PERSETERUAN BONTJE VS SUDARTO MAKIN SERU : Dari Gugatan Perdata, Berkembang ke Laporan Polisi

share on:

Yogyapos.com (YOGYA) – Perseteruan perdata pengusaha Bontje Andrian Johan melawan Sudarto BA semakin seru. Bontje yang dianggap telah mencemarkan nama baik akibat konferensi pers, telah dilaporkan oleh Sudarto secara pidana ke Polda DIY. Tak mau kalah, Bontje pun berencana mengadukan balik ke institusi yang sama.

”Ya kami akan lapor balik Sudarto ke Polda DIY,” tegas Taufiqurahman selaku kuasa hukum Bontje, Minggu (16/12/2018).

Sebelumnya diwartakan, Sudarto BA yang kebetulan anggota DPRD Bantul awalnya digugat oleh Bontje sebesar Rp 12 miliar karena dianggap telah melakukan perbuatan melawan hukum. Kasus posisinya suatu hari Sudarto minta bantuan uang kepada Penggugat untuk membeli rumah di wilayah Panggungharjo, Sewon, Bantul. Rumah itu nantinya dimaksudkan ditempati tergugat.

Penggugat menyanggupi menyerahkan uang Rp 310 juta untuk membeli rumah yang dimaksud. Meski rumah sudah dibeli, tapi Penggugat belum pernah melihat sertifikat yang telah dibalik nama.

Saat ditanyakan, Tergugat malah meminta lagi uang tambahan untuk biaya balik nama sebesar Rp 25 juta. Total uang yang diserahkan Penggugat ke Tergugat sebesar Rp 335 juta. Toh demikian, sertifikat belum kunjung ditunjukan kepada Penggugat.

Tergugat akhirnya mengaku bahwa Sertifikat Hak Milik (SHM) telah selesai dibikin atas nama dirinya. Bukan atas nama Penggugat. Saat itulah Penggugat merasa telah ditipu, sehingga meminta kepada Tergugat untuk mengembalikan uangnya sebesar Rp 335 juta. Tergugat menyatakan sanggup mengembalikan jika sudah diangkap menjadi anggota DPRD Bantul, walau ternyata ingkar. Karenanya, gugatan perdata dan tuntutan ganti rugi pun dilayangkan ke PN Bantul.

Pasca pendaftaran gugatan, Bontje dan tim kuasa hukumnya mengadakan jumpa pers. Atas pemberitaan hasil jumpa pers itulah dia merasa dicemarkan nama baiknya. Suusai sidang kedua gugatan perdata di PN Bantul, Selasa pekan lalu, Bontje membantah telah menggelapkan uang pembelian rumah. Sebaliknya menyatakan, bahwa uang sebesar Rp 375 dari Bontje adalah pinjaman. Sebab selama dia bekerja sejak 1994 di Hotel Queen of The South dan di Restoran La Pergola tidak pernah diberi gaji maupun pesangon.

Sudarto didampingi pengacaranya HM Ikbal SH kemudian melaporkan Bontje ke Polda DIY, menyusul somasi yang telah dilayangkan. Tentang pengaduan pidana ini dimuat oleh beberapa media massa pula.

Menanggapi pengaduan tersebut, Taufiqurrahman SH selaku kuasa hukum Bontje menyatakan berencana mengadukan balik. Ada beberapa hal yang dijadikan alasan kenapa pihaknya akan mengadu balik, antara lain ada kebohongan publik yang dilakukannya serta berpotensi pemerasan.

Kenapa demikian? Taufiqurrahman membeberkan keterangan Sudarto bahwa dirinya mengaku menerima uang Rp 375 juta dari Bontje itu suatu kebenaran. Ua kemudian dibelikan rumah di Garon RT 06, Panggungharjo, Sewon, Bantul, sertifikan HM nomor 08414/Panggungharjo. “Itu fakta diakuinya, dan uang itu belum dikembalikan ke klien kami,” jelasnya.

Tentang keterangan Sudarto yang mengaku tidak menerima gaji maupun pesangon selama kerja di Queen of The South maupun Restoran La Pergola, Taufiqurrahman menegaskan, bahwa Sudarto memang tidak pernah bekerja kepada Bontje secara pribadi, melainkan bekerja untuk PT Setia Dewi Bonagraha dan PT Tri Fortun Jaya.

Ditandaskan, Sudarto selama bekerja di PT Setia Dewi telah menerima gaji dan pesangon yang layak. Selama belasan tahun tidak ada tuntutan ke Depnaker. Tiba-tiba sekarang mempersoalkan. Sedangkan di PT Fortuna Jaya (pemilik restoran La Pergola) yang bersangkutan justru selaku salah satu pemilik saham sekaligus Direktur, sehingga tanggung jawab pengelolaan termasuk urusan gaji karyawan ada padanya.

“Apa yang dikemukakan Sudarto itu berpotensi pemerasan dan pembohongan terhadap publik yang merugikan klien kami. Karenanya kami segera mengadukan balik,” tegas Taufiqurrahman SH.

Sementara dikonfirmasi tentang rencana pengaduan balik ini, HM Ikbal SH selaku pengacara Sudarto menyatakan silakan. “Hak dia (Bontje, red) mengadu balik,” ucap Ikbal, ringan.

Ikbal membenarkan sebelumnya melayangkan somasi. Karena sampai waktu yang ditentukan tidak ada jawaban dari Bontje, maka pengaduan ke kepolisian dilakukan.

“Kami anggap konferensi pers yang dilakukan Bontje melanggar hukum. Gugatan belum dibacakan di muka sidang tapi sudah disampaikan ke publik lewat media massa. Dan isinya juga menyebut jabatan publik Sudarto selaku anggota dewan. “Itu nanti wartawan bisa jadi saksi,” kata Ikbal  menjawab konfirmasi awak media di hari yang sama. (Inu)

 

 

 


share on: