Gintani Nahkodai Biennale Jogja 2021

share on:
Gintani (kiri) dan Alia saat memberi keterangan pers || YP-Ist

Yogyapos.com (YOGYA) - Menandai satu putaran penuh garis khatulistiwa yang menjadi kerangka kerja Yayasan Biennale Yogyakarta (YBY) sejak 2010, Biennale Jogja Equator #6 pada 2021 akan mengambil pendekatan berbeda bekerjasama dengan negara di kawasan Pasific.

Direktur YBY Alia Swatika mengatakan, kepastian negara masih terus digodok, mempertimbangkan banyak situasi, termasuk mengenai bagaimana pandemi berpengaruh pada mobilitas dan gagasan pertukaran internasional. 

“Kawasan Pasific, terutama secara khusus berhubungan dengan wilayah kepulauan di Indonesia, dan secara geografis Indonesia Timur juga akan menjadi perhatian kami. Kawasan Pasific juga akan merujuk pada wacana-wacana kolonialisme baru dan gagasan negara bangsa pada masyarakat kontemporer,” kata Alia di Taman Budaya Yogya, Rabu (18/11/2020).

Sebelumnya, Biennale Jogja telah menjalin kerja sama dengan beberapa Negara seperti India, Kawasan Arab (Mesir, Arab Saudi dan Uni Emirates Arab), Nigeria, Brazil dan Kawasan Asia Tenggara.

Alia melanjutkan, dengan membawa kembali arsip-arsip dan melakukan pembacaan ulang, pengunjung dan semua warga bisa melihat secara utuh gagasan khatulistiwa sebagai geopolitik yang digagas di Yayasan Biennale Yogyakarta. 

“Menarik sekali karena ada banyak sekali hal-sejarah dan kondisi geografis, misalnya- yang dipelajari selama 10 tahun pelaksanaan Biennale Jogja seri khatulistiwa,” imbuhnya.

Dalam kesempatan tersebut juga dikenalkan Direktur Biennale Jogja yang baru, yaitu Gintani Nur Apresia Swastika. Gintani akan menjadi direktur penyelenggaraan peristiwa seni ini pada 2021 dan 2023.

Biennale Jogja selalu berupaya melakukan regenerasi, sehingga ada seseorang dan gagasan baru yang dimunculkan dalam moda kepemimpinan dan manajemen seni. (Fadholy)

 

 

 

 


share on: