Mbah Wardi, Setengah Abad Tak Beranjak dari Genteng Kripik

share on:
Mbah Wardi selalu enjoy menekuni pekerjaannya sebagai pengrajin genteng kripik sejak 1970-an || YP-Supardi

GENTENG kripik, demikian masyarakat menyebut hasil kerajinan tanah liat yang digunakan untuk atap rumah zaman lampau. Seiring perkembangan zaman, kini genteng kripik boleh dibilang langka atau tidak banyak lagi digunakan masyarakat untuk atap rumahnya.

Pergeseran penggunaan genteng ini mulai terlihat sejak sekitar 1980. Rumah-rumah penduduk, apalagi gedung-gedung perkantoran beratapkan genteng produksi pabrikan modern. Diantaranya jenis genteng aspal yang merupakan perpaduan sera kayu bercampur aspal, genteng beton, genteng metal, genteng kaca, geneng keramik, genteng seng, asbes, hingga genteng kanopi baja ringan dan genteng sirap Kayu Ulin.

Kondisi demikian berakibat pada berkurangnya pengrajin genteng keramik diberbagai daerah. Jumlah pengrajin genting keramik di beberapa daerah biasanya tak lebih dari hitungan jari di tangan kanan ata kiri kita.

Demikian pula di wilayah Kabupaten Bantul, hanya ada satu atau dua pengrajin genteng kripik.

Mbah Wardi (70) adalah salah satu pengrajin genteng kripik, di Dusun Polsiyo, Poncosari, Srandakan, Bantul. Meski zaman telah bergerak maju dan model pembangunan juga menuntut perubahan pemanfaat genteng modern, tapi ia tetap menjalani usahanya memroduksi genteng kripik.

Sejak muda, atau hampir setengah abad nenek ini menekuni pekerjaannya tanpa keluh kesah, melainkan iqtiqomah berharap berkah. Dan ternyata ada saja konsumen yang pesan atau datang membeli hasil kerajinannya.

“Sejak 1970. Ya tahun-tahun itu saya mulai membuat genteng kripik,” ucapnya kepada yogyapos.com, Selasa (15/12/2020).

Wardi adalah nama suaminya. Karena itu ia lebih dikenal Mbah Wardi. Sedangkan nama aslinya banyak yang tidak tahu. Dan yogyapos.com yang bertandang siang itu, juga tak berhasil mengetahui siapa nama asli nenek perkasa ini.

Mbah Wardi mengaku masih beruntung diberkasi usia panjang dan kesehatan. Sehingga setiap hari sanggup mengelola usaha ekonomi pembuatan genting kripik warisan almarhum suaminya.

Bahkan anaknya Rahmat (48), menantunya Darinem (44) dan cucunya Panji (15) ikut membuka usaha yang sama. Mereka saling bahu membahu jika ada pesanan dalam jumlah banyak.

Pesanan jumlah banyak? Ya, ternyata di seiring modernisasi masih ada sela atau ruang katestran masyarakat berduit bernostalgia mendirikan bangunan masa lampau semacam pendopo atau rumah dan bangunan tempo doloe. Bangunan-bagunan tersebut disesuaikan aslinya, yaitu menggunakan genteng kripik. Celah inilah yang mendatangkan rezeki bagi Mbah Wardi dan ketiga anaknya, karena dengan demikian pesanan pun datang padanya dalam jumlah banyak.

Genteng kripik ini berbahan dasar tanah liat yang kemudian dibersihkan dan dicampur pasir halus non kerikil. Adonan bahan dasar ini selanjutnya dicetak menggunakan alat pencetak tradisional dan dikeringkan dengan cara dijemur, sebelum akhirnya dibakar menggunakan perapian secukupnya.

Dari proses tersebut, Mbah Wardi mengaku setiap hari sanggup memroduksi 250-300 unit genteng kripik, plus 50-75 jenis Wuwung yang ukurannya lebih besar alias jumbo. Harga 1 unit genteng kripik Rp 900. Jika pesanan mencapai seribu unit maka tinggal dikalikan saja, yakni Rp 900.000.

Setiap 1.000 genteng kripik membutuhkan ongkos produksi Rp 400.000. Sehingga jika terjual 1.000 unit, berarti ia memperoleh keuntungan Rp 500.000. “Nggih semanten keuntunganipun menawi wonten ingang pesen ngantos sewu (ya sejumlah itu keuntungannya kalau ada yang pesan mencapai 1.000 unit), Rp 500.000,” tuturnya sembari melanjutkan memasukan tanah liat ke dalam kotak pres tradisional.

Mbah Wardi agaknya tipe pekerja keras dan optimis. Buktinya sudah hampir setengah abad ia bertahan sebagai pengrajin genteng kripik. Tak bergeser ke usaha lain walau diterpa gelombang modernitas.

Optimismenya dikuatkan dengan keyakinan bahwa apa yang digeluti akan tetap memiliki peminat atau konsumen. Selain pemanfaatan genteng kripik oleh masyarakat kini cenderung untuk mendirikan bangunan nostalgik dan klangenan, namun Mbah Wardi tetap selalu meyakinkan bahwa genteng tradisional ini memiliki kualitas yang prima. Selain enteng, juga tahan boocor dan relatif tahan api. Itu sebabnya, ia tetap memroduksi hingga kini, dan sampai kapan. (Supardi/Met)  

 

 

 


share on: