Sahabatambak Bantu Petani Ikan Tingkatkan Omzet

share on:
Rancangan alat Sahabatambak || YP-Ist

Yogyapos.com (SLEMAN) - Budidaya ikan semakin marak di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Di Kabupaten Sleman misalnya, terdapat 637 kelompok pembudidaya ikan. Demikian pula di kota Yogya, Bantul, Kulonprogo dan Gunungkidul, banyak masyarakat yang bermatapencarian sebagai pebudidaya ikan.

Menurut Kepala Bidang Perikanan DP3 Kabupaten Sleman Sri Purwaningsih, pada 2018 produksi budidaya perikanan konsumsi ditargetkan sebanyak 59.000 ton dan pada tahun 2019 target tersebut dinaikkan menjadi 62.000 ton. Namun hingga saat ini hasil budidaya ikan di  Kabupaten  Sleman hanya bisa mencapai kurang dari  75% dari target yang telah ditetapkan. Salah satu pembudidaya ikan yang ada di Kabupaten Sleman adalah Unit Pelayanan Teknis (UPT) Pengembangan Budidaya dan Pemasaran Perikanan Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Kabupaten Sleman yang membudidayakan ikan air tawar khususnya ikan nila, ikan koi, ikan tawes, dan ikan lele. UPT Perikanan tersebut dikelola oleh 20 orang.

Purnomo salah satu staf di UPT Perikanan mengatakan. dalam satu tambak  induk ikan nila dapat menghasilkan 2000 benih ikan nila. Ikan tersebut dijual ketika sudah menjadi indukan  ikan dengan harga Rp 14.000 per ekor. Namun, karena angka kematian ikan  nila  yang mencapai 50 persen membuat omzet mitra hanya mencapai Rp 14.000.000. Jumlah omzet tersebut masih kurang maksimal karena mitra seharusnya mendapat omzet  sebesar Rp 28.000.000 dalam sekali proses budidaya. Masalah utama yang dialami mitra adalah belum adanya sistem monitoring suhu, pH (Power of Hydrogen), dan kadar oksigen (Dissolved Oxygen) di dalam air tambak  sehingga penanganan yang dilakukan sering terlambat. Suhu, kadar oksigen dan pH air merupakan komponen penting yang dapat mempengaruhi angka kematian ikan. Komponen tersebut juga sangat berpengaruh terhadap kualitas dan hasil panen mitra.

Kondisi seperti itulah yang menginspirasi sekelompok mahasiswa UNY merancang inovasi teknologi yang Smart Pond Management System yang  diberi nama  Sahabatambak. Mereka adalah Muhlisun Nur Hidayah dan Rifky Ari Yunanto prodi Pendidikan Teknik Informatika, Ardi Jati Nugroho Putro prodi Pendidikan Teknik Mesin, Yuliari Suprihatin prodi Kimia dan Intan Diah Kusuma prodi Pendidikan Teknik Boga.

Menurut Muhlisun Nur Hidayah, Sahabatambak memiliki dua instrumen yaitu Kapal dan Aplikasi. Kapal berfungsi untuk mendapatkan data kondisi tambak, sedangkan aplikasi berfungsi untuk menampilkan hasil analisis data dan menampilkan solusi dan informasi yang bermanfaat. 

“Kami berharap dengan diterapkan Sahabatambak, mitra dapat meningkatkan kualitas dan hasil panen ikan sehingga omzet mitra dapat lebih maksimal,” ujarnya, Minggu (18/10/2020).

Rifky Sri Yunanto menambahkan pembuatan desain aplikasi Sahabatambak terbagi menjadi dua yaitu desain interface berbasis website dan desain interface berbasis android. Pemilihan platform Android karena banyak dipakai dan mudah digunakan, terutama untuk mitra.

Ardi Jati Nugroho Putro juga menjelaskan Sahabatambak berupa kapal berbahan plat dengan penggerak motor DC bersumber energi dari solarcell. “Aplikasi Sahabatambak akan mengolah dan menganalisis data yang didapat dari sensor pada kapal,” katanya.

Sensor tersebut, papar dia, adalah sensor DO, sensor suhu, sensor ultrasonic dan sensor pH. Data dari sensor tersebut dihubungkan dengan big data yang berisi data-data dari literasi tentang suhu, kadar oksien dan pH air serta cara penanganan yang tepat. Literasi dalam  big data  berasal dari jurnal ilmiah, buku-buku hasil penelitian, dan lain-lain. Big data akan terhubung langsung dengan aplikasi Sahabatambak dan akan memberikan informasi tentang cara penanganan yang tepat  apabila suhu, kadar oksigen, dan pH air berada dibawah atau diatas batas normal. Karya ini berhasil meraih dana Dikti dalam Program Kreativitas Mahasiswa bidang Teknologi tahun 2020. (*)


share on: