Panjang Ilang, Tradisi Bersyukur yang Masih Lestari di Gunungkidul

share on:
Tim mahasiwa peneliti melakukan wawancara dengan seorang tokoh masyarakat || YP-Dedy Hardito

Yogyapos.com (SLEMAN) - Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) terkenal dengan budaya lokalnya. Dalam hal kebudayaan, masyarakat di wilayah ini selalu mempertahankan tradisi yang telah diwariskan nenek moyang. Nilai-nilai tradisional selalu mewarnai upacara adat yang berlangsung. Seni dan budaya sudah menjadi satu bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan mereka. Salah satunya adalah tradisi Panjang Ilang, sebuah tradisi yang masih dilakukan secara turun temurun oleh masyarakat di Desa Giricahyo Purwosari Gunungkidul. Tradisi ini bisa dijumpai saat acara-acara seperti pernikahan dan upacara bersih desa.

Hal itulah yang menggerakkan sekelompok mahasiswa program studi Pendidikan Kewarganegaraan Fakultas Ilmu Sosia meneliti keunikan tradisi Panjang Ilang yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Mereka adalah Muhammad Muslim Hidayatulloh, Nur Isti Qomah dan Yohana Suryana.

Menurut Muhammad Muslim Hidayatulloh, tradisi Panjang Ilang merupakan sebuah bentuk rasa syukur masyarakat terhadap anugrah Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rahmat yang telah diberikan. “Panjang ilang sendiri terbuat dari daun kelapa yang masih muda, kemudian dibentuk sedemikian rupa sehingga menyerupai wadah yang didalamnya berisikan berbagai makanan seperti pisang, dan jajanan-jajanan tradisional layaknya, apem, jadah, jenang, lepet, ketupat dan umbi-umbian,” katanya, Jumat (12/6/2020.

Hal yang menarik dari tradisi ini yang dapat dilihat yakni, bahwa jajanan tradisional masih dilestarikan ditengah pesatnya perkembangan makanan-makanan modern atau makanan cepat saji. Tradisi panjang ilang ini mempunyai urgensi dalam pembentukan karakter masyarakat di era globalisasi yang erat sekali hubungannya dengan degradasi moral yang terjadi di msyarakat. Berbagai nilai yang terkandung dalam tradisi panjang ilang diharapkan mampu menjadi salah satu bentuk kearifan lokal dalam pembentukan karakter masyarakat ditengah berkembangnya budaya barat yang semakin menggerus karakter masyarakat lokal yang idealnya menjadi identitas bangsa.

Nur Isti Qomah menegaskan, nilai-nilai karakter tradisi panjang ilang terdapat berbagai hal diantaranya nilai karakter gotong royong, nilai karakter religius dan nilai karakter nasionalis. Implementasi nilai karakter gotong royong dalam Panjang Ilang juga turut diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari di Desa Giricahyo hal ini dapat dilihat dalam berbagai aktivitas, misalnya dalam persiapan hajatan, gotong royong dalam membangun rumah atau yang lebih dikenal dengan sambatan, selain itu dalam pelaksanaan kerja bakti atau merti dusun juga dilakukan dengan gotong royong. Nilai gotong royong yang tercermin dalam persiapan pernikahan terdapat dalam berbagai kegiatan yang dilakukan dalam serangkaian persiapan pernikahan. Biasanya masyarakat akan saling membantu satu sama lain.

Nilai karakter religius yang ada dalam tradisi Panjang ilang juga diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. karakter tersebut dapat dilihat dari kebiasaan masyarakat untuk saling memberi satu sama lain dalam tradisi kenduri, sebagai ungkapan rasa syukur terhadap apa yang telah dicapai sampai saat ini. Kenduri ini selalu hadir dalam setiap rangkaian acara, seperti acara pernikahan, aqiqah, slametan, tingkeban, peringatan kematian, serta acara-acara adat lainnya.

“Selain itu karakter religius juga dapat dilihat dari kebiasaan keagamaan yang selalu dilakukan di Desa Giricahyo, seperti pengajian. Pengajian ini selalu dilakukan rutin sebagai upaya untuk memperkaya pemahaman dan pengetahuan ilmu agama masyarakat Desa Giricahyo,” urainya.

Nilai karakter nasionalis tergambar dalam beberapa kegiatan yakni peringatan hari kemerdekaan, peringatan sumpah pemuda dan pelesatarian nilai-nilai kebudayaan lokal itu sendiri. Masyarakat Desa Giricahyo melakukan peringatan upacara memperingati hari kemerdekaan yang dilaksanakan rutin sebagai wujud mencintai bangsanya, pada umumnya upacara peringatan hari kemerdekaan diisi dengan perlombaan tradisional seperti gobak sodor, panjat pinang dan beberapa permainan lain yang melibatkan seluruh masyarakat khususnya generasi muda yang ada di Desa Giricahyo. (Deddy Hardito)

 


share on: