PK Iwan Setiawan SH MH: Mengatasi 'Klitih' Perlu Pendekatan Menyeluruh, Jangan Hukum Semata

share on:
PK Iwan Setiawan SH MH di kantornya di Jlalan Magelang Km. 16, Cungkuk Margorejo, Senin (14/6/2021) || YP-Eko Purwono

Yogyapos.com (SLEMAN) - Kejahatan jalanan atau aksi klitih di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam beberapa tahun terakhir ini makin meresahkan masyarakat. Bukan saja masyarakat yang menjadi korban yang resah, para orang tua yang memiliki anak-anak remaja pun ikut mengkhawatirkannya.

Tak pelak, mengatasi tindakan kejahatan jalanan atau aksi klitih membutuhkan penanganan yang serius dan menyeluruh, jangan hanya pendekatan hukum semata. Perlu kerjasama antar stakeholder dan seluruh elemen masyarakat. Dan yang terpenting yakni peran strategis keluarga dalam pendampingan mapun pengawasan anak sekaligus pendekatan sosial budaya.

“Penanganan klitih itu ada pada yang utama adalah dari keluarga. Orang tua harus ketat, yang namanya pelajar kalau jam 21.00 atau jam 22.00 itu harus sudah di rumah, apapun alasannya. Yang terjadi kok ada oknum pelajar jam 02.00 masih di luar dan membawa pedang, itu sangat disayangkan,” terang Advokat senior asal Sleman, PK Iwan Setiawan SH MH dalam perbincangan dengan yogyapos.com, di kantornya di Jalan Magelang Km. 16, Cungkuk Margorejo, Tempel, Sleman, Senin (14/6/2021).

Menurut dia, peran orang tua harus menjadi orang tua yang sebenarnya yakni sebagai teladan dan mengayomi. Terpenting lagi perlu diurai, ternyata tak sedikit pelajar terjerumus melakukan tindakan "ngliklitih". Mirisnya lagi hampir sebagian pelaku klitih yang berhasil ditangkap diketahui telah mengonsumsi psikotropika sebelum melakukan aksi kejahatannya.

"Anak klitih yang ditangkap rata-rata ngepil atau mengonsumsi psikotropika, jangan-jangan bandarnya pil itu yang menyeponsori untuk melakukan klitih," tandas dia yang juga menjabat selaku Ketua Dewan Pimpinan Cabang Perhimpunan Advokat Indonesia (DPC Peradi) RBA Sleman.

Jika penanganan klitih dilakukan secara benar, otomatis ini sudah selesai. Namun faktanya fenomena klitih seolah tak berujung. Termasuk penanganan tepat saat menjalani masa penahanan.

“Padahal pelaku klitih telah ditahan, namun faktanya masih bermunculan yang lain lagi. Makanya dibutuhkan pendekatan sosial budaya kemasyarakatan, tidak serta merta hanya ditindak dan diberikan sanksi saja. Ya butuh penanganan menyeluruh,” ungkap dia.

Peran Pemerintah, kata dia, harus dioptimalkan, termasuk didalamnya penambahan sumber daya manusia (SDM) yang memiliki kapasitas dan kompetensi sehingga mampu mengurai persoalan klitih dan mengetahui pokok permasalahan untuk mendapatkan formula untuk mengatasinya. Diharapkan kepada Pemerintah ketika mengeluarkan kebijakan harus paham esensi atas strategi tersebut.

“Menangani pelaku klitih harus memiliki kemampuan, jangan hanya ikut-ikutan saja sehingga implementasi di lapangan menjadi kurang tepat. Saya yakin ketika semua stakeholder berjalan sesuai koridor dengan niat untuk menciptakan generasi muda yang lebih baik, permasalahan klitih akan teratasi,” pungkas advokat yang juga pengurus PDIP di Sleman. (Eko Purwono/Ismet)

 


share on: