'Crita saka Pereng Merapi' Bukti Sastrawan Tak Kendur Berkreasi di Tengah Pandemi

share on:
Peluncuran antologi cerkak 'Crita saka Pereng Merapi' ditandai dengan pemotongan tumpeng || YP-R Toto Sugiharto

Yogyapos.com (SLEMAN) - Pandemi Covid-19 hampir memasuki tahun kedua. Meski mengalami banyak keterbatasan, kondisi di tengah pandemi tidak mengurangi para penulis berkarya.

Sastrawan yang tergabung dalam Paguyuban Sastra Budaya Jawa (Pasbuja) Kawi Merapi, Sleman meluncurkan buku antologi cerkak Crita saka Pereng Merapi. Buku tersebut memuat cerita pendek berbahasa Jawa (cerkak) dari hasil kreasi sejumlah 41 karya cerkak, dengan editor Sarworo Suprapto, Suhindriya, dan Eny Murtiningsih.

Ketua Umum Pasbuja Kawi Merapi, Sleman Sutopo Sugihartono, Minggu (27/12/2020) di Resto Kembang Desa Senuko, Godean, Sleman mengatakan, penerbitan buku tersebut menandai kiprah komunitas praktisi dan pecinta seni sastra dan budaya Jawa itu mencapai usia dua tahun. Pada capaian usia pertama silam, mereka menyelenggarakan pelatihan penulisan kreatif novel, cerkak, dan feature.

Pada tahun 2020 ini meski di tengah situasi pandemi Covid-19 namun tidak mengurangi kreativitas para pengurus dan anggota. Justru melahirkan karya, baik dari praktisi sastra dan budaya yang tergabung dalam komunitas tersebut maupun dari para peserta pelatihan. Pelaksanaan launching buku tersebut juga menerapkan protokol kesehatan.

Peneliti sastra dan budaya Jawa, Dhanu Priyo Prabowo mengapresiasi penerbitan buku tersebut.Keberadaan Pasbuja di Sleman membuatsastra Jawa semakin semarak. Bukan hanya dalam percakapan tetapi juga dalam aksi. Maksudnya, para pecinta dan pengarang sastra Jawa di Sleman secara nyata memberikan kontribusi terhadap keberlanjutan sastra Jawa.

Antusiasme warga Sleman terhadap sastra Jawa ditunjukkan dengan cara berinteraksi menyumbang gagasan bagi perkembangan sastra Jawa, tentu saja tidak dapat dilewatkan bagi siapa pun, terkhusus bagi stake holder, dalam hal ini dinas terkait, yaitu Dinas Kebudayaan Sleman. Bukan berarti tanpa kehadiran dinas lalu sastra Jawa tidak berkembang di tengah warga Sleman, tetapi dengan dukungan riil, misalnya pendanaan, maka secara holistik Sleman dapat menjadi contoh bagi dinas-dinas terkait di DIY. Memang dinas di Bantul juga sudah melakukan ini. Justru karena itu, Sleman tertantang untuk semakin gumregut terhadap sastra Jawa. Kalau menilik sejarahnya, daerah lereng Merapi - Merbabu, dahulu kala atau zaman kuno sebagai pusat intelektual (padhepokan) menjadi semakin tertransformasikan pada masa kini.

“Supaya sastra Jawa di Sleman semakin semarak menunjukkan kesejarahannya, tentu saja sebaiknya bukan hanya sastra Jawa gagrak anyar saja yang diopeni warga Sleman.Karena, ada sastra tradisi yang masih hidup dan didukung oleh komunitas-komunitas, misalnya kelompok macapat. Selain sebagai kelompok para penembang, di antara anggota komunitas macapat itu juga menulis cakepan tembang macapat. Dalam posisi inilah, Pasbuja sangat berperan untuk merangkulnya di dalam satu organisasi. Niscaya, dengan demikian sastra Jawa di Sleman akan menjadi teladan kreatif yang penting di DIY,” ujar Dhanu yang juga penulis sastra Jawa alumnus Fakultas Sastra Universitas Negeri Surakarta ini. (R Toto Sugiharto)

 


share on: