Rumah Makan Mangut Lele Bu Is Jetis Tetap Eksis

share on:
Rumah makan mangut lele Bu Is tampilan sederhana, rasa masakan istimewa || YP-Supardi

Yogyapos.com (BANTUL) - Berdiri sejak 1978, rumah makan mangut lele Bu Is yang terletak di utara Simpang Empat Jetis Jalan Imogiri Barat Km 12 Bantul, tak pernah sepi dari pembeli. Walau di masa pandemi Covid-19, para pelanggan tetap datang dan santap makanan di sana.

“Selama pandemi memang terjadi penurunan omzet. Tapi alhamdulillah masih terbilang ramai pelanggan,” ujar Ariastuti alias Bu Is didampingi suaminya, Aswanto, Sabtu (29/8/2020).

Rumah makan yang menjadi salah satu ikon kuliner di Bantul ini didirikan oleh pasangan suami istri Iskandar dan Ngadinem. Perlahan tapi pasti, warung yang pada mulanya hanya disambangi tetangga teparo itu, kemudian kian berkembang. Omzet pun meningkat seiring banyaknya pelanggan dari luar kampung, bahkan luar Bantul dan kota-kota lain. 

“Waktu itu Ibu dan Bapak kami masih mematok harga mangut lele, wader dan udang beserta nasi maupun berbagai lalapan Rp 350 per porsi. Sedangkan saat ini harganya Rp 25.000 per porsi,” timpal Aswanto mengenai harga menu andalan yang digemari banyak orang itu.

Aswanto berkisah, ide mendirikan rumah makan sebenarnya dari seseorang yang bukan kerabatnya. Saat itu di sebelah selatan jalan Simpang Empat Jetis, setiap harinya digunakan sebagai tempat penimbangan panen tebu. Seorang petugas menyarankan kepada Ngadinem agar mendirikan rumah makan mangut lele.

“Saran dari seseorang itu kemudian duwujudkan. Alhasil warung ini tetap disukai pelanggan sejak sepeninggalan orang tua kami sampai sekarang,” terangnya.

Hanya saja, tambah Aswanto, jika dulu yang dimsak lele jenis lokal karena masih mudah didapat. Maka kini beralih ke lele jenis dumbo karena terkendala mendapatkan lele lokal.

Sedangkan menu tambahan dan khas yang ada di sini hingga kini masih sama. Yaitu trancam, sambal trasi, sambel bacem koro, dan tempe serta kluwo ketela pohon.  

Aswanto menyatakan, sejak pandemi Covid-19 hingga dua bulan berikutnya rata-rata hanya bisa menjual mangut lele 5 kg per hari. Padahal pada hari hari biasa lebih dari 15 kg per hari. Kondisi demikian tetap disyukuri, karena terpenting eksis.

Peningkatan ke arah pemulihan terjadi sejak sekitar dua minggu terakhir. Pasaran mangut ini relatif normal kembali. “Alhamdulillah, pelan-pelan mulai bergerak menuju normal. Tentu saja kami berharap Covid-19 segera lenyap sehingga para pemilik warung termasuk kami bisa berjualan kembali secara normal. (Supardi)

 

 

 

 


share on: