Niken Probo Laras : Local Wisdom Karakter Wisata Kulon Progo

share on:
Dra Niken Probo Laras SSos MH | YP/Wahjudi

Yogyapos.com (KULON PROGO) - Perlu dipikirkan bersama sebuah paket wisata yang tak hanya berorientasi mass tourism yang mengejar kuantitas, tetapi juga yang berkualitas dan mengakomodasi tuntutan pasar internasional. Pembukaan bandara baru tentu merupakan peluang besar bagi pelaku wisata di Kulon Progo. Oleh karena itu, perlu sinergi lintas sektor dengan tetap menjadikan kearifan lokal karakter Menoreh sebagai andalan.

Hal itu disampaikan Kepala Dinas Pariwisata Kulon Progo, Dra Niken Probo Laras SSos MH, saat ditemui yogyapos.com, di kantornya usai menerima Tim Association Of The Indonesian Tours & Travel Agencies (Asita) Yogyakarta, (Jumat, 11/1/2019). Dispar Kulon Progo menjalin kerjasama dengan Asita berupa pendampingan pengembangan pariwisata.

Lebih lanjut, Niken menjelaskan Kulon Progo memiliki potensi dan daya tarik yang khas dan unik sehingga bisa dijadikan daya tarik wisatawan mancanegara dan domestik.

"Harus diakui data kunjungan wisata ke Kulon Progo masih rendah dibandingkan dengan kabupaten lain. Tapi sebetulnya itu juga akibat kurang tertibnya pengelola wisata dalam memasukkan data kunjungan secara periodik. Ini yang harus kita benahi bersama," akunya.

Oleh karena itu, menurut mantan Kepala Dinas Perdagangan Kulon Progo ini, sangat diperlukan adanya kemitraan dengan berbagai pihak yang peduli dengan pengembangan pariwisata. "Masih ada beberapa kendala yang harus kami hadapi, seperti keterbatasan jumlah sumber daya manusia dan keterbatasan dana. Tetapi dengan kemitraan dan sinergi, kami optimis pengembangan potensi pariwisata Kulon Progo yang integral dan berwawasan lingkungan (ecotourism) akan bisa lebih diminati wisatawan pada 2019,” tandasnya.

Salah satu produk Kulon Progo yang bisa diberdayakan adalah gula semut. "Kami telah memproduksi 6 ton/hari dan diekspor ke Eropa, Amerika, dan negara-negara lain. Sayangnya memang masih berupa gula semut curah, karena ada keterbatasan dalam hal pengolahan,” ungkapnya.

Terkait dengan pengembangan pariwisata berbasis kearifan lokal, Kabid Pemasaran dan Promosi Wisata Dispar Kulon Progo, Yudono, menambahkan ada tradisi masa kecil yang bisa diberdayakan untuk pendidikan pariwisata. "Dulu kami mengenal libur uwur-uwur, artinya saat awal musim penghujan sekolah diliburkan dengan harapan anak-anak bisa membantu menanam padi atau tanaman apa saja. Ini sangat menarik dikembangkan, dan bukan hal mustahil dijadikan paket wisata,” kenangnya.

Ada pula pola pertanian surjan seperti yang mentradisi di Giripeni. Tinggi rendah tanaman palawija dan padi bila dilihat seperti bergaris-garis menyerupai baju surjan sehingga tentu menarik bagi wisatawan mancanegara, sambungnya.(Udi)

 

 

 

 


share on: