Dari Pidato Pasca Pengumuman Quick Count, Akankah Prabowo Tanpa Mega?

share on:
Dr Mukhijab MA || YP-Ist

PIDATO “kemenangan” pemilihan presiden 2024 oleh Prabowo Subianto menarasikan tentang relasi sosial dan politiknya dengan para presiden Indonesia, dari masa kemerdekaan sampai masa kontemporer. Semuanya disebut dengan segala level relasi sosial dan pengalaman personal bagi Prabowo.

Tetapi, Prabowo luput tidak menyebut Megawati dalam pidato tersebut. Apakah ini indikasi akan meninggalkan presiden ke-5 (2001-2004) dan PDIP apabila penyelenggara pemilu menetapkan Prabowo-Gibran sebagai pemenang pemilihan presiden 2024?

Ketika selesai mendeskripsikan tentang proses pencapaian politiknya dalam kompetisi calon presiden, Prabowo mengklaim bahwa dirinya mengenal semua presiden Indonesia. “Hampir semua presiden saya kenal,” katanya.

BACA JUGA: THN AMIN DIY Libatkan Ratusan Personel Pantau Rekapitulasi di 78 Kecamatan, Buka Form Aduan

Menteri Pertahanan dalam kabinet Presiden Jokowi periode 2019-2024 menyebut Bung Karno, presiden pertama (1945-1967), tidak mengenal secara personal karena sang proklamator dijumpainya pada saat Prabowo masih kecil.

Bung Karno, saya tidak kenal karena (saya) masih kecil (saat itu). Tetapi saya pernah diangkat (dibopong, Jawa) oleh beliau,” ujar Prabowo.

Selanjutnya Presiden Soeharto, pejabat presiden kedua (1967-1998). Saat menyebut presiden kedua, audiens yang menghadiri pidato kemenangan di Istora Senayan (14/2/2024), merespon dengan suara gemuruh.

“Presiden kedua saya lumayan kenal juga. Kenapa kalian ketawa? Kalian nggak percaya (saya kenal)? Bahkan, saya sering makan siang bersama beliau,” lanjutnya. Ungkapan kalimat khusus itu direspon dengan tepuk tangan oleh audiens.

BACA JUGA: Aplikasi 'Sirekap' Bermasalah, Proses Rekapitulasi Suara di Pleret Berlangsung Lamban

Demikian halnya dengan Presiden BJ Habibie (21 Mei 1998 – 20 Oktober 1999). Ketika menyebut nama almarhum presiden ketiga, Prabowo tidak banyak menarasikan secara khusus. Ungkapan tentang BJ Habibie sangat singkat. “Presiden ketiga saya juga kenal,” katanya.

Dalam berbagai memoar tentang transisi kekuasaan masa reformasi 1998, Prabowo dan BJ Habibie disebut bersitegang karena keduanya berbeda pandangan soal jabatan panglima ABRI atau TNI. Ketika harus menyebut namanya, Prabowo terkesan tidak memiliki kenangan khusus tentang BJ Habibie yang bisa disampaikan ke publik.

Narasinya berbanding terbalik ketika Prabowo menyebut nama presiden keempat, Abdurrahman Wahid (Gus Dur), terdapat diksi-diksi khusus yang sangat personal diekspresikan kepada presiden yang menjabat pada periode 20 Oktober 1999 – 23 Juli 2001.

BACA JUGA: Mantan Plt PMI Yogya Ditahan, Ini Penyebabnya

“Presiden keempat saya kenal, Gus Dur. Saya –dulu— tukang pijatnya Gus Dur. Kalau nggak percaya, tanya(orang) yang kenal Gus Dur,” tandasnya.  Prabowo ingin menggambarkan terdapat kedekatan khusus antara dirinya dan putra pendiri ormas NU, KH Abdul Wahid Hasyim (1 Juni 1914 – 19 April 1953).

Presiden berikutnya yang menggantikan Gus Dur adalah Megawati Soekarnoputri. Prabowo tidak menyebut nama putri Bung Karno tersebut. Apakah ini mencerminkan dia tidak mengenalnya? Hal demikian tidak mungkin.

Kealpaannya tidak menyebut Megawati bisa saja ditasfsirkan bahwa alam bawah sadar relasi politiknya yang sedang tidak baik-baik saja dengan PDIP, yang dipimpin Megawati.

Ataukah itu bagian dari penegasan keretakan politik dalam keluarga koalisi penyokong capres-cawapres Prabowo-Gibran, yang di dalamnya terdapat Presiden Jokowi?

BACA JUGA: UWM Melangkah Global, Kunjungi NIU untuk Perkuat Kerjasama

Seperti semua mafhum, hubungan personal maupun politik Jokowi dan Megawati sedang terganggu akibat manuver Jokowi sebagai presiden yang cawe-cawe urusan pemilihan presiden, dengan mendukung Prabowo, mencalonkan anak sendiri, Gibran sebagai wapres, dan menggunakan Mahkamah Konstitusi untuk meloloskan syarat usia Gibran, yang belum mencapai 40 tahun.

Prabowo melewatkan nama Megawati, langsung menyebut Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), yang menjabat presiden dua periode (2004-2009 dan 2009-2014). Narasinya tentang SBY tidak hanya soal jabatan presiden, juga kenangan masa lalu pada masa pendidikan di Akademi Militer Magelang.

BACA JUGA: Klaim Satu Putaran dan Pesta 'Kemenangan' Tak Baik

“SBY, saya kenal baik. Dulu sempat jadi kawan (selama pendidikan militer). Saya masuk Akabri (pada tahun) sama.” SBY dan Prabowo taruna Akabri Angkatan 1970.

SBY lulus Akabri lebih dulu (1973), sementara Prabowo lulusnya satu tahun berikutnya, 1974. “Karena Akademi Militer sangat sayang sama saya, ditambah beasiswa satu tahun lagi,” kata Prabowo.

Presiden Jokowi disebut paling akhir, sesuai dengan masa jabatan presiden yang sedang diembannya (2009-2014 dan 2019-2024). Narasinya penuh puja-puji tentang Jokowi.

Prabowo memiliki pengalaman sebagai rival politik Jokowi pada pemilihan presiden 2009 dan 2014. Dua kali berkompetisi, Prabowo kalah, dan Jokowi sebagai pemenangnya.

Ketika berkoalisi dengan Jokowi, sebagai pembantu presiden (Menteri Pertahanan) dan mencalonkan presiden bersama anak Jokowi, Gibran, Prabowo “unggul” dalam perolehan suara berdasarkan perhitungan cepat (quick count) pemilihan presiden 2024.

Sebagai pembantu presiden dan partner politik dalam pemilu presiden, Prabowo sangat membanggakan Jokowi.

“Presiden Joko Widodo, saya sangat kenal, saya sangat kenal, saya sangat kenal. Beliau presiden pekerja sangat, sangat keras, tidak ada capainya, Menteri-menterinya kewalahan ikut beliau.”

Pujian terhadap Jokowi sangat wajar, tetapi melupakan Megawati dalam deretan nama presiden, itu menjadi tanda tanya besar. Apakah Prabowo akan meninggalkan Megawati, dan PDIP, apabila dia ditetapkan menjadi pemenang pemilihan presiden dan dilantik menjadi presiden?

BACA JUGA: Tim Dosen FTB UAJY Peroleh Hak Atas Paten Sederhana

Dalam mencalonkan presiden, Prabowo didukung oleh Gerindra, Golkar, Demokrat, PAN, dan PSI. Perolehan sementara lima partai Gerindra (12,52%), Golkar (14,39%), Demokrat (7.54%), PAN (6,82%), PSI (2,67%), Gelora (1,42%). Perkiraan total perolehan suara empat partai pendukung Prabowo yang lolos ke Senayan 41,27%.

Andikata partai pengusung pasangan presiden-wapres urutan 1 dan 3 bergabung, suaranya bisa mencapai 50 persen. Hasil perhitungan cepat partai yang mencalonkan Anies-Muhaimin adalah Partai Nasdem (8,85%), PKB (10,55%), PKS (7,78%). Sementara PDIP (16,35%), PPP (4,28%), Hanura (1,29%), dan Perindo (1,56%). Apabila berkoalisi para partai pendukung capres-cawapres 1 dan 3 yang masuk DPR terdapat peroleh suara hasil hitung cepat 43,53%. Terjadi perimbangan suara dua kubu.

Kalau Prabowo-Gibran dilantik, dukungan suara parlemen kurang dari 50 persen kurang kuat dan negosiasi program pemerintah sama kuatnya. Maka kemungkinan paling logis, presiden terpilih harus menggandeng tambahan dukungan di parlemen. Masalahnya, mengapa Prabowo “melupakan” Megawati pada saat “pidato kemenangan”? (Dr Mukhijab MA, Dosen UWM Yogyakarta dan Pemerhati Sosial Politik)

 

 


share on: