Kasus Pembunuhan di Pakem Tahun 2013 Mulai Disidangkan di PN Sleman

share on:
Di Gedung ini terdakwa kasus penganiayaan yang menyebabkan korban tewas Srt Utami digelar || YP-Agung DP

Yogyapos.com (SLEMAN) - Kasus penganiayaan yang mengakibatkan korban tewas Sri Utami, di Pakem, Rabu (24/3/2021) mulai disidangkan di PN Sleman. Terdakwa dalam kasus ini ERB (40) didampingi pengacaranya, Nathalia Tri Wahyuningsih SH.

Dalam sidang perdana ini jaksa penuntut umum Hanifah SH menjerat terdakwa dengan dakwaan alternatif Pasal 340 KUHP, Pasal 338 KUHP dan Pasal 351 ayat (3) KUHP

Diungkapkan jaksa, peristiwa tersebut terjadi pada 2 Februari 2013 sekitar Pukul 14.15 WIB, di Kebon Salak, Kalurahan Candi Binangun Pakem Sleman. Sebelum peristiwa terjadi, terdakwa janjian dan menrmui korban Sri Utami berangkat kostnya, Mrican Giwangan, Umbulharjo Yogya.

Terdakwa kemudian memboncengkan korban menggunakan sepeda motor Bajaj Type Pulsan menuju kawasan Malioboro.

Esok harinya berangkat menuju Makam Mbah Marijan, di Cangkringan. Kemudian melanjutkan perjalanan keliling ditempat wisata lereng Merapi hingga pukul 12.00 WIB.

Lanjut JPU, pada saat ngobrol itu terjadi cekcok antara terdakwa dengan korban karena korban mengaku dirinya banyak disukai laki-laki. Terdakwa tersinggung, sakit hati, emosi pada korban.

Terdakwa selanjutnya pura pura mengajak pulang korban sengaja melewati tempat sepi dan menghentikan kendaraannya di perkebunan Salak. Dalam jeda itulah terdakwa menanyakan lagi terkait pernyataan korban yang disukai banyak laki-laki.

Cekcok kembali terjadi. Korban melawan kata-kata terdakwa sambil berdiri berhadapan dan menampar terdakwa sebanyak 1 (satu). Mendapat perlakuan seperti itu, terdakwa naik pitam mencekik leher korban menggunakan kedua tangannya sekuat tenaga dan membentur kepala korban ke batu besar.

Korban masih melawan, sehingga terdakwa semakin emosi membenturkan korban ke batu besar sebanyak 2(dua) kali, sehingga korban mengeluarkan darah dari hidung dan mulutnya. Meski demikian terdakwa masih menyeret tubuh korban ke dalam kebun Salak berjarak 15 meter dari jalan.

Kondisi korban saat berada di kebun salak itu kejang dan tidak bersuara, tapi oleh terdakwa justru diinjak sebanyak 4 kali hingga tewas. Mayatnya ditutup pelepah daun Salak dan ditinggalkan begitu saja oleh terdakwa, sebelum akhirnya ditemukan oleh warga setempat.

Kasus ini semula cukup misterius. Sebab tak ada identitas formal pada diri korban. Namun berkat keuletan polisi, kasus tersebut akhirnya terungkap walau memakan waktu cukup lama.

“Saya dalam perkara tidak mengajukan eksepsi karena sudah masuk dalam pokok perkara. Nanti semua akan dituangkan dalam pledoi,” ujar Nathalia.

Ia juga menyatakan tidak sependapat dengan dakwaan Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana. Dari rekonstruksi diamatinya step by step tampak nyata, bahwa peristiwa itu spontan akibat dari cekcok, tak ada perencanaan. (Agn) 

 


share on: