Najwa Shihab: Membaca Membuat Hidup Lebih Bahagia

share on:
Najwa Shihab || YP-Ist

Yogyapos.com (KALSEL) - Perangkat teknologi memudahkan setiap orang mencari informasi. Meskipun demikian, hal itu mestinya tidak lantas membuat orang fokus pada bacaan digital. Membaca buku fisik (tercetak) maupun digital tetap membutuhkan satu dorongan, namun nikmatnya membaca buku secara fisik tak akan pernah tergantikan. Manfaat serta sensasi yang dirasakan ketika membaca buku jelas berbeda dibandingkan membaca melalui gawai.

Hal tersebut diungkapkan Duta Baca Indonesia periode 2016-2020, Najwa Shihab, pada acara  talkshow virtual “Nikmatnya Membaca Buku” yang diselenggarakan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kalimantan Selatan (Dispersip Kalsel) bersama Perpustakaan Nasional RI, Jumat (24/07/2020). Talkshow disiarkan live di channel YouTube Dispersip Kalsel, diikuti ribuan peserta terdiri dari pustakawan, pengelola perpustakaan, serta pegiat literasi dari berbagai daerah di Indonesia.

“Tantangan literasi zaman sekarang atau literasi digital bukan hanya soal kemampuan memilah dan memilih informasi saja. Tetapi juga kemampuan membedakan informasi benar dan salah sehingga tidak terjebak menyebarkan kabar bohong (hoax). Kemudian menjaga informasi pribadi supaya tidak mudah kena tipu secara online,” sebutnya saat memberikan paparan melalui aplikasi Zoom di Jakarta.

Najwa menyampaikan, karakter membaca buku cetak dan buku digital jelas berbeda. Hal itu menyebabkan cara mendorong orang agar mau membaca berbeda pula. Lebih mudah mendorong orang membaca konten-konten digital karena terhubung gawai yang mudah dibawa kemana-mana. Kondisi semacam ini membuat orang menjadi pembaca reaktif bukan menjadi pembaca aktif.

“Artinya kita hanya membaca apa yang sudah disodorkan melalui link-link tertentu. Cara membacanya pun sekedar dipindai sekilas. Hanya melihat judulnya saja sudah merasa tuntas. Padahal kedalaman informasi jauh berbeda kualitasnya ketika kita membaca secara utuh. Sementara membaca buku digital kebanyakan dilakukan orang hanya mengambil poin-poinnya saja, tidak membaca keseluruhan informasi, sedangkan buku cetak dibaca secara linear,” lanjut Najwa.

Menurut dia, membaca mempengaruhi kemampuan otak dalam mencerna informasi. Bahkan ada banyak sekali manfaat membaca yang mungkin tidak disadari. Ketika membaca, orang akan punya waktu lebih untuk berpikir. Karena di otak terdapat tombol post yang mampu memahami makna bacaan. Berbeda dengan menonton film atau mendengarkan musik, sel-sel di otak tidak maksimal digunakan.

“Membaca membuat hidup lebih bahagia, sampai-sampai aktivitas membaca dijadikan sebagai sebuah terapi kejiwaan (bibliotheraphy). Di Yunani Kuno dulu, perpustakaan dianggap sebagai tempat menyembuhkan gangguan kejiwaan. Psikiater Sigmund Freud merekomendasikan membaca bagi orang-orang yang mengalami depresi atau gangguan mental. Membaca buku selama enam menit dapat menurunkan level stress dan membuat otot rileks,” ujarnya.

Berdasarkan penelitian, lanjut Najwa, membaca juga membuat orang tidak cepat pikun, karena sel-sel otaknya selalu digunakan. Di samping itu, orang akan mencapai usia 3 tahun lebih lama daripada mereka yang tidak membaca. Penelitian lain menyebutkan, membaca buku lebih dari 3,5 jam per minggu menurunkan risiko kematian sampai 23 persen, sedang membaca buku hingga 3,5 jam per minggu menurunkan risiko kematian hingga 17 persen. Membaca mempengaruhi kemampuan bertahan hidup karena bisa meningkatkan kemampuan kognitif.

“Namun membaca buku jenis fiksi meningkatkan teori pikiran, yakni keyakinan, keinginan, dan niat guna memahami kenapa seseorang melakukan sesuatu atau bagaimana seseorang bertindak. Dengan menyelami tokoh di buku fiksi, kita belajar hidup serta mengalami kehidupan orang lain. Kita bisa lebih memahami emosi orang lain dan ini punya peran penting bagi perkembangan kecerdasan sosial seseorang,” paparnya.

Lebih jauh diuraikan, aktualisasi membaca dapat diwujudkan dengan berbagai bentuk aktivitas. Minimal menulis, misalnya menulis review serta menafsirkan buku bacaan, dilanjutkan menyambung ide dari buku-buku yang pernah dibaca.

“Menulis menjadi output yang mendorong orang mencari lebih banyak buku dan informasi. Selain itu lebih terlatih mengartikulasikan atau menuangkan ide lewat bahan bacaan,” katanya.

Najwa menuturkan, menumbuhkan cinta membaca dan cinta buku dimulai sejak kecil didukung lingkungan keluarga. Keluarga menjadi pondasi utama jika ingin melahirkan generasi membaca, cinta buku dan cinta ilmu. Beruntung dirinya mendapatkan semua itu di lingkungan keluarga gemar membaca dan mencintai pendidikan. Hal tersebut yang membuatnya selalu merasa kurang ketika tidak melakukan kegiatan membaca buku.

“Keluarga peduli membaca perlu memberi contoh teladan pada anak sehingga anak meniru perilaku orangtuanya. Menumbuhkan rasa cinta pada buku bisa dilakukan dengan cara membacakan buku, mendongeng, atau mengajak anak ke perpustakaan atau toko buku. Masa kecil saya, setiap hari Kamis ada jadwal khusus ke toko buku, berlangganan majalah, serta membuat perpustakaan kecil yang diakses oleh tetangga,” sebut Najwa menceritakan pengalaman masa kecilnya.

Disinggung mengenai perpustakaan, Najwa menyampaikan, Perpustakaan bukan tumpukan buku dan bukan sekedar tempat orang mencari buku. Perpustakaan harus bisa menjadi tempat bermain-main secara imajinasi, diskusi atau berdebat sepanjang malam. Perpustakaan menjadi rumah masyarakat dengan membuka peluang beragam pemikiran berbeda. Begitu pun pustakawannya, bila pustakawan tidak mampu menjadi teman bagi setiap orang yang ingin menjelajahi pengetahuan, maka perpustakaan tak lagi relevan terhadap perkembangan.

“Mestinya di perpustakaan selalu ada aktivitas serta kegiatan-kegiatan masyarakat sehingga perpustakaan tidak menjadi sebuah gedung tanpa jiwa. Jiwa perpustakaan itu ditunjukkan oleh pustakawannya. Pustakawan harus punya empati tinggi, up to date, tahu tren di masyarakat sehingga kalau diajak berbincang nyambung,” kata Najwa.

Pustakawan juga harus mampu menjadi sosial media strategis di era media sosial (medsos). Akun medsos perpustakaan berfungsi mempengaruhi masyarakat agar mau datang ke perpustakaan. Spot-spot yang bagus untuk foto atau dianggap menarik dipublikasikan lewat medsos. Termasuk ruangan di dalam gedung perpustakaan dengan desain menarik.

“Perpustakaan up to date adalah perpustakaan yang relevan, tempat dan suasananya nyaman. Orang akan merasa kurang bila belum datang ke perpustakaan. Perpustakaan itu adalah kata kerja bukan kata benda sehingga di perpustakaan jangan sampai minim aktivitas,” pungkas pembawa acara Mata Najwa di salah satu stasiun televisi swasta ini. (Muf)

 


share on: