Ramadhan dan Hujan Tak Surutkan Aksi Meruwat Demokrasi

share on:
Sbuah spanduk mengekpresikan krtitisisme pengunjuk rasa di kawasan Titik Nol Kilometer Yogyakarta, Selasa (11/3/2025) sore || YP-Ist

Yogyapos.com (YOGYA) – Bulan suci Ramadhan dan hujan agaknya tak menyurutkan elemen masyarakat melakukan unjuk rasa atas suatu fenomena kebijakan yang dinilainya tidak populis, sebagaimana diperlihatkan sejumlah massa, di Kawasan Titik Nol Yogyakarta, Selasa (11/3/2025) sore.

Massa aksi damai ‘Jogja Memanggil’ dalam menyuarakan aspiranya bergerak dari Parkir Abu Bakar Ali, berjalan kaki membisu tanpa yel-yel, melainkan hanya menyusung sejumlah spanduk dan poster #MeruwatDemokrasi, dari Jalan Malioboro menuju Titik Nol Km Yogyakarta.

BACA JUGA: Presiden Prabowo Umumkan Gaji ke-13 bagi Aparatur Negara

Selain proter melalui media poster dan spanduk, Sebagian diantara mereka memanivestasikan kritiknya secara simbolis happening art, gerak-gerak teatrikal. Setidaknya nampak terekpresikan oleh empat orang yang mengibaskan kaos warna pink.

Poster-poster mewarnai aksi || YP-Ist

Gerak mereka diikuti massa aksi dibelakangnya yang diam membisu sepanjang perjalanan. Poster-poster dan spanduk merekalah yang berbicara, serta diwarnai pembakara dupa dan tabur bunga yang diasosiaikan sebagai ruwatan demokrasi tersebut.

BACA JUGA: KPH Yudanegara Serap Aspirasi Melalui 'Jagongan' di Timbulharjo

Orasi baru tersampaikan ketika mereka sampai di kawasan Titik Nol Km Yogyakarta, disertai lanjutan pertunjukan teatrikal yang lebih mengental. 

Aksi yang merupakan lanjutan dari Jogja Memanggil beberapa waktu lalu, pada intinya  memprotes sejumlah kebijakan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Dan praktis cukup mengundang perhatian masyarakat yang kebetulan melintas disana.

BACA JUGA: Serangan Oemoem 1 Maret Bantah Propaganda Belanda, Bukti Indonesia Eksis

Meski cukup menyita perhatian, namun gelaran protes tersebut berlangsung kondusif dalam pengawalan sejumlah aparat kemananan. Dan itulah, Ramadhan juga jadi momentum (kalau boleh dibilang) sebagai ekpresi ‘ibadah sosial-politik’ yang lumayan menarik. Yogya memang Istimewa. (*/Met)


share on: