tetap ada,” terang Akudi.

Dihubungi terpisah, Ketua Komisi B DPRD Bantul yang juga membidangi pertanian, Wildan Nafis, menyatakan melihat keadaan itu maka perlu menggalakkan penggunaan pupuk organik oleh banyak pihak yaitu pemerintah dan petani.

Meski pupuk organik tidak bisa untuk menyuburkan tanah secara instan, namun bermanfaat untuk menyuburkan dan melestarikan lingkungan (lahan).

Dengan menggunakan pupuk organik hasil pertaniannya juga akan lebih baik kwantitas dan kwalitasnya serta rasanya juga lebih enak. Ini tebukti seperri yang telah dilakukan oleh para petani bawang merah di Nawungan Selopamioro Imogiri Bantul.

“Agar petani beralih menggunakan pupuk organik, maka Pemkab Bantul harus mempeloporinya dengan berbagai cara. Diantaranya dengan kampanye, penelitian, pelatihan dan dorongan dengan menyediakan anggaran,” ungkap Wildan.

Dikatakan, dalam melakukan penelitian, pelatihan dan memotiblvasi, perlu kerja sama dengan para pelaku pertanian, ahli dari istansi pertanian dan perguruan tinggi. (Supardi)

 


share on: