Museum Jenang GUSJIGANG Mubarokfood, Bangkitkan Kembali Ajaran Mulia Sunan Kudus

share on:
Muhammad Hilmy bersama KH Anwar Sahid || YP-Gigin

GUS Jigang bagi kebanyakan orang bisa jadi hal yang terasa asing. Tapi tidak demikian dengan warga Kudus dan sekitarnya. Gus Jigang merupakan ajaran moral yang menjadi falsafah hidup peninggalan Sunan Kudus.

Gus Jigang merupakan akronim dari baGUS akhlaknya (spriritual), pintar ngaJI (intelektual) dan trampil daGANG (entrepreneurship). Hal ini merupakan  nilai nilai kepribadian muslim yang mengedepankan keutamaan (bagus) akhlak, kedalaman keilmuan (ngaji) dan jiwa kemandirian (dagang).

Melalui filosofi inilah Sunan Kudus menuntun para pengikutnya beserta mesyarakat Kudus menjadi orang-orang yang memiliki kepribadian yang bagus, tekun mengaji dan mau berusaha atau berdagang. Ajaran ini telah membawa pengaruh besar terhadap warna Kudus, khususnya warga sekitar Masjid Menara Al Aqsha.

Gus Jigang sebenarnya ajaran yang sangat mulia. Sayangnya ajaran tentang kemuliaan dunia akhirat ini, mulai terkikis oleh arus zaman. Globalisasi mulai mengubah cara pandang manusia tentang kehidupan. Termasuk warga yang kini lebih banyak mementingkan kehidupan duniawi.

Penampakan Museum Jenang Mubarok yang letaknya strategis di pinggir jalan utama selalu menjadi jujukan para pelancong || YP-Gigin

Pergeseran nilai inilah yang sangat diprihatinkan oleh Direktur utama PT Mubarokfood Cipta Delifia, H Muhammad Hilmy SE. Karena itulah dia merasa terpanggil untuk menggaungkan kembali falsafah kehidupan yang diwariskan Sunan Kudus tersebut. Salah satunya dengan pendirian Museum Jenang Gus Jigang.

Museum Gus Jigang yang dibangun pada 2017, kini sudah menjadi salah satu ikon kota Kudus. Bahkan menjadi destinasi wisata edukasi yang menarik. Pada hari biasa rata-rata kunjungan mencapai 300-500 orang. Jika pada weekend bisa mencapai dua hingga tiga kali lipatnya.

Museum Gus Jigang memang sengaja dibangun dalam rangka mengaktualisasikan nilai-nilai kehidupan yang diajarkan Sunan Kudus. Museum ini bercerita sejarah perjalanan Kudus yang tergambar jelas dari berbagai koleksi yang ada di dalamnya.

“Dari museum ini kami ingin bercerita tentang sejarah Kudus masa lalu hingga sekarang,” kata Muhammad Hilmy, owner Muborakfood, baru-baru ini.

Sebagai seorang pengusaha muslim, Muhammad Hilmy merasa memiliki tanggungjawab untuk terus menanamkan ajaran Sunan Kudus karena selaras dengan nilai-nilai Keislaman. Sunan Kudus mengajarkan tentang keseimbaangan kehidupan di dunia dan akhirat.

“Kita dituntut menjadi muslim yang cerdas yang tawakal dan pinter berdagang,” tutur Muhammad Hilmy.

Alumni fakultas ekonomi UII Yogya tersebut, mengungkapkan bahwa nilai-nilai ajaran Sunan Kudus sangat relevan untuk dijalankan sepanjang jaman. Hanya saja saat ini menghadapi tantangan dengan kemajuan teknologi yang membawa perubahan kehidupan manusia yang makin pragmatis. Apalagi ditambah system ideology ekonomi kapitalis dan liberal yang makin menguasai dunia.

Walau tantangan makin berat, Hilmy demikian ia akrab disapa tak akan mundur selangkahpun dan akan terus melangkah berbagi kebaikan. Lewat perusahaan yang dikelolanya, ia menyebarkan bagaimana mulianya ajaran Islam sebagaimana telah disebarkan para walisongo.

Di museum Gus Jigang bisa disaksikan berbagai miniatur yang terkait dengan sejarah perkembangan Kudus. Dampak positif dari ajaran Sunan Kudus, kota wali dan pesantren tersebut dinilai lebih berkembang dibandingkan dengan kota-kota di sekitarnya di Jawa Tengah. Tolok ukur kemajuan tersebut bisa dilihat dari perkembangan industry dan rumah tinggal dalam bentuk joglo. Rumah joglo dengan ornament khas tersebut diyakini melambangkan kemakmuran warganya.

Beberapa koleksi yang bisa ditemukan di Museum Gus Jigang, antara lain, replica stasiun kereta api, Rumah Joglo, batik, kretek, jenang kudus dll. Khusus Jenang Kudus ditampilkan proses pembuatan secara detil. “Jenang Kudus menjadi salah satu produk yang sudah lama berkembang dan bisa terus bertahan dari generasi ke generasi,” ungkapnya.

Mubarokfood adalah bukti yata perusahaan yang sukses karena menerapkan ajaran Sunan Kudus. Perusahaan ini bisa bertahan hingga ke generasi ketiga karena sejak awal didirikan tahun 1910 silam, telah menerapkan nilai-nilai falsafah Gus Jigang “Inshaallah kami tetap konsisten sampai sekarang,” jelas Hilmy.

Mubarokfood Cipta Delicia merupakan produsen makanan khas jenang dodol terbesar di Jawa Tengah. Usaha ini sudah berusia  seabab lebih, tepatnya 122 tahun. Usia yang tak lagi bisa dibilang muda. Dirintis oleh Hajah Alawiyah sejak 1910 silam.

Awalnya Hajah Alawiyah, sang peristis usaha hanya suka membuat jenang dodol, hanya untuk kebutuhan camilan keluarga dan kadang  berbagi untuk tetangga. Karena banyak yang suka, perempuan tersebut mencoba untuk memproduksinya secara rutin.

Hajah Alawiyah mencoba menjual  jenang dodolnya di Pasar Bubar yang lokasinya berdekatan dengan komplek Masjid Al Aqso yang merukan peninggalan Sunan Kudus. Ternyata produknya laris manis. Karena itulah,ia memproduksi secara rutin dan menjadikan jenang dodol sebagai sumber penghasilan.

Semangat Hajah Alawiyah mengembangkan usaha jenang dodol makin berkobar, tatkala mendapat dukungan penuh dari sang suami. Haji Mabruri sang suami yang sebelumnya menekuni usaha pande besi, mengihklaskan diri untuk menutup usahanya dan memilih membersamai istrinya menggeluti produksi camilan khas daerah tersebut.

Selama berpuluh tahun, suami istri tersebut setiap hari berpeluh keringat untuk mengolah tepung beras dan gula kelapa menjadi produk camilan yang legit. Masih dikelola secara home industry. Belum terpikir badan usaha untuk menjalankan roda bisnisnya. Mereka dibantu tenaga kerja dari tetangga dan sanak family dekat.

Kala itu, jenang dodol made in Hajah Alawiyah hanya dijual dalam timbangan. Dodol yang sudah jadi ditempatkan dalam wadah tampah. lalu dipotong menjai irisan dan  dan ditimbang sesuai permintaan pembeli. Situasi dan kondisi memang belum memungkinkan mereka terpikir untuk membuat kemasan khusus.

Tahun 1936,untuk pertama kalinya mereka mulai memperkenal merk ‘HMR” yang berarti Haji Mabruri. Pembuatan merek ini sebagai bentuk promosi karena saat itu, mulai bermunculan produsen jenang dodol mengikuti jejak mereka.

Sepeninggal H Mabruri  tahun 1940an, usaha jenang dodol dilanjutkan oleh putranya yang bernama H Achmad Shochib. Ditangan generasi kedua ini mulai muncul beberapa ide kreatif dan  inovasi yang membawa kemajuan usaha secara signifikan. Hal ini seiring dengan kesadaran akan pentingnya penggunaan merek dagang yang mulai tumbuh.  Mereka memperkenalkan nama usaha Perusahaan Jenang Sinar Tiga Tiga (PJ Sinar Tiga Tiga).

Sebagai catatan penting, memasuki fase generasi kedua mulai muncul kesadaran untuk melindungi merek dagang. Ini pemikiran yang bisa dibilang sangat visioner. Ketika masa penjajahan masih berlangsung di negeri, merupakan hal yang langka ada pengusaha mengajukan hak paten. Dan itu dilakukan H Achmad Shochib.

Tahun 1942 merupakan catatan penting dalam sejarah perusahaan jenang ini. Pada tahun ini, H. Achamd Shochib mengajukan merek Sinar Tiga Tiga dan dikabulkan oleh Dirjen Merk dan Paten Departemen Kehakiman dengan dikeluarkannya surat izin nomor : 188.4/1651/1946 tertanggal 9 September 1946, sampai sekarang ini terus dilakukan perpanjangan, untuk saat ini merek Sinar Tiga Tiga masih terdaftar di Departemen Kehakiman Republik Indonesia Direktorat Jenderal Hak Cipta, Paten, dan Merek dengan nomor: D98-11702-424554.

Pasca kemerdekaan, di Kudus mulai bermunculan pengusaha jenang lain. Namun demikian, pamor jenang Sinar Tiga Tiga tetap moncer dan menjadi pilihan penggemar makanan tradisional tersebut.

Menghadapi persaingan bisnis yang mulai terasa, H. Achmad Shochib memunculkan jurus untuk  meluncurkan merek lain di pasaran. Tahun 1975, ia meluncurkan tiga merek baru yakni Mubarok, Mabrur, dan Viva.

Ternyata ketiga merek baru tersebut mendapatkan respon positif market. Hal ini terlihat dari peningkatan penjualan. Disisi  lain, mulai muncul pengusaha yang nakal yang menghalalkan cara yang tidak etis. Ini terlihat dengan munculnya pembajakan atas merek yang dimiliki H. Achmad Shocib. “Banyak yang meniru merek kami khususnya yang Mubarok,”ungkap Hilmy.

Pada tahun 1992, H Achmad Shochib yang telah lanjut usia memberikan kepercayaan kepada salah satu putranya Muhammad Hilmy SE untuk memegang kendali perusahaan. Ditangan generasi ketiga inilah, bisnis keluarga ini  mulai dikelola dengan manajemen modern.

Hilmy melakukan tranformasi total terhadap usaha yang diwariskan dari neneknya. Perusahaan mulai ditata dengan manajemen yang lebih baik.  Agar perusahaan gesit dalam melangkah, ia mendirikan badan usaha CV. Mubarokfood Cipta Delifia. Dalam perkembangannya badan hukum perusahaan diubah menjadi perseroan terbatas. “Dulu tidak ada nama usaha yang jelas, yang penting asal jalan,” ungkap alumni `fakuktas Ekonomi UII tersebut.

Singkat cerita, Hilmy mulai menata perusahaan dengan manajemen yang diyakini bisa membawa lompatan besar. Ia mulai mengenalkan nilai-nilai dan misi visi perusahaan. Semua lini dari produksi, ditribusi marketing dijalankan dengan standar operation presedur (SOP) yang jelas.

Hilmy juga mulai menerapkan standar manajemen mutu dengan melibatkan lembaga yang kompeten dan kredibel. Sebagai buktinya perusahaan telah meraih serfitikat ISO, label halal dari LPPOM MUI dan sertifikat keamanan pangan dari Hazard Analysis and Critical Control Point (HACCP). “Untuk melindungi merek kami juga sudah punya hak paten” tutur lulusan Pondok Modern Gontor ini.

Pada tahap awal memegang kendali perusahaan, salah satu yang menjadi perhatian Hilmy adalah masalah yang terkait dengan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Karyawan yang bergabung di Mubarokfood harus memenuhi kriteria kreatif, inovatif, profesional dan amanah. “Kami ingin menciptakan manajemen yang yang professional dan bersih, karena itulah amanah menjadi syarat wajib yang harus dipenuhi. “ ungkapnya.

Untuk mendukung kinerja perusahaan yang lebih, Hilmy menggelontorkan dana untuk melakukan modernisasi peralatan produksi. Proses mekanisasi dijalankan untuk mengurangi ketergantungan tenaga manusia, seperti dalam proses pembuatan tepung dan santan.

Demi menjamin kualitas produk, perusahaan juga membuka unit kerja baru yakni divisi R & D (research and development yang dilengkapi dengan fasilitas laboratorium fisika dan kimia. Keberadaan R & D ini dirasakan sangat penting untuk mendukung jaminan keamanan produk yang dihasilkan Mubarokfood.

Dengan tranformasi yang dijalankan, Mubarokfood menunjukkan kinerja yang jauh lebih baik. Dengan berbagai strategi marketing yang dijalankan, perusahaan ini tidak lagi hanya menguasai pasar lokal, tapi sudah menembus pasar international.

Melalui kerjasama dengan beberapa maskapai penerbangan, produk jenang dodol Mubarokfood sudah melanglang buana di berbagai benua. Awalnya produk Mubarokfood digunakan menjadi snack bagi calon jamaah haji di Jawa Tengah. Dari sini berkembang menjadi snack bagi penumpang pesawat Garuda. “Dari sini mulai ada permintaan untuk eskport,” papar Hilmy. (Gigin)

 


share on: