Yogyapos.com (KEBUMEN) - Prosesi adat Ruwat Bumi Kajoran akan digelar pada 22 Septemner 2019 pukul 08.00, di Desa Kajoran, Karanggayam, Kebumen, Jawa Tengah. Selain ditandai dengan penggantian luwur (klambu/slintru) makam Panembahan Agung Kajoran juga akan diisi dengan pergelaran wayang kulit semalam suntuk dengan dalang Ki Siswadi Mudo Carito (Clapar).
“Acara ini digelar untuk mengumpulkan trah Kajoran, menghangatkan kembali hubungan kekerabatan, dan memberdayakan potensi alam, seni, budaya, dan sejarah kawasan Kajoran,” ujar budayawan Kebumen, Ravie Ananda SPd salah satu panitia Ruwat Bumi Kajoran, Selasa (17/9/2019). Acara adat ini rencananya akan dihadiri Wakil Bupati Kebumen Arif Sugianto. Terkait Panembahan Kajoran, Ravie menjelaskan bahwa beliau dekat dengan sejarah Mataram.
Nama kajoran, papar Ketua Yayasan Wahyu Pancasila, melekat pada dua tokoh, yg pertama Pangeran Agus atau Pangeran Agung Kajoran. Beliau adalah menantu dari Ki Ageng Pemanahan. Yang kedua, Kajoran merujuk pada Panembahan Rama yang merupakan mertua Trunajaya.
"Ruwat Bumi Kajoran adalah acara rutin suran. Namun mulai tahun ini ruwat tidak hanya seremonial tetapi diorientasikan untuk membangkitkan jiwa Jawa masyarakat Kebumen dengan mensinergikan kembali masyarakat Kebumen dengan leluhur dan adat budaya Jawa melalui kirab" jelas penulis buku Panjer Nagari Sisi Gelap Prusia Jawa ini. Dalam acara ini, lanjut Ravie, akan kembali berkumpul trah Mbah Agung Kajoran, trah Untung Surapati,Trah Amangkurat Jawa, Trah Badranala, Trah Bumidirjo dll.
Prosesi kirab Ruwat Bumi Kajoran akan dipimpin oleh R Bambang Nursinggih, SSn (Ketua LKJ Sekar Pangawikan Yogyakarta) berangkat dari Balai Desa Kajoran menuju cungkup makam Panembahan Kajoran. Ribuan warga akan hadir bersama para trah Kajoran dari berbagai daerah.
Terpisah, Kades Kajoran, Ariyanto, menyampaikan bahwa acara adat ini diharapkan bisa membukakan masyarakat luar tentang potensi wisata terutama alam, budaya dan religi.
"Desa Kajoran berada di tepi kepundan gunung api purba, berbatasan dengan Desa Wisata Heritage Watulawang. Dengan pemandangan alam yang indah dan didukung makam Panembahan Kajoran ini, kami berharap bisa menggerakkan perekonomian warga hingga menemukan kejayaannya kembali," tandas Kades yang baru saja menjabat ini.
Ariyanto mengaku prihatin generasi muda Kajoran sekarang banyak yang sudah tidak mengenal budaya. "Makanya mumpung masih banyak sesepuh yang masih hidup, kami berusaha secara maksimal untuk menghidupkan kembali Kajoran melalui budaya religi", tandas sosok muda yang sebelum jadi Kades berprofesi sebagai tukang ojeg makam Kajoran ini. (Iud)
