Prolog Mustofa W Hasyim Songsong 'Tipu Daya Yogya' di TBY

share on:
Mustofa W Hasyim || YP/Dok

Membuka gelaran Bincang-Bincang Sastra (BBS) pada tahun 2020, Studio Pertunjukan Sastra (SPS) bekerja sama dengan Taman Budaya Yogyakarta (TBY) menyajikan acara bertajuk “Tipu Daya Yogya”, yang rencananya akan dihelat pada 25 Januari 2020 pukul 20.00-23.00, di Ruang Seminar TBY. Acara BBS yang digelar oleh SPS rutin setiap bulan sekali sejak Oktober 2005 hingga Januari 2020 kini telah sampai pada edisi 172.

Menandai perjalanan panjang tersebut, SPS menghadirkan para pembicara yang sudah tidak asing lagi dalam kancah kesastraan dan kebudayaan di Yogyakarta dan Indonesia, yakni Hairus Salim dan Iqbal Aji Daryono. Menampilkan penyair Sutirman Eka Ardhana, Ulfatin Ch, Marwanto, Ahmad, Hendrik Efriadi, Mutia Suma.

Tajuk “Tipu Daya Yogya” merupakan perwujudan kegelisahan mungkinkah Yogyakarta selama ini telah menjadi “perangkap” yang “menjerat” penghuninya sehingga sulit untuk lepas, keluar dari Yogya? Sesungguhnya, kita yang terlena oleh tipu daya Yogya, atau Yogya yang terlena oleh tipu daya kita?

Yogyakarta seperti telah menjadi rumah sendiri pagi setiap penghuninya. Banyak orang datang mula-mula untuk belajar, lalu dilanjutkan bekerja, menikah, mengontrak rumah, membeli tanah, membangun rumah, dan akhirnya menjadi penduduk baru yang duduk berdampingan dengan penduduk lama. Orang-orang merasa nyaman dan aman di Yogyakarta,  bertemu dengan habitus baru, dan orang-orang yang satu pandangan ke depan sehingga sayang jika kekerabatan yang terbangun itu mesti ditinggalkan. Meski belakangan Yogya mulai dibikin resah dengan aksi kriminalitas “klithih” para remaja, konvoi, kemacetan, juga beberapa kejadian intoleransi dan sebagainya dan sebagainya.

Jika Yogyakarta merupakan tanah kelahiran kedua, sebagai kampung halaman, Yogyakarta telah menjadi tempat tinggal yang pada suatu waktu juga ditinggalkan ketika para penghuninya kembali ke kampung halaman pertama. Mungkin karena sejarah atau mitos masa lalu yang sudah terbangun demikian kokoh, tiada berhenti, terus-menerus generasi muda dari berbagai penjuru daerah di Indonesia bertandang, datang, dan tinggal menetap di Yogyakarta. Sesrawungan melahirkan segala kemungkinan, baik yang ada di dalam maupun yang datang dari luar pun terjadi. Penduduk awal dan penduduk yang datang kemudian dapat hidup berdampingan tanpa curiga dan gemeremang prasangka.

Di dalam wilayah kesastraan pun demikian yang terjadi. Kehidupan bersastra di Yogyakarta bergulir tiada henti mengikuti alur perkembangan Yogyakarta ke arah maju. Para sastrawan lahir dan tumbuh, lantas tinggal menetap dan terus berproses kreatif di Yogyakarta. Karya-karya bernuansa Yogyakarta pun lahir dari rahimnya. Para sastrawan dari berbagai penjuru tanah air itu pun kemudian telah menjadi Yogya.

Sejak masa awal kemerdekaan Bangsa Indonesia, Yogyakarta sebagai ibu kota menjadi tujuan orang-orang datang dari berbagai daerah. Sejak dekade 1950-an Yogyakarta telah menjadi tempat berpumpun seniman dan sastrawan kemudian kita baca nama dan karyanya dalam buku sejarah sastra dan kebudayaan Indonesia. Yogyakarta jika diibaratkan bangunan adalah pendapa, tak ada dinding-dinding yang menghalangi bagi siapa saja yang hendak masuk ke dalamnya. Namun, orang-orang sulit keluar darinya.

Penyair Joko Pinurbo menyebut bahwa Yogya terbuat dari rindu, pulang, dan angkringan. Penyair Iman Budhi Santosa menyebut di pangkuan Yogya aku terlahir kembali. Penyair Indrian Koto menyebut di kota ini, aku merasa kembali dilahirkan. Hanung Bramantyo menyebutkan bahwa Yogyakarta adalah ladang garapan, tempat orang-orang nenandur (bercocok tanam), bukan untuk dol tinuku (jual beli). Agaknya, Yogyakarta yang independen telah menumbuhkan etos kebudayaan dan etos kerja (makarya, berkarya) setiap masyarakatnya.

Bukan bermaksud mengagung-agungkan Yogyakarta, namun rasa-rasanya tidak bisa dipungkiri bahwa Yogyakarta memiliki arti dan nilai penting bagi setiap penghuninya, tentu saja termasuk bagi para sastrawan. Yogyakarta boleh jadi adalah satu tatanan yang aneh, yang tidak bakal ditemukan di daerah lain. Laku kehidupan yang lamban, syahdu, romantis, puitis bertemu dengan tatanan yang paradoks bahwa Yogyakarta macet, sumpek, tragis, dramatis. Apakah Yogyakarta adalah sebuah dunia ideal bagi para sastrawan, sehingga mereka bisa hidup —sekali lagi meminjam diksi Jokpin,  “alon-alon waton hepi”. Namun, perlu dicermati  —Jokpin juga mengingatkan kita, bahwa “hati Yogya hangat dan berbahaya…”

Lantas, apa yang membuat orang-orang betah tinggal di Yogyakarta? Padahal, tidak ada yang benar-benar menjanjikan dari Yogyakarta selain ungkapan berhati nyaman.  Apakah kenyamanan di hati itu berupa banyaknya gelaran seminar, forum-forum diskusi, perlombaan-perlombaan, pemeran buku, acara baca puisi, sejumlah kos-kosan yang bebas bagi sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara, warung kopi serta mini market yang buka 24 jam? Bagi yang sudah bekerja, entah mengapa dengan gaji pas-pasan orang-orang tetap bisa tersenyum bahkan tertawa cekakakan sambil ngopi dan ngrokok klempas-klempus di angkringan. Benarkah, mereka yang merasa terlahir kembali di Yogyakarta telah menjadi manusia yang tidak grusa-grusu, tidak kagetan, tidak gumunan, tidak sok-sokan, dan tidak untuk hal-hal yang njelehi lainnya? Banyak pertanyaan tentang Yogyakarta yang mudah tapi tidak gampang dijawab.

Menjadi sastrawan di Yogyakarta adalah satu pilihan yang terlampau suci, untuk tidak dikatakan naif. Menjadi mahasiswa selamanya di Yogyakarta rasa-rasanya juga terlalu wagu. Bekerja di Yogyakarta tentu saja hasilnya tak seberapa jika dibandingkan bekerja di kota-kota industri atau di ibu kota. Namun, entah mengapa banyak orang betah tinggal di Yogyakarta. Agaknya Yogyakarta telah membuat banyak orang terlena dan menjalani hidup dengan memegang falsafah gliyak-gliyak waton tumindak-nya.

Yogyakarta merupakan daerah yang lekat dengan budaya dan tradisi Jawa. Yogyakarta yang terbuka membuat siapa saja dapat dengan gampang diterima menjadi wong Yogyakarta. Dialektika kultural bolak-balik menjadikan Yogyakarta benar-benar menjadi hunian yang nyaman. Sehingga tidak sulit bagi para sastrawan yang berasal dari luar Jawa bisa menyesuaikan diri di Yogyakarta dan kemudian menjadi Jawa. Walhasil, Yogyakarta menjadi ladang bagi tumbuh kembang kesenian tradisi dan kesenian modern —juga postmodern, berdampingan ditopang adanya sekolah, kampus, sanggar seni, dan komunitas-komunitas yang menjamur di punggung kota ini.

Maka tersebutlah nama Mahatmanto, Kirdjomuljo, Motinggo Boesje, Nasjah Djamin, Umar Kayam, Subagio Sastrowardoyo, Kuntowijoyo, Sapardi Djoko Damono, Abdul Hadi W.M., Darmanto Jatman, Umbu Landu Paranggi, Iman Budhi Santosa, Linus Suryadi Ag., Emha Ainun Nadjib, Mustofa W. Hasyim, Suminto A. Sayuti, Hamdy Salad, Joko Pinurbo,  Dorothe Rosa Herliany, Ulfatin Ch, Joni Ariadinata, Agus Noor, Eka Kurniawan, Puthut EA, Gunawan Maryanto, Raudal Tanjung Banua, Hasta Indriyana, Indrian Koto, Mahfud Ikhwa dan banyak lagi yang lainnya. Nama-nama yang bermunculan itu pun tidak hanya harum di Yogyakarta, namun bahkan di arena sastra Nasional. Keberadaan Malioboro, Stasiun Tugu, Pasar Kembang, Senisono, lorong-lorong kampung, para mahasiswa, pedagang kaki lima, gelandangan, pencopet, tukang becak menjadi bahan baku bagi kelahirankarya sastra. Belum lagi suasana alam Yogyakarta yang romantis dan melankolis serta kehidupan yang dramatis dan tragis yang membentang mulai dari Suroloyo hingga Wediombo, dari Kaliurang hingga Parangtritis.

Malioboro terus berhias menjadi pusat perhatian lengkap dengan bangku-bangku malas. Warung-warung kopi melahirkan penyair-penyair yang gelisah. Jalanan yang macet dijejali bus-bus pariwisata, andong, becak motor, dan ojek online. Perubahan dunia di era golbalisasi dengan kecanggihan zaman yang menuntut segalanya serba instan. Hal ini tentu berpengaruh pada kedalaman dan kedangkalan karya sastra yang lahir dari para sastrawan generasi kiwari.

Yogya telah menyihir kita!? (Mustofa W Hasyim, Jurnalis dan Penyair Yogyakarta)

     


share on: