Yogyapos.com (SLEMAN) - Sekretaris Daerah Kabupaten Sleman Harda Kiswaya melakukan pemotongan tumpeng pembukan Padepokan Sastra dan Budaya Linus Suryadi AG, di Pendopo Kyai Sobo Kadisono Trimulyo Sleman, Sabtu (7/1/2023).
BACA JUGA: https://yogyapos.com/berita-partai-ummat-lolos-verifikasi-berhak-ikut-pemilu-2024-9318
Harda Kiswaya mengatakan berbahagia bersama teman-teman pelaku budaya melakukan sesuatu langkah awal berkaitan memelihara tradisi maupun mengembangkan sastra dan budaya.
“Semoga ini awal langkah menjadikan pusat budaya padukuhan di sini. Sehingga bisa berkembang dan rekan-rekan pelaku budaya serta pariwisata dari Kabupaten mohon membantu bagaimana upaya yang sudah dilakukan sampai hari ini dengan meresmika membuka padepokan ini nanti bisa betul-betul menjadi pusat kebudayaan,” ujarnya.
BACA JUGA: https://yogyapos.com/berita-lpbi-nu-sleman-dan-nu-diy-kirim-tim-relawan-ke-cianjur-9376
Harda Kiswoyo menyadari perjuangan menjadikan pusat budaya melalui padepokan tersebut tidak mudah, melainkan butuh keharmonisan kekompakan antara pelaku budaya dan pemerintah. oleh karena itu pihaknya berharap rekan dari Kabupaten serta kapanewon untuk melebur jauhkan ego-ego maupun perbedaan perbedaan sehingga kolaborasi bisa diwujudkan.
BACA JUGA: https://yogyapos.com/berita-man-4-bantul-segera-memiliki-masjid-20-siswa-terima-beasiswa-9375
Sementara itu Ketua Panitia Pembukaan Sastra dan Budaya Linus Suryadi AG sekaligus penggagas, Awang Rebo Legi menjelaskan selain dalam rangka mengembangkan budaya juga sebagai kelurrga besar Kadisobo merasa kehilangan sisi lain kebudayaan yakni tata kromo serta sopan santun juga hal-hal yang berhubungan dengan kebudayaan jawa.
“Harapan dengan kegiatan bisa menyumbang kepada masyarakat ikut mengedukasi kebudayaan menumpang Keistimewaan Yogyakarta sebagai karakter branding agar tidak kehilangan budaya jawanya,” harapnya.

Lebih jauh Awang menyampaikan dalam padepokan nantinya juga sebagai tempat diklat tentang budaya seperti tari, pranata cara jawa, pendidikan rohani terkait terkait kebudayaan. Dukuh Kadisobo II, Mawardi mengungkapkan sebagai warga Kadisobo terpanggil untuk memulyakan Linus Suryadi AG (alm) sebagai seorang sastrawan dengan melalui dalam bentuk padepokan ini dengan karakter budaya brending yang tidak hanya bicara seni tapi lebih ke karakter.
BACA JUGA: https://yogyapos.com/berita-aliansi-aksi-sejuta-buruh-minta-presiden-cabut-perppu-cipta-kerja-9361
Sedangkan yang bisa diangkat dari seorang Linus adalah karya-karya lokal kejawen serta fosolifi jawa kental sekali dalam karyanya. “Padukuhan Kadisobo embrio dari Kalurahan Trimulyo yang nantinya diproyeksikan sebagai rintisam desa budaya dengan momentum ini kita mulai,” ujar Mawardi pada yogyapos.com di sela acara.
BACA JUGA: https://yogyapos.com/berita-prolog-mustofa-w-hasyim-songsong-tipu-daya-yogya-di-tby-1492
Drh Yoyonk Wahyudi salah satu tokoh masyarakat Trimulyo dalam sambutannya menyatakan, penggunaan nama pengarang prosa lisir ‘Pengakuan Pariyem’ Linus Suryadi AG untuk Padepokan tersebut, karena dia tokoh (penyair) masa lampau yang luar biasa tidak hanya Yogyakarta tapi Nasional. Karya-karyanya sarat dengan local wisdom,” katanya. (Agn)
