Yogyapos.com (YOGYA) - Suasana haru tampak di wajah para pelayat yang menghantarkan jenazah sastrawan Yogya, Iman Budhi Santosa, di Makam Seniman Imogiro, Bantul, Kamis (10/12/2020). Tak terkecuali Emha Ainun Nadjib alias Cak Nun, menundukkan muka manakala jazad almarhum perlahan dimasukkan ke liang lahat. Dua anak almarhum menyertai acara pemakaman.
Iman Budhi Santosa kelahiran di Magetan, 18 Maret 1948. Diketahui meninggal dunia diduga akibat serangan jantung hari itu Pukul 08.00, di kamar kontrakannya, Kampung Dipowinatan, Yogyakarta. Sejak semalam sebelumnya ia masih melakukan kerja kreatif. Itu bisa dilihat dari komputernya yang masih menyala.
“Semalam sepertinya masih di depan komputer. Tapi pagi tadi diketahui sudah wafat dalam keadaan sujud di depan pintu kamarnya,” ujar penyair Hamdy Salad mengutip keterangan orang dekat almarhum sesaat sebelum memberangkatkan jenazah menuju pemakaman.
Almarhum pada akhir 1960-an hingga 1970-an pernah kuyub kreatif dalam komunitas Persada Studi Klub (PSK) yang diampu Umbu Landu Pranggi. Melalui PSK itulah ia bersama sejumlah sastrawan antara lain Cak Nun, Teguh Ranusastra Asmara (alm), Korrie Layun Rampan (alm), Ashadi Siregar menempa ‘kehidupan kreatifnya’ yang berbasis di Malioboro.
Puluhan buku puisi maupun ‘coretan’ kreatif lain berupa kumpulan esai dan novel telah diterbitkan. Satu diantaranya ‘Ziarah Tanah Jawa’ (Buku Puisi, 2013), sangat populer di kalangan sastrawan khususnya dan masyarakat pecinta sastra umumnya.
Cak Nun dalam sambutan pelepasan sahabat dan saudaranya ini mengatakan, almarhum sudah mencapai maqom yang tenang seperti dikehendakinya. Layak dipanggil Allah karena sudah cukup amal jariyahnya di dunia kesusateraan.
“Almarhum orang yang selalu punya pemikiran dan pertimbangan-pertimbangan yang sangat manusiawi. Pemikiran dan pertimbangan-pertimbangannya tidak digunakan selain untuk urusan tersebut,” tandasnya, seraya menyampaikan duka mendalam, juga atas nama kawan-kawan Maiyah.
Almarhum sampai akhir hayatnya masih sebagai Pemimpin Umum Majalah Maiyah ‘Sabana’ yang berkantor Redaksi di Rumah Cak Nun, Kadipiro, Yogyakarta. Semasa hidup, Iman Budhi Santoso dikenal sebagai Suhu, guru kreatif yang baik, sabar dan telaten bagi sastrawan-satrawan muda atau generasi di bawahnya.
Itu sebabnya saat pemakaman pun lebih banyak dijubeli anak-ana muda. Tampak diantara mereka, Latief S Nugraha, Fitri Merawati, Anes Sajdarwo, Indrian Koto, Sunlie Thomas Alexander, Mutia Sukma, Ulfatin Ch, Achid BS, M Fuad Riyadi, Sumanang Tirtasudjana, Umi Kulsum, Sigit Sugito, Marwanto, Aguk Irawan, Mustofa W Hasyim (Met)
