Yogyapos.com (YOGYA) - Para kreator film sekarang ini mempunyai peluaang sangat besar untuk menampilkan karya terbaiknya. Selain dukungan sponsor, pemerintah daerah dan pemerintah pusat juga memberikan apreasisi berupa dukungan dana, khususnya terhadap produksi film pendek.
BACA JUGA: https://yogyapos.com/berita-manjakan-nasabah-bank-mandiri-aktif-memacu-layanan-super-app-livin-9211
Fenomena film pendek produksi daerah khususnya di Yogya muncul ketika Pemda DIY melalui Dana Keistimewaan menggelontorkan anggaran untuk produksi film pendek. Jumlahnya sampai saat ini mencapai Rp 2 miliar per tahun atau rata-rata sebanyak Rp 200 juta per film. Selain itu, dukungan dana produksi juga muncul dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) dengan nilai Rp 250 juta/film. Fakta ini memberikan harapan bagi para sineas untuk berlomba membuat karya film kreatif semaksimal mungkin.
Cuplikan Adegan Film ‘Tilik’ produksi Ravacana Film yang diproduksi dengan dukungan dana Pemda DIY. Film ini berhasil meraih 27 juta penonton sejak pertama kali ditayangkan || YP-Ist
BACA JUGA: https://www.yogyapos.com/berita-sukamta-bupati-dan-wakil-bupati-safari-taraweh-di-17-masjid-4024
Menurut sutradara Hanung Bramantyo, saat ini film pendek yang tertayang di jejaring youtube sangat banyak dan pantas untuk di ‘monetize’ atau dikomersialkan. Salah satunya adalah Film ‘Tilik’ produksi Ravacanba Film yang sudah ditonton lebih dari 27 juta kali. Film yang diproduksi dengan dukungan dana pemerintah tersebut menurutnya sangat layak untuk dikomersialkan, tetapi sampai saat ini film-film semacam itu masih tayang sebagai film hiburan secara gratis
“Kepada Ngarso Dalem saya pernah menyarankan agar film pendek itu ‘dimonetize’ tetapi beliau bilang bahwa soal komersialitas itu urusannya sineas, bukan urusan pemerintah,” ujar Hanung dalam diskusi film ‘Disrupsi Teknologi Terhadap Dunia Perfilman Lokal’, di JNM Block, Selasa (20/12/2022).
BACA JUGA: https://www.yogyapos.com/berita-hebat-minat-berasuransi-meningkat-saat-pandemi-3117
Selanjutnya Hanung menyampaikan, dukungan Pemda DIY terhadap para sineas ini berdampak positif karena kemudian melahirkan banyak sineas baru, seperti Sidharta Tatak yang kemudian membuat serial ‘Pertaruhan’ yang tayangdi platform streaming Vidio.com. Artinya gerakan membuat film pendek di Yogya sudah sangat masif.
baca jua: https://yogyapos.com/berita-flip-flop-tv-hadir-dengan-berbagai-sinema-lokal-berkualitas-9204
Hadirnya aplikasi film streaming seperti FlipFlop TV (FFTV) merupakan salah satu solusi atas melimpahnya produksi film yang selama ini karena beberapa alasan tak bisa tayang di bioskop. Tetapi pada sisi yang lain, platform semacam FFTV tersebut juga dituntut untuk mampu konsisten menayangkan film baru. Hal ini tidak mudah karena berhubungan dengan biaya operasional yang tidak murah.
“Kalau soal konten tidak masalah. Tetapi soal konsistensi ini yang harus terus dapat dipertahankan,” tidak masalah tandas Hanung.
Sementara itu, aktris dan penulis cerita Jenar Mahesa Ayu berpendapat, munculnya layanan Over The Top (OTT) seperti FFTV merupakan media yang mempertemukan sineas dengan penontonnya. Layanan ini melindungi para sineas dari bisnis monopoli perfilman yang membuat sineas kesulitan bertemu dengan penontonnya.
Dengan demikian, munculnya OTT akan memperlebar pasar penonton film, sehingga layanan ini akan meningkatkan opitimisme bagi para sineas dan kreator film untuk lebih banyak berkarya, karena sekarang ini wadah kreatif untuk mewadahi karya mereka menjadi lebih bervariasi. Para sineas tak perlu lagi mengeluhkan sal keterbatasan layar atau ketentuan-ketentuan lain yang selama ini menjadi hambatan bagi sineas untuk mempresentasikan karyanya kepada publik. (*/Sds)
