Yogyapos.com (YOGYA) - Seniman Subandi Giyanto memajang 88 karya lukis wayang dalam pameran bertajuk “Giling Wesi” di Bentara Budaya Yogyakarta (BBY) Jalan Suroto 2 Kota Baru Yogyakarta.
Event ini berlangsung sejak 3-9 November 2023. Pameran tunggal hasil kreasi Subandi Giyanto melukiskan tentang tokoh wayang yang mencerminkan nuansa tradisi Jawa, dibuka oleh budayawan Dr Sindhunata.
BACA JUGA: Anies Baswedan: Jangan Hanya Jadi Penonton Atas Tragedi Pembantaian Rakyat Palestina
Beberapa karya lukis wayang yang dipajang antara lain: Kayon (wayang gunungan), Meraih Rembuan, Purnama di Atasmu, Pawukon Beber, Petruk Naik Gajah, Taman Sari dan karya lukisan lainnya.
Subandi dan karyanya || YP-Yuliantoro
Dalam perbincangan di BBY kemarin, Subandi Giyanto mengatakan, dirinya mendalami seni pewayangan sejak masa kecilnya. Tema pameran ‘Giling Wesi’ merupakan salah satu upaya untuk mengenalkan kepada generasi muda mengenai soal pawukon (penanggalan Jawa) ini, menggambarkan karya seni rupa tradisi warisan leluhur yang sarat pitutur dan simbol-simbol makna yang perlu dimengerti.
BACA JUGA: Dr Syahganda Nainggolan : Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar untuk Perubahan dan Persatuan
“Saya menyiapkan pameran tunggal memajang 88 karya seni rupa, melewati proses panjang. Ada sebagian karya lukisan tahun 2013, namun tetap sesuai dengan tema pawukon. Saya senang, selama pameran berlangsung diapresiasi pecinta seni rupa, para pelajar Yogyakarta dan mahasiswa ISI Yogyakarta. Sehingga, pameran lukisan soal pawukon ini, mendapat apresiasi dari generasi muda,” kata Subandi.
Ia menjelaskan, Giling Wesi adalah nama sebuah kerajaan yang sering digunakan para pujangga untuk mengingatkan manusia agar tidak takabur karena masih ada Dewa atau Tuhan yang memiliki kekuasaan lebih dari siapapun.
BACA JUGA: Pesan Perubahan dari Yogya: Anies Baswedan Gaungkan Keadilan dan Persatuan
Budayawan Dr Sindhunata mengatakan, pameran lukisan tentang Pawukon (penanggalan Jawa) bisa mengingatkan istilah Jawa aja nggege mangsa, maksudnya kalau belum waktunya jangan memaksa karena semua hasil pencapaian yang diperoleh melalui proses. Persoalannya sekarang ini, dalam kehidupan kita kebanyakan instan tidak melalui proses waktu.
BACA JUGA: Wamenkumham Resmi Tersangka Gratifikasi, Belum Ada Informasi Penahanan
“Ketika melihat pameran lukisan Giling Wesi mengenai pawukon, bisa menemukan gambaran soal makna penanggalan Jawa yang diekspresikan karya rupa artistik,” papar Sindhunata.
General Manager Bentara Budaya & Communication Management, Corporate Communication Kompas Gramedia lham Khoiri, mengatakan Subandi menggambarkan cerita itu dengan pendekatan wayang beber (dalam lembaran kertas atau kain) dengan pakem-pakem yang lazim. Ada juga pendekatan model wayang purwa. Saat bersamaan, kisah itu juga diekspresikan dalam bentuk lukisan modern di atas kanvas yang lebih bebas.
BACA JUGA: Pasca Dideklarasikan PKS, Anies: Koalisi Makin Solid Mengusung Misi Perubahan
“Keragaman pendekatan visual atas cerita wayang itulah yang ditampilkan dalam Pamerkan “Giling Wesi,” tukasnya.
Salah satu sudut ruang pamer || Yuliantoro
Yang menarik dalam ekspo ini, lanjut Iham Khoiri, dalam karya lukis ini menggambarkan peta kehidupan manusia zaman sekarang. Ketika Indonesia tengah memasuki tahun politik jelang Pemilu 2024 dimana terdapat perilaku menghalalkan segala cara demi meraih kekuasaan itu sejatinya juga mirip perilaku Watugunung sebagaimana kisah yang diulik Subandi Giyanto dan dikembangkan menjadi karya seni rupa.
BACA JUGA: Bawa Gagasan Perubahan, Anies Baswedan-Muhamin Iskandar Resmi Mendaftar ke KPU
Cerita Watugunung dari Kitab Pakuwon Jawa, menerangka seorang raja sakti bernama Prabu Watugunung dari Kerajaan Giling Wesi. Entah bagaimana, dia kemudian mengawini seorang perempuan yang ternyata ibunya sendiri, Dewi Sinta. Mengetahui bahwa dia dikawini oleh anaknya kandungnya, Sinta mencari berbagai cara untuk mengakhiri kesalahan itu. Watugunung diprovokasi untuk bertempur melawan para dewa di kayangan sehingga akhirnya tewas. (Yuliantoro)
