CUKUP lama mengamati lukisan Bayu Wardana yang berjudul Mindah Kandang. Tiga orang utan dengan wajah memelas, sedih penuh ratap, terlihat kebingungan. Mereka berdiri di dekat papan nama bertuliskan "Di Sini Akan Dibangun Gedung DPR/MPR". Hutan, yang jadi rumah dan ekosistem mereka, sebentar lagi rusak bahkan mungkin hilang. Tahu apa yang akan terjadi kemudian?
BACA JUGA: Sidang Penganiayaan Advokat, Ada Perbedaan Keterangan Saksi dan Korban
Bisa jadi pembangunan akan terus berjalan dan kerusakan ekosistem telah menjadi keniscayaan. Bukankah atas nama pembangunan, semua boleh dikalahkan? Rakyat dan beribu satwa serta vegetasi akan diam, tak berdaya. Tetapi alam tak pernah lupa mencatat dan membalas setiap sakit yang diperbuat manusia. Alam mempunyai mekanisme untuk membalas tiap kerusakan yang diakibatkan ulah manusia.
Dalam bahasa Meuz Prast, Lambe Lamis Nguntal Kala. Lukisan yang mengekspresikan bagaimana kala akan menjerat tiap janji manis, kebohongan dan dusta yang sering dilontarkan elite untuk meninabobokan rakyat dengan kisah indah pembangunan.
BACA JUGA: Bekas Kepala Dinas Kominfo Sleman Ditahan, Diduga Korupsi Pengadaan Banwidth
Lukisan Prast cukup mengena, mulut menganga bergincu merah sementara di dalam "telak" sebuah kala memenuhi ruang tenggorokan. Bisakah elite membohongi rakyat kembali?
Meuz Prast dan karyanya "Lambe Lamis Nguntal Kala" || YP-Wahjudi Djaja
Imaji tentang kemakmuran banga di masa lalu dibahasakan dengan sangat indah oleh Dodi Irwandi. Dalam lukisan bertajuk Penjaga Lumbung, Dodi membawa kita pada masa dimana alam belum rusak, petani hidup makmur dan ketahanan pangan bukan isapan jempol belaka. Meski berlatar kisah perjuangan petani di Pegunungan Kendeng tetapi bahasa yang terbaca menjadi luas.
BACA JUGA: Lurah Tegaltirto Ditahan di Rutan Wirogunan, Ini Penyebabnya
Dodi sedang membuka ruang interpretasi kebangsaan. Lewat lukisan Penjaga Lumbung, dia sedang menarik garis imajiner ketakberdayaan bangsa ini menahan laju beras impor, semrawutnya makan bergizi gratis, kemiskinan akut dan lemahnya daya hidup petani. Tak masuk nalar, bangsa dengan alam yang indah, kaya dan subur terjerat utang dan korupsi tanpa bisa dikendalikan hingga hutan dan laut kita rusak parah.
Lukisan "Penjaga Lumbung" karya Dodi Irwandi || YP-Wahjudi Djaja
Jinguk'i! Lihai juga para perupa itu memvisualisasikan detak kehidupan bangsa agraris yang kehilangan makna ini. Bergerak dari bahasa lisan, jinguk (hajinguk, bajinguk, hajingan, bajingan), menjelma menjadi kata seru yang kaya narasi. Serupa jancuk dalam dialek Surabayanan, jinguk bukanlah sejenis umpatan sarkastik. Ia adalah ekspresi spontan penuh kehangatan. Bisa berarti pujian atas realita yang berada di luar ekspektasi penontonnya.
BACA JUGA: Kejati DIY Sita 1 Unit Mobil dan 6 Jam Tangan Mewah di Rumah Tersangka Korupsi
Realita sering memantulkan imaji. Realita yang tergerus, pun, melahirkan karya yang bagus. Bagi kalangan perupa, ketergerusan dan kerusakan budaya ekologis kemanusiaan bisa ditransformasikan menjadi beragam karya lintas dimensi. Dan sebagai sebuah konstruk baru, karya itu membuka ruang dialog yang multi tafsir. Tak sedikit yang sampai pada simpulan yang sama: jinguk'i, apik tenan.
Atau dalam bahasa Romo Sindhunata yang membuka acara, puluhan ekspresi para perupa menandakan guyup rukun mereka untuk sama-sama menjadikan seni sebagai bagian penting kehidupan. Kritis, slengekan tetapi khas Yogyakarta. Pemeran bertajuk Jinguk'i digelar memeriahkan 43 tahun Bentara Budaya.
Selamat berpameran. (Wahjudi Djaja adalah Alumni FS UGM)
