Sejumlah Guru BK dan Sosiologi SMA Ikuti Workshop Penanganan Kekerasan Seksual

share on:
Pemateri dan peserta kegiatan workshop Guru Bimbingan Konseling (BK) dan Guru Sosiologi SMA dengan tema Kesehatan Mental dan Penanganan Kekerasan Seksual di Satuan Pendidikan di Kampus II UAJY, Senin (13/1/2025) || YP-Ist

Yogyapos.com (SLEMAN) - Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) mengadakan Workshop untuk Guru Bimbingan Konseling (BK) dan Guru Sosiologi SMA dengan tema Kesehatan Mental dan Penanganan Kekerasan Seksual di Satuan Pendidikan di Kampus II, Senin (13/1/2025).

Acara ini dibuka oleh Dr V Sundari Handoko MSi selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) UAJY, dan dihadiri oleh sejumlah guru BK dan Sosiologi SMA se-DIY. Drs Ign Agus Putranto MSi selaku Kepala Kantor Kerjasama dan Promosi (KKP) UAJY juga turut membuka workshop ini. 

BACA JUGA: Kebakaran Hanguskan Tempat Kuliner di Jetis, Polisi Selidiki Penyebabnya

“Jadi inilah yang kita usahakan untuk berkolaborasi dan Atma Jaya Yogyakarta selalu terbuka bekerja sama dengan berbagai pihak,” ungkap Agus.

Sesi pertama dibawakan oleh Anna Skiba, mahasiswa doktoral dari University of Warsaw, Polandia dengan topik The Social Aspect of Mental Health and Its Treatment. Ia sempat menjadi mahasiswa UAJY pada tahun 2019-2020 untuk belajar program doktoral.

BACA JUGA: Penyair Ulfatin Ch Membaca 'Gelombang Laut Ibu'

“Fokus saya adalah symptoms, alasan, penyebab, dan reaksi terhadap mental illness,” ungkap Anna saat menjelaskan penelitiannya terhadap kesehatan mental yang ada di Indonesia. Ia juga mengungkapkan bahwa faktor sosial kesehatan mental masyarakat Jawa sangat berbeda dengan faktor kesehatan mental di Polandia.

Dr Dina Listiorini SSos MSi sebagai Kepala Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (Satgas PPKS) UAJY menjelaskan tentang jenis, definisi, dan penyebab terjadinya kekerasan seksual, termasuk penanganannya. 

BACA JUGA: Hakim PN Sleman Putuskan Menolak Praperadilan, Penyitaan Barang Dugaan TPPU Dinyatakan Sah

“Sangat disayangkan bahwa perguruan tinggi itu ditempatkan paling tinggi terdapat kasus kekerasan seksual,” ungkap Dina. Ia juga menyampaikan bahwa kekerasan seksual terjadi karena ketimpangan kuasa dan gender. 

Topik tentang kesehatan mental dan kekerasan seksual ini menarik perhatian para peserta dan dilanjutkan dengan sesi tanya-jawab yang cukup intens. (*/red)


share on: