Didakwa Lakukan Kekerasan pada Anak, Terdakwa Bantah Keterangan Suami

share on:
Suasana persidangan kasus KDRT dengan terdakwa AE, di PN Sleman, Senin (14/6/2021) || YP-Agung Dwi Purwanto

Yogyapos.com (SLEMAN) - AE terdakwa kasus Kekerasan Dalam rumah Tangga (KDRT) telah melakukan kekerasan terhadap YRA (3) anak hasil perkawinannya dengan saksi pelapor Arnold Dwi Novrianto.

Bantahan tersebut disampaikan dalam sidang anjutan yang digelar di PN Sleman, Senin (14/6/2021). Sidang oleh majelis hakim diketuai Suratni SH MH ini belangsung agak tegang, karena terjadi saling bantah.

Di hadapan hakim, saksi menyatakan melaporkan terdakwa AE untuk membuat efek jera karena melakukan kekerasan pada anak mereka yakni RYA. Bahkan akibat kekerasan dilakukan terdakwa membuat anak tersebut trauma.

“Anak tersebut saya bawa ke konseling di Pati dan Yogya untuk menghilangkan traumanya,” ungkap saksi.

Saksi mengatakan lebih lanjut, korban RYA tinggal bersamanya karena tidak mau tinggal bersama terdakwa AE. Terdakwa sering melakukan kekerasan psikis membentak-bentak, memarahi dan mengurung korban. Itus semua dilakukan ketika masih tinggal bersama di Cebongan.

Di lain waktu, papar saksi, terdakwa mengajak RYA belanja di pusat perbelanjaan di Yogyakarta, kemudian ditinggal dalam mobil sendiri dengan keadaan pintunya dikunci.

Saksi lain, Erna Eri Susanti yang kebetulan bertetangga, mengungkapkan pernah mendengar terdakwa bersuara keras menggunakan bahasa daerahnya seperti sedang marah. Kemudian disusul tangisan anak dan terdengar suara pintu mobil ditutup.

Namun semua keterangan saksi diatas dibantah oleh terdakwa. Bantahan juga dilakukan melalui tim pengacaranya Sementara, Zulfikri Sofyan SH, Ivan Bert SH dan Tidar Setiawan SH bahwa suara keras terdakwa seperti diungkapkan saksi belum tentu suatu kemarahan.

“Terdakwa dari Minang. Biasa kalau ngomong cenderung keras seperti marah, padahal itu tidak marah,” jelas Zulfikri yang menganggap kesaksian saksi Erna hanya merupakan asumsi. 

Sedangkan mengenai peristiwa YRA ditnggal dan dikunci di dalam mobil, itu terjadi atas kemauan korban. Saat itu terdakwa hendak mengambil barang di toko swalayan, tidak sampai 1 jam. Selama itu pula dia videocall dengan korban. Tidak meninggalkan begitu saja, tapi tetap mengawasinya.

“Saksi pelapor ini melaporkan karena misi dendam. Justru terdakwalah yang menjadi korban KDRT oleh ulah pelapor karena telah memisahkan anak dari ibunya, dibawa ke Pati ke orangtua saksi pelapor,” tukas Zulfikri.

Seperti sebelumnya, AE menjadi terdakwa atas laporan Arnold. Ia kemudian dijerat jaksa penuntut umu Lintang SH dengan Pasal 45 (1) UU RI Nomor 23 Tahun 2004 Tentang Penghapusan Kekerasan Dalam  Rumah Tangga. (Agn/Met)

 

 

 


share on: