Yogyapos.com (BANTUL) - Sekitar 40 ton buah setiap hari diperdagangkan oleh para bakul di Pasar Tradisional Imogiri Kabupaten Bantul. Jenisnya beragam, pisang-pisang itu ‘ditampung’ (dibeli) para pengepul dari para petani, kemudian dijual lagi kepada pelanggan dan masyarakat umum.
Siklus perdagangan pisang seperti ini sudah berlangsung sejak puluhan tahun lalu. Para pengepul membeli pisang dari para petani berdasarkan kesepakatan yang lazim, terutama mengenai harganya. Kemudian menjual lagi, juga dengan harga yang lazim.
Hal ini seperti disampaikan Wasilah (60) satu dari sekian banyak pengepul pisang disana, bahwa binis buah pisang tetap ramai. Tak mengenal musim. Nyaris tak pernah sepi pembeli. Bahkan dalam kondisi pandemi sekarang pun justru volumenya dagangan semakin naik.
“Jika dihitung setidaknya peredaran pisang di tempat ini 40 ton per hari. Jumlah pedagangnya mencapai belasan orang,” kata Wasilah, yang sejak 40 tahun silam tetap istiqomah nglakoni pekerjaan ini, kepada yogyapos.com, Senin (24/1).
Ia menuturkan, pisang sebanyak itu diperoleh dan dipasok puluhan petani dari Gunungkidul terutama Kapanewon Panggang dan Saptosari oleh pengepul maupun langsung dari petani.
Para pembelinya antara lain pedagang kulakan, pedagang gorengan, pembuat ceriping pisang dan masyarakat umum. Namun pembeli terbesar adalan para pedagang asal Kota Yogyakarta.
Sedangkan, harga pisang bervariasi tergantung pada jenis, ukuran dan kualitasnya. Namun secara umum Rp 20.000 hingga Rp 80.000 per tundun. Sedangkan khusus jenis pisang raja harganya bisa mencapai Rp 250.000 per tundun. Pisang raja mahal karena sering digunakan untuk acara dan keperluan khusus misalnya tarub (dekorasi), prosesi pernikahan, sesaji dan pembuatan kue.
Sementara itu, Parjiyo (65), bertutur berdagang pisang cukup menghasilkan. Untungnya setiap pedagang tidak kurang Rp 300 ribu per hari.
“Selain itu saya sendiri juga sebagai peternak sapi dan kambing. Batang buah dan pisang yang sudah tak layak konsumsi bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak itu. Ini meringankan peternak dalam pengadaan pakan,” aku Parjiyo. (Spd)
