Gelar Eksibisi Sejarah Lisan, Mahasiswa Sejarah FIB UGM Lakukan Terobosan

share on:
Muhammad Faisal Adnan dan Dian Octaviani || YP-Wahjudi Djaja

PERISTIWA dan tokoh sejarah tak semuanya bisa tercatat dalam sumber dan dokumen. Ada beberapa kendala kenapa hal itu terjadi. Dengan Metode Sejarah Lisan kekurangan itu bisa disempurnakan sehingga narasi sejarah yang disusun pun lebih lengkap.

Demikian perbincangan yogyapos.com dengan Muhammad Faisal Adnan, mahasiswa Prodi Sejarah FIB UGM, Rabu (23/11/2022). Adnan bersama teman-temannya menggelar pameran bertema Soeara Rakjat 1945-1965 di kantin Gedung Soegondo FIB UGM. Pameran rencananya akan ditutup 25 November 2022.

“Yang kami pamerkan adalah sebagian dari penggalian dan pelacakan kami atas kehidupan beberapa tokoh dan lembaga yang sebagian besar belum banyak dipublikasikan. Kami mencoba mengeksplorasi beragam jejak dan dokumen pribadi sebagai upaya melengkapi narasi besar yang berkaitan dengan sepak terjang tokoh atau lembaga yang pernah ada dalam sejarah,” ujarnya.

Didampingi Dian Octaviani, yogyapos.com melihat beragam dokumen yang dipamerkan. Yang relatif tua antara lain beragam dokumen milik keluarga pendiri Muhammadiyah, KH. Ahmad Dahlan.

“Tim kami berhasil meminjam dokumen berupa Verklaring Nikah milik keluarga H Muhammad Masjkur dan Siti Zuharoh di Kauman. Dokumen ini dikeluarkan Hoofdpenghoeloe tahun 1935. Dengan bukti ini kita bisa melihat bagaimana administrasi pernikahan zaman Belanda,” jelasnya.

Verklaring Nikah keluarga KH. Ahmad Dahlan yang dipamerkan || YP-Wahjudi Djaja

Beragam bukti dan dokumen yang dipamerkan seperti karya Asmaraman Ko Ping Ho, buku panduan Hisbul Wathon (HW) sejak periode awal kelahirannya serta berbagai dokumen pribadi zaman Belanda sesungguhnya merupakan terobosan baru dalam pembelajaran Sejarah Lisan.

Sebagaimana disampaikan Dr Mutiah Amini (Kaprodi S1 Sejarah FIB UGM) kepada yogyapos.com, dulu Sejarah Lisan hanya bertugas mewawancarai narasumber lalu hasilnya ditranskrip menjadi laporan.

“Apa yang mereka kerjakan merupakan sesuatu yang baru. Karena selain melakukan wawancara, para mahasiswa juga menggali beragam bukti dan dokumen sehingga narasi sejarah yang dibangun menjadi lebih sempurna,” tandasnya.

Beragam upaya, lanjut Mutiah, telah dilakukan untuk menambah wawasan, pengalaman, kompetensi dan jaringan. “Bagaimanapun kami ikut bertanggung jawab atas masa depan para mahasiswa agar mereka memiliki skill dan keterampilan yang lebih sehingga percaya diri memasuki dunia kerja,” paparnya.

Sementara itu Ketua Umum Keluarga Alumni Sejarah Universitas Gadjah Mada (KASAGAMA) Wahjudi Djaja yang hadir dan melihat pameran memberikan apresiasi atas inovasi para mahasiswa Prodi Sejarah FIB UGM.

“Kegiatan ini sangat positif karena bisa membawa sejarah menjadi lebih hidup dan diketahui publik secara lebih luas. KASAGAMA bersedia memfasilitasi jika kelak kegiatan ini diperluas skalanya. Kita memiliki beragam desa wisata sejarah yang menjadi binaan. Mereka memiliki fasilitas seperti pendopo dan rumah tua yang bisa dijadikan venue,” paparnya.

Delapan mahasiswa Angkatan 2020 Prodi Ilmu Sejarah FIB UGM menggelar pameran dengan dibimbing dua dosen yakni Dr. Abdul Wahid dan Satrio Dwicahyo MSc MA. Tema yang diangkat meliputi Keluarga, Pendidikan, Sosial Politik, dan Militer.

Ke delapan mahasiswa itu adalah Ahmad Paramasatya, Cindy Gunawan, Wheli Sutra Pradana, Dinda Nabila, Azahra, Galen Sousan Amory, Annisa Noorviana Farasandi dan Elisa Obellia.

Antusiasme pengunjung pameran sangat tinggi. Mereka tidak saja dari kalangan mahasiswa UGM tetapi juga berbagai unsur masyarakat yang memiliki kepedulian dengan sejarah. Tiap hari rata-rata pengunjung di atas 50 orang. (Iud)

 


share on: