WABAH Corona Virus Disease (Covid-19) yang terjadi sejak dua tahun lalu, menghantam seluruh sendi perekonomian. Sektor property turut terkena imbas karena lesunya permintaan. Tak terkecuali di DIY, di mana permintaan turun separuhnya.
Pada akhir 2021, Ketua DPD Real Estate Indonesia (REI) DIY, Ilham Muhammad Nur, seperti dilansir lama suarajogja.id menyatakan bahwa permintaan property menurun hingga 50 persen di saat pandemi. Namun, geliat bisnis sektor ini tidak berhenti.
BACA JUGA: https://yogyapos.com/berita-bawaslu-ingatkan-kpu-agar-terbuka-dalam-tahapan-pemilu-2024-9380
Pembangunan perumahan, terutama untuk tipe 36 hingga 50 masih terus tumbuh. Wilayah DIY bagian barat menjadi magnet tersendiri karena hargaa tanah di kawasan ini masih dianggap realistis sehingga harga perumahan yang ditawarkan masih bias dijangkau masyarakat DIY atau masyarakat luar yang punya hubungan dengan Yogyakarta.
BACA JUGA: https://yogyapos.com/berita-kalurahan-banguntapan-segera-operasikan-tpst--9379
Geliatini pula yang dilihat PHI Home Indonesia. Start up perbaikan rumah yang berbasis di DIY ini melihat peluang besar dibalik geliat pertumbuhan properti di DIY. Logika sederhananya, setiapada pembangunan pasti membutuhkan perawatan, dan di situlah PHI Home hadir.
Perhitungan bisnis PHI Home memang tidak main-main. Didukung tenaga kerja berpengalaman dengan back up penuh dari induk perusahaannya PT Pradipta Bhumi Konstruksi, PHI Home nyatanya mampu member kemudahan bagi konsumen yang membutuhkan jasa perbaikan atau maintenance rumahnya.
BACA JUGA: https://yogyapos.com/berita-jamharis-pensiun-agus-budiraharja-mkes-menjabat-sekda-bantul-9366
Ika Santika, warga yang tinggal di Perumahan Soto Sawah menceritakan pengalamannya menggunakan jasa PHI Home. Awalnya, ia mengaku hanya coba-cobasaatsanyo di rumahnya mati. Pesanan jasa layanan dilakukan melalui WhatsApp dan tidak lama direspons dengan datangnya petugas yang melakukan survei.
“Ada yang survey sama tukangnya juga, dicek kebutuhannya apa saja, disampaikan ke saya apa saja itemnya, langsung diperbaiki sesuai kesepakatan,” ucapnya.
BACA JUGA: https://yogyapos.com/berita-man-4-bantul-segera-memiliki-masjid-20-siswa-terima-beasiswa-9375
Dia mengaku cukup terbantu dengan kehadiran PHI Home, selain cepat, biayanya murah, pekerjanya juga ramah. “Dulu awalnya baru ada WhatsApp saja, sekarang sudah lebih mudah karena bisa download aplikasinya,” terangnya lagi.
Anung Wijianto, Direktur PHI Home menegaskan bahwa segmen market start up yang dipimpinnya memang menyasar kelas menengah ke bawah, dengan begitu biaya yang ditawarkan pun dibuat seringan mungkin agar dapat dijangkau masyarakat.
Diakuinya, animo masyarakat sangat baik dan membuat prospek perusahaan kian cerah. Tren pertumbuhan konsumen mengalami peningkatan signifikan, khususnya untuk wilayah DIY. Kondisi itu tak lepas dari totalitas dan soliditas tim yang rata-rata masih muda.
“Kami memang mengandalkan tenaga muda untuk mem-back uptenaga yang lebihmatang dan berpengalaman. Yang muda kami andalkan untuk mengakomodir kebutuhan konsumen yang ingin serba cepat, serba praktis dan efisien, sedangkan yang berpengalaman sangat penting untuk mempertahankan kualitas sekaligus membimbing tenaga yang lebih muda,” bebernya.
BACA JUGA: https://yogyapos.com/berita-rsps-bantul-peroleh-penghargaan-bintang-5-9365
Klaim ini tampaknya bukan hanya isapan jempol. Perusahaan ini tengah bersiap melakukan ekspansi market ke wilayah sekitar. Solo, menjadi wilayah pertama yang menjadi target ekspansi pasar PHI Home. Perusaahaan mengklaim sudah memiliki kalkulasi bisnis matang untuk bermain di wilayah ini.
Okkie Hartriatna, staf Public Relation PHI Home menjelaskan penjajakan market sudah dilakukan sejak tahun lalu. Beberapa project sudah mulai dikerjakan di wilayan yang sempat dipimpin Presiden RI, Joko Widodo ini.
BACA JUGA: https://yogyapos.com/berita-pemkabbnn-sleman-bersinergi-canangkan-kalurahan-bersinar--9359
“Kita sudah mulai masuk sebenarnya dan responsnya cukup baik. Kami cukup optimistis market kami nanti bias tumbuh sebaik di Yogyakarta. Kami memiliki sistem yang sudah berjalan baik, sehingga standar yang ada di Yogya maupun di daerah lain, akan sama,” tegasnya. (Zuriati, Mahasiswa Magister Manajemen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta)
