Selamatkan Cagar Budaya, Disbud Bantul Launching Gemi Setiti

share on:

Yogyapos.com (BANTUL) - Upaya pelestarian cagar budaya, khususnya milik pribadi atau perseorangan, sering menghadapi dilema. Di satu sisi pelestarian membutuhkan biaya yang tidak sedikit, di sisi lain cagar budaya tidak bisa dikelola sebagai potensi ekonomi karena beberapa pembatasan.

Sebagai upaya memberikan jalan keluar atas masalah itu, Dinas Kebudayaan Bantul me-launching Gerakan Memanfaatkan Potensi (Cagar Budaya) Secara Hati-Hati (Gemi Setiti) pada Sabtu (13/8/2022). 

BACA JUGA: https://yogyapos.com/berita-cagar-budaya-kotagede-bisa-menghidupi-masyarakat-7784

Kabid Warisan Budaya Dinas Kebudayaan Bantul Risman Supandi MPd mengatakan, salah satu wujud nyata gerakan Gemi Setiti adalah Wisata Edukasi Budaya Dalem Ambatik. Wisata dengan konsep Community Base Tourism (CBT) ini, memanfaatkan potensi cagar budaya Joglo R. Hardjo Soedarmo sebagai pusat kegiatan. 

"Joglo yang didirikan tahun 1920 oleh keluarga R. Hardjo Soedarmo, pada masanya pernah menjadi salah satu pabrik kain batik terbesar di Imogiri," tandasnya.

Sedangkan Kepala Dinas Kebudayaan Bantul, Nugroho Eko Setyanto SSos MM., dalam sambutannya mengatakan, upaya yang dilakukan ini bisa menjadi contoh nyata yang bisa ditiru oleh cagar budaya lainnya. "Di Bantul, jumlah cagar budaya yang tersertifikasi saat ini berjumlah 176 cagar budaya. Kolaborasi dengan potensi budaya lain yang ada di sekitar cagar budaya akan meningkatkan daya tarik cagar budaya tersebut", jelasnya.

BACA JUGA: https://yogyapos.com/berita-25-pemilik-cagar-budaya-terima-sk-dari-bupati-7635

Budaya membatik di Girirejo, sudah ada sejak abad ke-17. Saat kompleks makam raja-raja di Pajimatan, Girirejo, Imogiri berdiri, diutuslah beberapa abdi dalem untuk merawat dan menjaga kompleks makam tersebut. Kehadiran para abdi dalem kraton inilah yang mengawali adanya budaya membatik di Yogyakarta. Batik yang semula merupakan budaya di dalam kraton, akhirnya memasyarakat.

Girirejo, saat ini juga menjadi pusat kerajinan warangka keris terbesar di seluruh Indonesia. Selain itu, ada pula potensi lain seperti makam Pangeran Pekik (sesepuh Mataram), pengusaha wedang uwuh, pengusaha tempe benguk, kuliner ndeso, berbagai kesenian Jawa, dan lain-lain.

Dalem Ambatik berupaya melibatkan seluruh potensi budaya yang ada di kalurahan budaya Girirejo ini, sebagai potensi wisata edukasi budaya. Secara reguler, Dalem Ambatik membuka cagar budaya Joglo R. Hardjo Soedarmo dan kuliner Pawon Ndeso setiap hari mulai jam 10.00 – 22.00. Sedangkan untuk paket wisata edukasi budaya, ada kegiatan pengenalan cagar budaya, belajar membatik, outbond, belajar membuat tempe benguk, belajar membuat emping, belajar membuat warangka keris, dolanan anak tradisional, belajar memakai busana adat Jawa, dan masih banyak atraksi wisata edukasi budaya menarik lainnya. 

Dengan cara demikian, Dalem Ambatik bukan hanya berupaya melestarikan cagar budaya, namun juga ikut mengembangkan potensi budaya lainnya yang ada di Kalurahan Budaya Girirejo. Terkait paket wisata edukasi budaya di Dalem Ambatik, dapat menghubungi Retno 0812 2956 156 atau Puji 0888 0689 1820. (Iud)

 


share on: