Pembobol Bank Gunakan Dokumen Palsu Divonis 5 Tahun

share on:
Sidang pembacaan putusan kasus pembobolan bank menggunakan dokumen palsu, di PN Yogya, Kamis (20/5/2021) || YP-Ist

Yogyapos.com (YOGYA) - Dinyatakan terbukti mencairkan kredit menggunakan surat atau dokumen palsu, Ginanjar Agung Wijaya (31) akhirnya divonis penjara 5 tahun oleh majelis hakim diketuai Bandung Hermoyo SH, di Pengadilan Negeri Yogya, Kamis (20/5/2021).

Hukuman tersebut lebih ringan 6 bulan dari tuntutan Jaksa Kliwon Sugiyanto SH. Meski demikian, terdakwa melalui tim pengacaranya menyatakan pikir-pikir.

Terungkap kasus ini bermula ketika korban Magdalena Hartati bermaksud menjual ruko di Jalan Wahidin Yogyakarta seharga Rp 3,5 miliar. Ia kemudian diperkenalkan kepada terdakwa yang berminat membelinya seharga Rp 3.250.000.000.

Pada waktu yang dijanjikan, korban diminta menandatangani PPJB di kantor Notaris Eduard Ardyanto. Tapi korban dan dua anaknya Ezekiel dan Geovani kaget karena sampai di sana tak ada terdakwa, melainkan hanya Bambang Sunarta.

Korban segera menghubungi terdakwa, dan dijawab agar menandatangani PPJB yang telah ada dengan Bambang selaku pembeli. Ia menduga ruko tersebut akan dijual kembali kepada Bambang sehingga PPJB pun ditandatangani.

Usai penandatangaan PPJB, korban diajak Bambang ke Bank Panin untuk menerima uang pembayaran. Di bank tersebut ia kaget karena ternyata nilai PPJB hanya Rp 1.2 miliar, dan uang yang diterimakan kepada hanya Rp 900.000.000.

Itu sebabnya korban mengadu ke Notaris Eduard, dan disarankan agar uang dikembalikan lagi ke Bambang serta dilakukan pembatalan PPJB. Atas saran inilah ia mencoba menghubungi berkali-kali tapi gagal. Sehingga menanyakan kepada terdakwa untuk dipertemukan dengan Bambang.

Saat itu terdakwa meminta uang yang Rp 900.000.000 dari korban dengan janji akan diserahkan kepada Bambang. Alih-alih membantu, uang senilai Rp 600.000.000 disimpan dikantongnya, sedangkan Rp 300.000.000 digunakan untuk uang muka pembelian ruko milik korban.

Di sinilah muslihat penipuan kentara. Berbekal telah membayar uang muka itu kemudian terdakwa memperdaya lagi korban agar mengajukan kredit ke Bank Danamon dengan jaminan 2 sertifikat SHGB milik korban. Celakanya korban karena ketidakmengertiannya menuruti kemauan terdakwa menandatangani pencairan pengajuan kredit Rp 3,5 miliar.

Usai menerima uang itu, korban diiming-imingi menginveskan uangnya Rp 1,5 miliar kepada terdakwa untuk pengembangan bisnis dengan kesepakatan keuntungan 2 persen setiap bulan. Selain itu juga terdakwa meminjam uang Rp 350.000.000 kepada korban dengan alasan untuk melunasi kekurangan pengembalian uang kepada Bambang. Bahkan uang Rp 1,5 miliar dan Rp 350.000.000 itu dijamin pengembaliannya dengan cek tunai Rp 1.850.000.000 yang belakangan diketahui cek tersebut nol deposit tak bisa dicairkan.

Merasa diperdaya, korban melaporkan hal ini ke kepolisian. Hingga kasusnya bergulir di pengadilan. Di sisi lain, Bambang yang ikut menjadi korban juga melaporkan terdakwa ke kepolisian.

Kasus ini terbilang rumit. Dipersidangan terungkap adanya keterlibatan oknum perbankan yang persidangannya displit dan telah divonis. Intinya, terdakwa tak punya modal uang tapi sanggup menjual ruko milik orang lain kepada Bambang, serta memperdaya korban Magdalena menandatangani semua surat-surat yang dibutuhkan untuk terbitnya PPJB dan pengajuan kredit ke bank. Itu sebabnya bank Danamon merasa dirugikan sebab sertifikat yang dijaminkan untuk pencairan kredit bukan milik terdakwa. (Met)

  

 

 

 

 

 

 


share on: