Pasca Pandemi, Sentra Kerajinan Tembaga di Tepus Menggeliat

share on:
Aktifitas Perajin Tembaga di Desa Tepus, Kapanewon Tepus, Gunung Kidul || YP-Sulistyawan Ds

SEIRING dengan menurunnya kasus pandemi di wilayah Gunung Kidul, berdampak pada peningkatan perekonomian para perajin tembaga di desa Tepus, Kecamatan Tepus Gunung Kidul. Beberapa pesanan yang sempat terhenti, perlahan-lahan kembali datang. Para perajin yang semula menganggur kembali bekerja mengolah logam-logam tembaga untuk disetorkan pada pengepul.

Darwanto (43) salah seorang  perajin tembaga menjelaskan, kerajinan tembaga di Tepus sudah ada sejak tahun 80-an. Para perajin ini umumnya berasal dari para pekerja industri perak  di Kotagede yang sengaja memutuskan untuk pulang ke desa, berbekal ketrampilan yang telah mereka miliki.

“Selama ini profesi sebagai perajin jadi andalan rumah tangga kami, disamping usaha ternak kambing,” ujar Darwanto kepada yogyapos.com , Jumat (22/4/2022).

Produk kerajinan tembaga Desa Tepus, Kapanewon Tepus, Gunungkidul || YP-Sulistyawan Ds

Setelah profesi ini menjadi andalan penghasilan rumah tangga, lanjut Darwanto, kondisi pandemi global benar-benar memukul perekonomian masyarakat Tepus. Sebab, tak lagi ada order yang mereka terima sehingga nyaris tak ada penghasilan untuk menghidupi nafkah keluarga.

“Daripada tak ada pekerjaan, beberapa perajin kemudian merantau keluar desa. Ada yang jadi buruh, tukang batu atau profesi lainnya asal dapat uang. Tapi saya tetap bertahan dengan kerja serabutan,” tandas Darwanto.

Namun, dengan penurunan kasus pandemi, kondisi masyarakat di desa ini juga kembali menggeliat. Meski belum seramai pada masa sebelum pandemi, tetapi ada tren meningkat. Jika sebelum pandemi Darwanto bisa mengerjakan sebanyak 10 kilogram tembaga, saat ini rata-rata bisa mengerjakan antara 2-3 kilogram tembaga. 

Suheri, Koordinator Desa Wisata Tepus, Kapanewon Tepus, Gunungkidul || YP-Sulistyawan Ds

Sementara itu, Koordinator Desa Wisata Suheri menjelaskan di Desa Tepus terdapat sebanyak 82 perajin yang tersebar ke berbagai dusun. Para perajin ini dikoordinir oleh seorang warga  yang bertugas memberikan order dan bahan  mentah kepada para perajin, sehingga perajin tinggal mengerjakan sesuai pesanan  dalam bentuk bahan setengah jadi. 

“Koordinator ini  yang kemudian melakukan finishing  sekaligus memasarkannya,” tandas Suheri.

Salah seorang pengunjung mengamati  produk kerajinan di ruang pamer kerajinan Desa Tepus, Kapanewon, Gunungkidul || YP-Sulistyawan Ds  

Salah satu faktor yang menjadikan sentra kerajinan di Tepus dapat bertahan selama puluhan tahun, menurut Heri adalah kualitas produk. Oleh karena itu, produk kerajinan tembaga di Tepus pernah menembus pasar manca negara seperti : Dubai, Thailand serta  beberapa negara lainnya. Sedangkan rata-rata omzet yang bisa diraih  perajin antara 20 hingga 40 juta per bulan. 

Heri menegaskan salah satu kendala yang sekarang masih dihadapi adalah terbatasnya sumber daya manusia trampil di desa tersebut. Oleh karena itu, pihaknya merasa masih sangat perlu diadakannya pelatihan bagi para perajin sehingga wawasan mereka dapat  berkembang.  (*/Sulistyawan Ds)

 


share on: