Rerasan Akhir Lusono (4) : Mengindahkan Budaya Jawa

share on:
Dr Akhir Lusono SSn

ADA banyak rujukan mengenai budaya, khususnya budaya Jawa dikaitkan dengan munculnya polemik penggunaan torong, horn, corong, speaker, sound system melalui SE Menag No 05 tahun 2022, bagaimana kita akan menyatakannya? Apakah silang pendapat ini akibat dari penjiwaan terhadap budaya Jawa yang terindikasi melemah? Apakah nilai-nilai kejawaan tidak diuri-uri. Sudah tidakkah budaya Jawa digendhong dan diindhit.

Jika unen-unen ini bisa diaplikasikan kedalam kehidupan sehari-hari akan mewujud satu keharmonisan dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. 1. Mulat sarira hangrasa wani artinya menggambarkan suatu sikap pemimpin yang berani mawas diri dan memperjuangkan kebenaran, 2. Aja adigang adigung lan adi guna artinya jangan mengandalkan kekuatan, keluhuran dan kepandaian karena bisa memunculkan sifat takabur atau sombong, 3. Alon-alon waton kelakon artinya sifat istiqomah, mengerjakan sesuatu dengan tekun dan menggunakan aturan, 4. Tepa selira artinya tenggang rasa yang memuat suatu keluhuran bersikap kepada sesama atau orang lain.

Sebenarnya masih sangat banyak unen-unen Jawa, yang dapat menginspirasi kita untuk bekal dalam menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara. Silang sengkarut pengaturan penggunaan sound system yang belakangan menjadi trending topic disegala media sosial maupun media massa cetak dan elektronik dapat tereduksi dan tidak segaduh saat ini. Semoga budaya Jawa tidak luntur tetap terjiwai dalam diri kita.

Berbicara mengenai melunturnya Budaya Jawa agaknya yang seksi untuk dibincangkan adalah para generasi muda. Hal ini disebabkan karena masifnya perkembangan teknologi yang melanda. Generasi muda disuguhkan sesuatu yang bersifat praktis yakni gadged. Dengan piranti pipih ini para generasi muda dijauhkan dari komunikasi langsung. Pesan segala hal bisa dilakukan dengan tidak beringsut dari tempat tidur. Ini membuat mereka “malas” untuk berinteraksi. Padahal dengan berinteraksi generasi muda dapat belajar tentang unggah-ungguh dan segala ikutannya yang berhubungan dengan budaya Jawa. Belajar bagaimana cara memperlakukan lawan bicara. Melatih untuk nderek langkung dan mengucap matur nuwun dan mengembangkan kepekaan sikap tepa selira kepada orang lain. Maka tak pelak kondisi semacam ini membuat minat generasi muda terhadap budaya Jawa yang sesungguhnya adiluhung, dan merupakan warisan leluhur yang perlu dilestarikan ini melemah.

Lunturnya minat generasi muda kepada budayanya sendiri tidak boleh berlarut. Mereka calon pemimpin bangsa Indonesia ke depan. Maka sudah selayaknya jika kita ibarat nututi layangan pedhot, bersegera meracik obat untuk membekali para generasi penerus ini dengan sikap luhur melalui budaya Jawa.

Pertama, perbanyak pendidikan kursus tentang budaya Jawa harus dimasifkan, diperbanyak. Kedua, melalui pendidikan formal tingkat SD, SMP, SMA/K perlu digenjot lebih power full lagi, agar yang berkait dengan budaya Jawa ditekankan. Ketiga, pemerintah daerah perlu memikirkan eksistensi media baik cetak berbahasa Jawa yang memuat budaya Jawa yang ada mauoun membuat baru. Keempat, ditempat strategis perlu digalakkan adanya sajian budaya Jawa melalui kantung-kantung budaya dari kampung-kampung yang ada. Kelima, perbanyak narasumber-narasumber budaya Jawa agar terjun ke desa-desa untuk mengajarkan tentang budaya Jawa. Semoga dengan lima hal tersebut semoga generasi muda mendapatkan sangu untuk bekal jika kelak didaulat menjadi pemimpin. Sehingga akan menjadi pemimpin yang sejuk, andhap asor, tepa selira dan sebagainya. Semoga! (Dr Akhir Lusono SSn, Bekerja di BBPPMPV Seni Budaya dan di amanahi sebagai pengampu mata kuliah Industri Pariwisata di AKN Seni Budaya Yogyakarta). 


share on: