Dulu Buruh, Paryadi Kini Jadi Pengusaha Kerajinan Bambu

share on:
Paryadi saat membersihkan bambu sebelum dirakit menjadi karya seni bambu || YP-Eko Purwono

BERBEKAL pengalaman selama puluhan tahun menjadi pekerja pada sebuah usaha pengerajin kerajinan bambu, Paryadi (47) kini sukses menjadi pengusaha UMKM.

Warga RT 04 RW 17 Padukuhan Kaweden Kalurahan Tirtoadi Kapanewon Mlati Kabupaten Sleman DIY saat ini telah memiliki tempat usaha kerajinan berbahan baku bambu dengan modal sendiri.

“Awalnya saya ikut juragan yang punya usaha kerajinan bambu di daerah Sendari Mlati Sleman, mulai tahun 1998 hingga 2019, saya berniat bekerja sekaligus menimba ilmu,” tutur Paryadi saat berbincang dengan yogyapos.com, Sabtu (1/10/2022).

Produk kursi tamu sudut || YP-Eko Purwono

Sembari sibuk membersihkan bambu-bambu di sungai kecil tak jauh dari rumahnya, dirinya bercerita mulai mengawali usaha kreasi bambu di rumah sekitar tahun 2020, dirinya mengaku selama ini permintaan pasar makin meningkat meningkat seiring mulai meredanya pandemi Covid-19.

“Permintaan produk rumah tangga berbahan bambu dalam beberapa waktu terakhir sempat naik, namun ada sedikit penurunan omzet semenjak ada kenaikan harga BBM,” ujarnya

Sejumlah produk kerajinan bambu besutannya diantaranya berupa kursi lincak, kursi tamu model sudut, gazebo, rumah bambu pohon, penyekat ruangan, tempat tidur dan kerajinan bambu lain sesuai permintaan konsumen, dirinya mematok harga cukup terjangkau.

Tempat tidur dan penyekat ruangan || YP-Eko Purwono

“Contohnya untuk harga lincak pada kisaran Rp 250 ribu hingga Rp 1 juta per unit, untuk kursi tamu kami patok harga Rp 600  ribu hingga  Rp 1,2 juta per set, tergantung dari bahan yang digunakan serta modelnya,” ungkap bapak dua anak ini.

Dalam membuat satu unit lincak dibutuhkan waktu sehari bahkan lebih, sedangkan untuk menyelesaikan pembuatan 1 set kursi tamu butuh waktu  sekitar 7 hari, sementara ini pemasaran menjangkau wilayah DIY dan Jawa Tengah.

“Bahan baku bambu saya dapatkan di depo yang berada di daerah Cebongan, menurut penjual bambu itu berasal dari Purworejo Jawa Tengah dan Kulon Progo,” jelasnya.

Rumah pohon || YP-Eko Purwono

Dirinya mengaku membutuhkan keberpihakan Pemda setempat agar produksinya semakin berkembang sehingga dapat menumbuhkan perekonomian pengusaha kecil sepertinya.

“Kami berharap pemerintah daerah dapat mendorong usaha aneka kerajinan bambu ini, saya mencoba pemasaran melalui media sosial Facebook,” ungkap dirinya sambil menunjukkan akun Facebook bernama Paryadi. (Eko Purwono).

 


share on: