Yogyapos.com (YOGYA) - Warga Sagan yang terdiri dari Kampung Sagan Kelurahan Terban, Gondokusuman, Yogyakarta dan Kampung Sagan Caturtunggal Padukuhan Sagan, Caturtunggal, Depok, Sleman, melaksanakan acara Adat Kirab Budaya Nyadran Kampung Sagan, Minggu, (10/03/2024) pukul 08.30-12.00 WIB.
BACA JUGA: Bocah Balita Tenggelam di Sungai Berhasil Ditemukan
Acara yang melibatkan kurang lebih 600 orang bertajuk ‘Mikul Dhuwur Mendhem Jero bagian dari rangkaian kegiatan bersih Makam Reso, Makam Purbo, Makam Carang Soka, Makam Bendho pada 3 Maret 2024. Selain kirab budaya, juga dilakukan Nyekar Bareng, Kajian Nyadran, Doa Bersama, Kenduri.
Keceriaan mewarnai wajah-wajah warga Sagan usai kirab budaya || YP-Markus Teguh
Hadir dalam acara ini Agus Herayanto Selaku KetuaKampung Sagan Kota Yogyakarta dan Muh Dimyati PJ Dukuh Sagan Kalurahan Caturtunggal Kapanewon Depok,Sleman,Babinsa dan Babin Kamtibmas Kalurahan Terban.
BACA JUGA: Kirab Budaya Nyadran Warga Sagan Kota Yogya dan Sleman Berlangsung Meriah
Kirab budaya diawali dengan pelepasan burung merpati. Kirab mengusung Gunungan Apem, Gunungan Sayurdan, Gunungan Buah serta berbagai makanan mulai dari Ingkung, tumpeng dan jajanan jadul.
Gunungan berisi jajanan jadu || YP-Markus Teguh
Agus Herayanto dalam sambutanya menyatakan sangat berbahagia Kampung Sagan masih memiliki tradisi leluhur yang dilestarikan sampai sekarang, serta melibatkan Kampung Sagan yang ada di kota Yogyakarta dan Kampung Sagan yang ada di Sleman. “Keunikan tersendiri 2 Kampung yang berada di wilayah Kabupaten dan Kota Madya Yogyakarta. Dan tradisi ini akan seterusnya dipertahankan dan dilestarikan,” tandasnya.
BACA JUGA: 4 Orang Diboyong ke RS Akibat Ledakan Mercon, di TKP Ditemukan Bercak Darah
Sementara itu, Nirmala selaku Ketua Panitia mengatakan bahwa maksud diadakannya tradisi nyadran tersebut sebagai bentuk upaya Nguri-uri tradisi leluhur serta meletarikan budaya yang adiluhung agar kedepan bisa dikemas lebih baik lagi, juga sebagai upaya mendoakan para leluhur yang telah meninggal dunia.
Salah satu gunungan yang dikirab || YP-Markus Teguh
“Adat tradisi nyadran tidak hanya melibatkan umat yang beragama Islam saja, tetapi pemeluk agama lain juga terlibat. Dalam tradisi nyadran mengandung nilai-nilai budaya dan kebersamaan, dengan tradisi nyadran pula diharapkan akan terpupuk rasa kebersamaan dan meningkatkan kerukunan umat beragama,” jelasnya.
Nampak hadir di acara ini para Suster Rumah Sakit Panti Rapih mewakili umat Katholik, Tokoh agama Kristen Protestan dan Tokoh Umat Hindu dengan melakukan Doa Bersama Lintas Agama.
Gunungan hasil tanam (sayuran) || YP-Markus Teguh
Kedepan, tambah Nirmala, tradisi nyadran akan dikemas lebih menarik lagi, misalnya dengan beberapa hiburan rakyat dengan potensi yang dimiliki warga kampung Sagan, dan tidak tertutup kemungkinan melibatkan kesenian dari masyarakat sekitar kampung Sagan. (Markus Teguh)
