Darsini Pengepul Arang Terbesar di Pasar Imogiri, Sehari Laku 1,8 Ton

share on:
Darsini, pengepul arang kayu terbesar di Pasar Imogiri tetap gigih, naik ke atas gundukan karung pun oke || YP-Supardi

Yogyapos.com (BANTUL) - Matahari belum nampak di ufuk timur. Adzan subuh baru saja berlalu sekitar 10 menit ketika Darsini sampai di depan kiosnya, di Pasar Imogiri, Bantul, Minggu (13/12/2020). Ia bergegas membuka pintu kios berukuran relatif sempit yang didalamnya terdapat gundukan karung berisi arang kayu.

Darsini sangat cekatan, menata memilih-pilah gundukan kasung berisi arang itu dengan menempatkannya di halaman kios. Karung-karung yang lazim disebut bagor berisi arang itulah yang dalam hitungan menit atau jam berikutnya akan diangkut para pembeli.

“Ini sudah saya siapkan sejak sore. Tinggal diambil oleh para pembeli,” ujar perempuan perkasa di usianya yang mendekati kepala enam ini.

Darsini merupakan satu dari sedikit pedagang pengepul arang kayu di pasar tersebut. Meski sejak beberapa tahun lalu terjadi transformasi besar-besaran penggunaan gas tabung di kalangan ibu-ibu rumah tangga maupun sebagian besar pedagang makanan, namun fenomena akibat kebijakan pemerintah tersebut tidak membuat nenek dari beberapa cucu ini beralih usahanya. Ia tetap teteg menjadi pedagang arang kayu yang sudah dilakoninya sejak muda.

Boleh dibilang hidupnya sangat tergantung dari arang kayu. Berangkat ke pasar pada dini hari, pulang ke rumah jelang matahari sembunyi di ufuk barat. “Ya mau apa lagi. Gusti Allah maringi (memberi) rezeki lewat arang kayu,” tukasnya dengan bahasa Indonesia campur Jawa yang medhok.

Diakuinya, kenapa masih bertahan dengan menjual arang? Karena ternyata masih banyak konsumen yang membutuhkan. Mereka diantaranya para pedagang bakmi, gudeg, warung angkringan, pedagang sate, dan lainnya. Selain melayani pembeli partai besar, ia juga setia menanti dan melayani pembeli eceran atau kiloan.

Semamngat Darsini masih bertahan sebagai pengepul arang cukuplah beralasan. Di luar dugaan, setiap hari ia sanggup menjual arang bakar sebanyak 60 bagor. Setiap bagor berisi 30 kg atau total 1,8 ton (1.800 kg) dan harga per kilo berkisar Rp 1.000-Rp1.250.

Dengan kata lain, jika rata-rata harga per kilo arang kayu ini Rp 1.100, maka omzet sehari tembus Rp 19 juta. Uang sebasar ini ia dapatkan dari para pembeli yang mayoritas adalah pedagang arang kayu Pasar Beringharjo dan Kotagede Kota Yogya. Mereka kemudian menjualnya lagi kepada para pembeli eceran yang kebanyakan para pedagang warung makanan tadi.

“Alhamdulillah kersane Gusti Allah, langgeng sampai sekarang,” ujar Darsini sembari mengatur mekanisme pengangkutan arah kayu pesanan pembeli, dan sesekali menyeka keringat di keningnya.

Udara dingin pagi itu bagai tidak terasa bagi perempuan perkasa ini, tersebab gerak tubuhnya lincah. Mengusung dan menata bagor-bagor berisi arang. Biasanya aktivitas bongkar muat demikian dilakukan sampai menjelang tengah hari saat adzan Dzuhur bergema dari speaker musola pasar.

Ia lantas istirahat menunaikan salat. Sejenak kemudian merekap hasil penjualan sesiang itu, seraya menanti pasokan arang kayu berikutnya dari para pemasok atau produsen. Dan kalau sudah jelang petang bersiaplah pulang ke rumah. Walau sebagian tubuhnya kehitam-hitaman terimbas arang yang diusung, tapi ia tetap ceria karena nasib tak jelaga. Sore itu ia masih bersyukur, karena keuntungan dari jerih payahnya sanggup untuk mencukupi kehidupan keluarga. (Supardi/Met)

  

 


share on: