Mikke Susanto Pamerkan 546 Koleksi Poster Pameran Seni Rupa Indonesia

share on:
Pengunjung tampak antusias menikmati pameran poster || YP/Yuliantoro

Yogyapos.com (BANTUL) - Gagasan pameran dengan menyajikan koleksi arsip seni mungkin sudah banyak dilakukan. Sejumlah kolektor pribadi maupun lembaga kerap menyajikan koleksinya dalam pameran yang berupa materi artefak, karya, atau benda fungsional maupun non fungsional. Pameran poster pun pernah dilakukan di sejumlah kota di seluruh dunia. Bahkan kini telah muncul museum poster seni di New York. Kali ini berbeda yang dilakukan Kurator Kenamaan Indonesia, Dr Mikke Susanto.

Mikke Susanto yang juga dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, sejak Rabu  (22/1)  malam menggelar pameran koleksi poster pameran seni rupa di Tembi Rumah Budaya, Sewon, Bantul Yogyakarta. Kegiatan yang bertajuk  ‘Masa Lalu Belumlah Usai’ yang berlangsung hingga 2 Februari 2020 ini, merupakan pameran poster pertama di dunia yang menyajikan poster pameran seni rupa Indonesia.

Dalam pameran ini tersaji 546 lembar poster pameran seni rupa Indonesia yang berasal dari tahun 1974-2019. Semua poster yang dipamerkan otentik dan orisinal. Otentik diasumsikan bahwa poster-poster ini dipakai sebagai publikasi resmi dalam setiap gelaran pameran seni rupa. Orisinal diartikulasi bahwa poster ini asli berasal dan dibuat oleh perupa, baik teknik sablon (silkscreen), stensil, cetak offset, dan cetak digital. Bukan dicetak ulang atau reproduksi, bahkan sebagian diantaranya ditandatangani langsung oleh si empunya.

Lebih lanjut Mikke yang juga Kurator Istana Kepresidenan tersebut menjelaskan, selain belum populernya pameran bermaterikan poster pameran seni rupa, kategorisasi poster di atas tampak meniadakan posisi dan peran poster pameran seni rupa. Nyaris sulit melacak keberadaan wacana berupa tulisan akademik maupun buku mengenai poster pameran seni rupa secara komprehensif. Karena itulah pameran ini menyajikan poster pameran seni rupa sebagai materi utama dan dapat digunakan untuk memulai kajian. Mungkin terasa eksklusif, tetapi tidak mengapa, justru itu daya tariknya.

“Poster pameran seni rupa selama ini belum disadari sebagai benda koleksi. Di Indonesia, poster pameran hanya dikoleksi beberapa orang atau lembaga saja. Itupun lebih berfungsi sebagai instrumen manajemen

pameran semata. Ketika pameran berakhir, poster dilupakan. Sesudah ditempel di papan pengumuman, poster dibiarkan diterpa angin dan air, panas dan hujan, atau ditumpuk oleh poster yang baru. Dan tepat disaat pembersihan papan pengumuman, poster sering disobek lalu berakhir di tempat sampah. Kisah poster pun berakhir,” ujar pria kelahiran Jember 1973.

Staf pengajar Prodi Tata Kelola Seni ISI ini juga mengatakan, sebagai sebuah upaya pengarsipan, pameran ini menjalani “tugas” lain yang agak berbau “politis”, yakni enggan untuk menyerah, tak pernah merasa usai, sekaligus (terus) melawan lupa. Di samping itu, berupaya pula untuk tetap menghidupkan masa lampau, serta menggulirkan kepedulian publik atas informasi yang telah hadir sebelum hari ini yang bertebaran di sekitar kita. Hal ini untuk menunjukkan bahwa poster adalah “anak-anak zaman” yang penting.  “Meskipun poster mungkin masih kalah posisi dengan benda koleksi lain, namun jangan lupa, poster pameran memberi jalan untuk memahami sejarah (hidup dan karya) para perupa. Untuk itu pameran ini secara perlahan juga memberi jalan agar poster tidak dilupakan, dan tetap diartikulasi sebagai buah tangan sang seniman, berdampingan dengan karya-karya seni mereka.”

Dalam pameran ini ada beberapa poster yang ditandatangani langsung oleh para seniman. Sehingga dapat dianggap fungsinya beralih dari sarana publikasi beralih sebagai benda koleksi yang berharga.

Poster-poster ini juga beralih fungsi semula sebagai informasi publik ke informasi sejarah.

Mikke mulai sadar dan menyukai poster pameran saat kuliah di S-1 Jurusan Seni Murni, ISI Yogyakarta. Sejak kuliah hinga sekarang, upaya pengoleksian poster tetap dilakukan. Pengoleksian memang tidak sepenuhnya konsisten, mengingat spirit dan mood yang turun naik. Kadang rajin, kadang malas dan lupa.

Oleh karena itu wajar bila terdapat banyak poster yang terlewat untuk dikoleksi.

Pengoleksian poster awalnya lebih karena melihat desainnya yang menarik hati. Sayang bila poster tersebut lenyap ditelan zaman. “Alhamdulillah pameran ini akhirnya tergelar. Ini karena tuntutan kerja kurasi yang menantang dan kesempatan ruang-waktu telah terbuka. “

Pekerjaan memungut, mengais, memulung poster dilakukan secara manual dengan mengambil langsung dari papan pengumuman, mendapat sumbangan dari perupa/lembaga, serta memesan pada sejumlah art space dan sebagian lainnya dengan membeli. Sumbangan  dari  perupa  pun  tidak  semata-mata  merupakan poster pameran diri perupa tersebut. Ada juga sumbangan dari pelukis yang mewariskan koleksi “poster”-nya ke putra semata wayangnya.

Dalam pameran ini dapat disaksikan sejumlah poster lawas (era 1970-80an) yang masih lestari, seperti pelukis dekoratif Irsam (alm) dan putranya Ernanta Item. Koleksi poster ada “Asean Mobile Exhibition Art and Photography Kuala Lumpur Singapore, Jakarta, Manila, Bangkok” di Taman Ismail Marzuki & Balai Budaya Jakarta (April 1974), Pameran Lukisan Tunggal Affandi di Taman Ismail Marzuki Jakarta (Agustus 1974), dan Pameran Seni Grafis Bandung di Lembaga Indonesia Amerika Surabaya (Oktober 1974). Adapun koleksi termuda adalah poster Pameran Tunggal Togi Mikkel bertajuk “Marsitogian” di Kebun Buku Yogyakarta (Desember 2019). (Tor)


share on: