TERCATAT sepuluh kali Adi Candra pameran tunggal di berbagai kota di Indonesia. Sebuah pencapaian yang menandakan keseriusan, kesungguhan dan totalitas. Entah mengapa, seperti ada yang menantang, kapan pameran di Yogyakarta?
BACA JUGA: Era Digital dan Tuntutan Pola Pikir Multitasking
Bila kemudian dia benar-benar pameran lukis di Jogjq Gallery 3-10 Oktober 2025, bisa jadi membakar jiwanya karena bahagia. Yogyakarta, selain Jakarta dan Bali tempat kelahirannya, menjadi barometer perkembangan seni rupa. Di kota ini tidak saja bercokol para perupa kenamaan yang karyanya mewarnai jagad kebudayaan nasional, tetapi juga kawah candradimuka tempat banyak orang menimba energinya. Sukses pameran di jantung peradaban Jawa, maka pintu terbuka lebar bagi siapapun untuk terbang lebih tinggi dan jauh.
BACA JUGA: Kolaborasi 8 Musisi Legendaris, AFTERSUNSET Rilis Album 'Tentang Wanita'
Tantra vs Mantra
Cukup berani Adi Candra memilih tema pameran. Dia tidak serta merta membawa warna Bali tetapi, seperti pengakuannya, menukik lebih dalam. Soal tantra, hal mendasar bagi siapapun yang berusaha mengolah jiwa atau sukma. Lebih dari sebuah metode olah sukma, tantra adalah laku untuk menemukan pusat energi dalam raga agar adanya lebih berdaya guna dan berdaya jelajah.
BACA JUGA: Koseta Gaungkan Maklumat Kotagede, Ini Isinya
Dalam etape perjalanan Adi, menemukan tantra adalah keajaiban hidup. Up and down dijalani selama berkesenian. Beberapa guru didatangi atau memberinya advise. Hingga, pada sebuah momentum, dia menemukan kesadaran diri untuk apa berkarya, dengan cara apa berkarya dan, ini yang paling mendasar, pesan apa yang hendak disampaikan melalui karyanya.
Gisca kagum dengan lukisan Adi Candra || YP-Wahjudi Djaja
Tantra menjadi sarana pembuka daya sekaligus menjiwai proses penciptaan. Lukisannya abstrak tapi semakin lama dipandang, ada alur jiwa yang melatari dan, atau sengaja, ditempelkan dalam karyanya. Ada mantra yang diucap, bahkan, ada rajah yang sengaja dipasang. Apakah itu salah? Tergantung cakrawala pandang kita. Tantra, dan juga mantra, sifatnya menunggu. Siapa yang memakai dan apa tujuannya, tergantung niat yang dibisikkan. Dalam beberapa hal, itu identik dengan doa atau Jawa menyebut jopa-japu.
BACA JUGA: Lailani Fitrah Ramadhani Bangkit dari Kehilangan, Siap di Film 'Sekawan Limo 2'
Membaca Lukisan Tantra
Ketika diminta Adi untuk membaca dan menafsirkan karyanya lalu menghadirkannya menjadi puisi, bersama penari Nungki Nur Cahyani, lama saya meraba dan menerka. Tiga bulan mencoba melacak alur spiritual hingga lahir puluhan karya rupa tantra, hingga lahir puisi Tantra Sapta Warna. Ada tujuh pusat energi dalam raga yang jika dikelola dan dioptimalkan adanya akan mendorong totalitas hidup termasuk berkesenian.
"Merinding, Pak!" Kata mahasiswa STIE Pariwisata API Yogyakarta yang sengaja kuajak hadir dalam pembukaan pameran. "Rasanya mistis sambil nahan napas, takut bicara", kata yang lain.
BACA JUGA: Jumhur Hidayat Imbau Meja Restauran Ditempel Stiker QRIS untuk Uang Tips
Mereka tengah mengikuti kuliah Budaya dan Geografi Kepariwisataan yang saya ampu dan rata-rata baru pertama kali intens mengikuti pembukaan pameran dari perupa kaliber seperti Adi. Mereka menyimak bagaimana saya membawakan puisi Tantra Sapta Warna dengan iringan instrumen musik yang biasa dipakai yoga.
Adi Candra telah pulang ke Bali. Menekuni pilihan hidupnya untuk berhikmat dalam seni rupa. Berkabar, dia akan pameran di Bandung dalam tema yang kurang lebih sama. Para mahasiswa juga kembali ke aktivitas semula dengan pengalaman baru tentang silang budaya yang ada di Yogyakarta. Kota ini, masih menyimpan ruh peradaban yang tak setiap orang mampu melihat dan merasakannya.
BACA JUGA: Besok, Parangtritis dan Goa Cemara Diwarnai Ribuan Lampion
Semoga Adi Candra paham dan, saya yakin, merasakan pengayaan berkat persenyawaannya dengan Yogyakarta. Dan itu sangat bermanfaat bagi proses kreatif berikutnya. Sukses selalu, Bli. (Penulis: Wahjudi Djaja adalah Penyair, Budayawan Sleman dan Dosen STIEPAR API Yogyakarta)
