Hari Cahyono, Pelopor Kerajinan Sangkar Burung Anggungan di Gombang

share on:
Hari Cahyono menunjukan hasil karyanya yang siap dikirim ke pemesan || YP-Eko Purwono

Yogyapos.com (SLEMAN) - Pengrajin sangkar burung jenis anggungan di wilayah Kabupaten Sleman terbilang masih langka. Padahal permintaan pasar cukup tinggi, meski dalam terpaan pandemi Covid-19.

Peluang tersebut ditangkap oleh Hari Cahyono (32) warga Padukuhan Gombang, Kalurahan Tirtoadi, Kapanewon Mlati dan menjadi satu-satunya sentra kerajinan sangkar anggungan yang berada di wilayah tersebut.

Berawal dari pemikiran untuk menggali dan mengembangkan potensi yang dimiliki dusun. Kesibukan produksi sangkar burung pun menjadi pemandangan sehari-hari di rumah produksi yang berlokasi di Gombang RT 03 RW 22, dan sudah digelutinya sejak tahun 2019.

“Kebetulan saya di sini sebagai Kepala Dusun, maka ada pemikiran untuk menggali potensi dusun. Saya merintis usaha kerajinan, sangkar burung ini. Sangkar anggungan biasanya untuk lomba burung puter dan burung derkuku. Di Sleman masih langka yang membuat sangkar sejenis ini, kemungkinan baru ada di sini satu-satunya,” ungkap Hari yang juga selaku Dukuh Gombang kepada yogyapos.com, Rabu (16/6/2021). di kediamannya.

Menurut dia, bahan baku yang dibutuhkan berupa bambu, didapatkan dari lingkungan sekitar yang merupakan salah satu potensi daerahnya, tentunya dengan pemilihan jenis bambu yang kerkualitas. Sedangkan ilmu dan teknik pembuatan didapatkan secara otodidak dengan cara mengakses sosmed dan belajar dengan salah satu pengrajin sangkar di wilayah Sedayu.

“Untuk bahan baku kebetulan sangat mudah didapatkan, yakni berupa bambu jenis Apus atau pring apus, karena kualitasnya bagus, kalau selain bambu apus soal kualitas kami belum bisa menjamin, bahkan untuk rumah-rumah jaman dahulu terbukti awet,” jelasnya.

Pembuatan sangkar anggungan sangat rumit dan dibutuhkan kecermatan. Bicara soal pemasaran, kata dia, selama ini tidak ditemui kendala, bahkan permintaan pasar merambah hampir diseluruh wilayah Jawa.

“Kami pasarkan melalui penjualan online, mulai Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, kita gunakan pengiriman menggunakan jasa kereta api. Sementara ini kami belum melayani yang luar pulau Jawa, karena harus ada perlakuan pengepakan dengan kayu,” katanya.

Sejauh ini, ungkap dia, dalam satu bulan dapat memproduksi sebanyak kurang lebih 10 unit sangkar, dan telah mengembangkan usaha kepada 3 orang warga setempat dan saat ini telah bisa berjalan mandiri memproduksi sangkar.

“Sangkar yang kami produksi dibanderol dengan harga Rp 500 ribu, untuk model mahkota kita lempar dengan harga Rp 1,5 juta per unit, sedangkan yang mentahan atau belum dicat itu harganya Rp 250 ribu,” rinci dia. (Eko Purwono)

 

 

 

 

 

 

 


share on: