Yogyapos.com (BANTUL) - Pagelaran Seni Sendratari sebagai event rutin tahunan Dinas Pariwisata Kabupaten Bantul setahun sekali akan digelar di Alun-alun Parangkusumo, Kamis (28/11/2024).
“Gelaran kali ini sedikit berbeda dari tahun sebelumnya. Konsep acara kali ini akan diawali Kirab obor dan bukan hanya sekedar ceremonial tapi merupakan rangakain tradisi yang sudah ada sejak dahulu,” ungkap Suraji selaku Seniman, di Bantul, Kamis (20/11/2024).
Rencananya dalam acara pagelaran sendratari dengan judul ‘Janji Misteri Sang Ratu’ akan dihadiri oleh Kadis Pariwisata Kabupaten Bantul, Bupati Bantul dan Paniradya Propinsi DIY. Pergelaran seni ini kerjasama antara Dinas Pariwisata Kabupaten Bantul dengan Sanggar Krisna Mukti yang berdomisili di daerah Parangtritis Bantul. Pembiayaannya dari Dana Keistimewaan Propinsi DIY. Diharapkan mampu menjadi wadah, sarana dan motivasi bagi seniman maupun pelaku seni di Kabupaten Bantul untuk lebih giat melestarikan pagelaran seni sendratari di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Selain itu dapat menjadi hiburan bagi masyarakat Umum di Kabupaten Bantul. Dalam event ini juga akan dipandu oleh MC hiburan ‘Poer Segi Panjang’ dan perwakilan dari Diajeng Bantul.
Sinopsis sendratari ini berkisah, pada saat itu Sultan Hadi Wijoyo perintah kepada Ki Pemanahan untuk mengalahkan Pajang. Apabila mampu mengalahkan Pajang, akan diberi hadiah tanah (Alas Mentaok).
Menindak lanjuti perintah itu, Ki Pemanahan bersama putranya Danang Sutawijaya menyanggupi dan mencari cara untuk mengalahkan Pajang. Berkat strategi Ki Pemanahan, maka Danang Sutowijaya berhasil membunuh Arya Penangsang.
Setelah itu, dalam penantian yang cukup lama tanah yang dijanjikan tak kunjung diberikan, sehingga Ki Pemanahan bersama putranya meminta petunjuk kepada Ki Juru Mrentani. Oleh Ki Juru Mrentani disarankan segera babat alas itu dengan catatan kalau berani. Kemudian dengan tekad yang bulat dan penuh dengan keberanian maka Danang Sutawijaya setuju bahwa Alas Mentaok segera dibabat.
Dengan dibantu masyarakat mulailah babat alas tersebut, namun pada suatu saat terjadilah hal-hal yang diluar nalar. Para pekerja ada yang sakit, ada yang kesurupan dan bahkan meninggal dunia tanpa sebab.
Maka dari itu Ki Ageng Pemanahan dan Danang Sutawijaya mulai curiga ada yang tidak beres dihutan ini, maka laporlah kepada Ki Juru Mrentani. Atas saran Ki Juru Mrentani, Danang Sutawijaya bersemedi, datanglah Kanjeng Ratu Kidul. Disitulah ada perjanjian yang tidak diketahui. (Spd)
