Dyah Aryani, Profesor Termuda dari UAD Yogyakarta

share on:
Prof Dr Dyah Aryani Perwitasari MSi PhD Apt | YP/Affan

Yogyapos.com (BANTUL) - Sidang Senat Terbuka pengukuhan Prof Dr Dyah Aryani Perwitasari MSi PhD Apt sebagai guru besar pada Fakultas Farmasi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta dilaksanakan di Amphitarium UAD Lantai 9, Ringroad Selatan, Banguntapan, Bantul, Sabtu (9/2/2019). Hadir dalam acara ini Prof Dr Marsudi Triatmodjo SH LLM mewakili Badan Pengurus Harian (BPH) UAD, serta para promotor Prof Dr Moch Hakimi SpOG PhD dan Prof Dr Mustofa Apt MKes.

Sidang Senat terbuka dibuka oleh Dr H Kasiyarno MHum selaku Ketua Senat Terbuka, yang selanjutnya diteruskan dengan pidato pengukuhan guru besar Prof Dr Dyah Aryani Perwitasari dengan tema ‘Dari Pengobatan Individu Menuju ke Pengobatan yang Tepat Sesuai Kebutuhan Pasien: Kenyataan, Tantangan dan Harapan.

Dyah melakukan penelitian farmakogenetik menggunakan teknologi Sequenom Mass Array di Laboratorium Department of Genetica, Univetsity Medical Center Groningen, The Netherlands. Menurutnya, pengobatan yang tepat adalah pendekatan baru untuk pencegahan dan pengobatan penyakit. Yakni mempertimbangkan gen, lingkungan dan pola hidup dari seseorang.

Ia menemukan korelasi antara beberapa polimorfisme pada gen ATIC, MTHFR dan RFC dengan efektivitas metotreksat pada pasien artritis rematik di Indonesia.

Menurutnya, dengan perkembangan asuhan kefarmasian dari pengobatan yang rasional menjadi pengobatan yang tepat, maka bagian dari ilmu farmasi yang meliputi farmakogenetik, ilmu sosial dan perilaku pasien serta kualitas hidup juga perlu dipelajari lebih mendalam.

"Kualitas hidup adalah kondisi kesehatan pasien yang seimbang meliputi kesehatan fisik, emosi dan sosial," kata istri dari Nurudin Araniri SPt ME dan ibu dari Melodia Rezadhini dan Ridlo Ifran Addiasar yang berharap penelitian farmakogenetik sebagai konsep dasar dari individualisasi terapi semakin berkembang di berbagai institusi pendidikan tinggi farmasi di Indonesia.

Dari hasil penelitiannya terhadap apoteker yang praktik di rumah sakit dan apotek di Yogyakarta soal pengetahuan, kesadaran dan perilaku apoteker terhadap individualisasi terapi, secara keseluruhan nilai pengetahuan, kesadaran dan perilaku pasien terhadap individualisasi adalah baik.

"Namun nilai pengetahuan, kesadaran, perilaku apoteker di komunitas lebih tinggi daripada nilai pengetahuan, kesadaran, perilaku apoteker di rumah sakit," jelas Dyah yang menekuni bidang ilmu farmasi: farmakogenetik dan farmasi klinik.

Sementara Kasiyarno menyatakan, proses menjadi guru besar tidaklah mudah. Karena harus ada karya dalam jurnal internasional reputasi. “Kami berharap dengan tambahnya guru besar dan prodi di UAD, ke depan semakin maju dan dikenal masyarakat,” harapnya seraya menginformasikan hingga kini UAD Yogyakarta mempunyai 4 orang profesor yayasan yaitu Bustami Subhan, Hariyadi, Subardjo dan Dyah Aryani Perwitasari.

Mengenai Dyah Aryani Perwitasari, selain sebagai ilmuwan juga sangat aktif, multi talent dan punya bakat bervariasi, pandai main musik, penyanyi dan penari. "Semoga ilmunya bermanfaat bagi dirinya sendiri, keluarga dan UAD," tandas Kasiyarno, yang menambahkan di usia 42 tahun semoga Dyah Aryani semakin peka terhadap lingkungannya. (Afn)


share on: