Yogyapos.com (SLEMAN) - Dinas Pariwisata (Dinpar) Kabupaten Sleman agak pesimis dapat memenuhi target jumlah kunjungan wisata yang mencapai 8 juta pada tahun 2025, karena perekonomian Indonesia sedang kurang menguntungkan. Meski begitu, capaian pemasukan dari retribusi diyakini masih tercapai.
Hal tersebut disampaikan Kepala Bidang Pemasaran Kus Endarto disela menerima audiensi pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Sleman di kantornya, Senin (8/9/2025).
BACA JUGA: Mensos Saifullah Yusuf Lakukan Pelepasan Ekspor Produk KPM Asal Bantul
"Melihat kondisi perekonomian saat ini, capaian kunjungan wisata di Sleman kemungkinan hanya mencapai 90-98 persen dari target yang mencapai 8 juta kunjungan. Tetapi untuk retribusi masih bisa tercapai," ujar Kus.
Dispar ungkapnya, sedang melakukan pembenahan, khususnya adanya kebocoran pajak yang disebabkan okupansi hotel dan restoran mengalami penurunan dampak menjamurnya homestay di sejumlah destinasi wisata.
"Kita juga sedang melakukan pembenahan terkait kebocoran pajak,"ungkapnya.
Dinas Pariwisata Sleman Edy Winarya menyebutkan, peran media massa sangat penting bagi sektor pariwisata, terutama untuk sarana informasi menjadi pemasaran kepada masyarakat. Sehingga pelaku pariwisata harus menggandeng dan bekerjasama untuk memajukan industri wisata di Kabupaten Sleman.
BACA JUGA: Polda DIY Gelar Operasi Aman Nusa I Progo, Berikut Pola pelaksanaannya
"Para pelaku wisata baik itu yang ada di destinasi maupun industri pariwisata seperti hotel dan restoran agar jangan alergi atau enggan bertemu dengan wartawan," kata Edy.
Menurut Edy, penyebaran atau berita seputar keindahan dan daya tarik destinasi wisata tidak dapat hanya mengandalkan dari mulut ke mulut. Tetapi harus digenjarkan pula lewat berbagai cara termasuk media massa.
Apalagi, saat ini bermunculan obyek-obyek wisata menarik di wilayah lain yang dapat menjadi pesaing. Tempat-tempat tersebut dibuat semenarik mungkin untuk merebut minat pengunjung yang menginginkan suasana baru.
"Kalau kita tidak gencar promosi, maka lama kelamaan akan ditinggalkan oleh pengunjung. Dampaknya, destinasi wisata itu akan mati," timpalnya.
Dijelaskan, selain promosi lewat media massa pihaknya juga telah melakukan jemput bola ke beberapa institusi termasuk dunia pendidikan. Yaitu dengan melakukan kampanye sadar wisata sekaligus mempertemukan antara pelaku wisata dengan calon pengunjung.
"Kami mempertemukan antara buyer dan seller. Sekaligus menghimbau kepada dunia pendidikan maupun institusi lain agar berwisata yang dekat saja,"jelasnya.
BACA JUGA: Iptu Koko Bekti Ariyantoko Menjabat Kasat Intelkam Polres Bantul
Pada kesempatan itu, Ketua PWI Sleman, Wisnu Wardhana menyampaikan, bahwa PWI merupakan salah satu organisasi wartawan yang telah diakui oleh dewan pers. Untuk menjadi anggota PWI, wartawan harus lolos mengikuti uji kompetensi.
"PWI menjadi organisasi profesional yang dapat dipertanggungjawabkan. Dalam setiap bekerja juga wajib menjunjung kode etik jurnalistik," katanya.
Dalam kesempatan itu Wisnu juga mengenalkan Koperasi Jasa Pena Sembada Sejahtera yang dimiliki oleh PWI Sleman. (Opo)
