Korban Arisan Online 'Hoki' Unjukrasa di PN Bantul

share on:
Mahendra Handoko SH berbicara atas nama 17 kliennya dalam aksi unjukrasa di PN Bantul, Kamis (10/6/2021) || YP-Ismet NM Haris

Yogyapos.com (BANTUL) - Meski mengaku merasa ditipu, tapi belasan Emak-emak memilih jalur perdata dengan mengajukan gugatan perbuatan melawan hukum terhadap GP selaku penyelenggara arisan online ‘Hoki’. Tuurut menjadi Tergugat II dalam perkara ini yakni DT selaku suami GP yang disebt-sebut sebagai anggota DPRD Bantul.

Sidang perdana digelar di PN Bantul, Kamis (10/6/2021), hanya berlangsung singkat tanpa kehadiran GP (Tergugat I) maupun DT (Tergugat II). Usai sidang para Emak-emak itu menggelar unjukrasa mengusung sejumlah poster intinya menuntut keadilan hukum dan peratanggungjawaban Tergugat.

Dari keterangan para Penggugat diketahui arisan ‘Hoki’ ini berlangsung sekitar 2 tahun lalu. Tergugat I selaku penyelenggara atau Owner menawarkannya melalui grup WhatsApp. Kemudian membuka Get atau room penyelenggaraan arisan online dengan sejumlah slot. 1 Get senilai Rp 20 juta bisa diikuti 10 peserta atau 10 slot. Peserta dikenai biaya administrasi dan pembayaran pasok kewajiban sebagai peserta yang jumlahnya bervariasi tergantung urutannya.

Arisan ini semula berjalan biasa, lancar dan sebagian peserta sudah sempat memperoleh hasilnya. Tapi kemudian terjadi kemacetan, tak pernah menerima lagi.

“Saya mengikuti sejak April 2020. Tapi mulai Desember 2020 tidak lagi menerima pencairan. Dan ternyata teman-teman lain juga mengalami hal yang sama,” ujar Ayu alias Mya dalam wawancara saat unjukrasa di halaman PN Bantul.

Nasib nahas Ayu juga dialami oleh belasan peserta lain. Sehingga mereka bersama-sama minta pertanggung jawaban terhadap GP. Beberapa kali dihubungi di rumahnya, dan sempat menyatakan akan menyelesaikannya. Janji demikian juga disampaikan DT selaku suaminya.

“Tapi sampai sekarang tak ada itikad untuk menyelesaikan. Sulit dihubungi. Makanya kami mengajukan gugatan, menuntut uang kami kembali,” tegas Ayu yang mengaku kehilangan uangnya puluhan juta akibat ulah GP.

Disebutkan, GP selaku owner arisan ini juga ikut sebagai peserta, bahkan sejumlah room atau gate yang diadakannya. Patut diduga pula ada peserta fiktif yang dipasang di urutan-urutan awal. Mereka memperoleh pencairan lantas tidak lagi melanjutkan kewajibannya.

Dengan harapan memperoleh kembali haknya, para Emak-emak memilih mengajukan gugatan perdata dengan tuntutan ganti rugi materiil Rp 1 Miliar.

“Perbuatan tergugat masuk kategori perbuatan melawan hukum. Kami berharap majelis hakim nantinya memroses gugatan 17 klien ini seadil-adilnya,” ujar Mahendra Handoko SH selaku kuasa hukum Penggugat saat mendampingi aksi unjukrasa kliennya.

Ia juga menyatakan akan melayangkan surat ke Mahkamah Agung (MA) agar proses hukum kasus ini tidak terintervensi oleh siapa pun. Penggugat bukan hanya dari wilayah DIY saja, melainkan ada yang dari Cilacap dan Banjarnegara. Sementara itu sidang akan digelar kembali pada Kamis pekan depan. (Met/Spd)


share on: