Yogyapos.com (SLEMAN) - Peringatan Hari Ulang Tahun ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia merupakan momentum untuk refleksi tentang makna kemerdekaan yang sesungguhnya, termasuk dalam aspek pangan. Isu kedaulatan pangan saat ini menjadi semakin relevan karena petani lokal masih menghadapi tantangan dalam akses pasar, harga, dan keberlanjutan produksi.
Demikian benang merah Sarasehan Menapak Kemerdekaan Menuju Kedaulatan Pangan yang digelar di Agro Mulya Cangkringan, Sabtu (23/8/2025) siang. Sarasehan dan workshop kreasi pangan lokal ketela diikuti 30-an peserta dari kalangan kaum muda di Yogyakarta.
BACA JUGA: Jumhur Hidayat: KSPI Tidak Ikut Aksi 25 Agustus
Dalam paparannya Ketua Lumbung Pangan Masyarakat Ngasem Plembutan, Playen, Gunung Kidul Agus Wahid Cahyanto memaparkan latar belakang sejarah berdirinya lumbung dan dinamika perkembangannya."Gunung Kidul dulu identik dengan kemiskinan, tanah kering, gaplek dan sulit air. Simbah-simbah kami mencoba mengolah tanah dengan tanaman yang sesuai dengan kondisi lahan. Saat krisis pangan tahun 1960-an, mereka sudah memikirkan lumbung sebagai media sedekah pangan. Semula mereka sedekah ketela atau gaplek. Kini telah berubah menjadi padi atau beras,” tandasnya.
BACA JUGA: Dusun Sumberwatu Launching Sanggar Seni, Investasi Mencetak Generasi Penjaga Peradaban
Masing-masing RT, lanjutnya, membuat lumbung untuk meng-cover kebutuhan pangan. "Sisanya digunakan untuk mencukupi kebutuhan bagi pembangunan, termasuk pembangunan sarana prasarana pertanian, jalan dan penyediaan layanan wifie gratis", papar anak muda yang cekatan ini.
Sarasehan ketahanan pangan || YP-Ist
Sedangkan Wahjudi Djaja dari Pokja Ketahanan Ekonomi Badan Kesbangpol DIY mengelaborasi ketahanan pangan sebagai bagian social savety net yang berakar sejarah dan menjadi karakter utama kohesi sosial masyarakat pedesaan.
BACA JUGA: Pasutri asal Bantul Sukses Gerakkan Roda Perekonomian dari Batok Kelapa
"Ada beberapa pada relief candi yang menggambarkan pola hidup pertanian dengan lumbung sebagai pilar penting. Jika kita masih mau menyandang predikat bangsa agraris, orientasi pembangunan kita harus dibenahi termasuk kembali ke karakter lokalitas. Yang kita hadapi raksasa perekonomian yang menempatkan pertanian sebagai ruang eksploitasi. Dan ini esensi perjuangan kita sekarang", ungkapnya.
Sebagai langkah awal, imbuh Ketua Umum Keluarga Alumni Sejarah UGM (Kasagama) ini, antara lain selamatkan sendang, tuk, dan sumber air. "Jangan sampai mata air dikuasai asing karena ini vital bagi kehidupan. Selain itu, hidupkan kembali budaya agraris berbasis kearifan lokal, bangun simpul dan jejaring sosial agraris, serta libatkan partisipasi masyarakat termasuk sekolah pertanian alam seperti Agro Mulya ini,” jelasnya.
BACA JUGA: PN Sleman Kabulkan Praperadilan, Advokat Chrisna Harimurti Apresiasi
Sementara itu kepada yogyapos.com pengelola Agro Mulya, Wahyu Purwandono, menjelaskan output yang diharapkan dari workshop dan sarasehan ini antara lain meningkatnya kesadaran peserta tentang pentingnya kedaulatan pangan.
"Dari kegiatan ini diharapkan teridentifikasi tantangan dan peluang kedaulatan pangan di tingkat lokal. Dari situ muncul komitmen individu maupun komunitas untuk mengonsumsi dan mendukung pangan lokal", pungkas alumni Fakultas Pertanian UGM yang membuka lahan sejak 2019 ini.
BACA JUGA: PT Ide Studio Indonesia Komitmen Selesaikan Tunggakan Gaji Secara Bertahap
Sebelum sarasehan diadakan Workshop Kreasi Pangan Lokal. Peserta belajar membuat olahan pangan berbasis singkong (perkedel singkong, cemplon, sawut). Hasilnya dinikmati bersama sambil mengikuti sarasehan kedaulatan pangan.
Di lahan ini Wahyu menanam beragam jenis sayuran dengan pola tanam bergilir. Dengan mengambil falsafah "Tunggak Semi Merapi", dia mencoba membumikan ilmunya di lahan pertanian organik Agro Mulya, di Dukuh Panggung, Kalurahan Argomulyo, Kapanewon Cangkringan, Sleman. (Iud)
