Bea Cukai DIY dan Bupati Bantul Kampanye Pemberantasan Rokok Ilegal

share on:
Bupati Bantul ikut joget menyusul pemberian sampur dalam pentas etnmusikologi kampanye pemberantasan rokok ilegal, di PSG Bantul, Sabtu (20/11/2021) || YP-Ist

Yogyapos.com (BANTUL) - Kampanye pemberantasan rokok ilegal dilakukan oleh Bea Cukai Yogyayakarta (DIY) melalui pentas musik etnimusikologi (musik paduan dari berbagai etnik nusantara) dan musik jawa, di Pasar Seni Gabusan (PSG) Jalan Yogya-Parangtritis, Sabtu (20/11).

“Pemberantan atau gempur rokok ilegal kali ini bertujuan untuk menyelamatkan cukai rokok secara nasional yang besarnya sekitar Rp 183 Triliun per tahun,” ungkap seorang perwakilan dari Bea Cukai DIY, Joko Santoso, pada Pentas Seni Gamelan Seni Budaya Jawa dalam rangka gempur rokok ilegal oleh Bupati Bantul dan Bea Cukai, di PSG Bantul. 

Dijelaskan ciri-ciri rokok ilegal antara lain bungkusnya polos tanpa bandrol, pita cukainya palsu, maksudnya dilengkapi pita cukai namun dipergunakan tidak secara transparan misalnya bertuliskan berisi 12 batang per bungkus padahal berisikan lebih.

“Membuat dan menjual/memasarkan rokok ilegal adalah merupakan pelanggaran terhadap Undang-undang. Maka mari kita semua melakukan pemberantasan rokok elegal di masyarakat,” ajak Joko. 

Bupati Bantul, H Abdul Halim Muslih,  dalam sambutannya mengatakan pihaknya menyambut positif dan mengajak kepada masyarakat agar ikut berperan aktif memberantas rokok elegal.

“Pemberantasan meliputi tingkat produsen, penjual (pengedar) dan konsumen. Kita semua jangan menjadi produsen, penjual dan pemakainya agar bea cukai aman,” sambung Abdul Halim.

Sementara tentang musik etnik nusantara ini sendiri menampilkan Kelompok Musik Tali Wangsa bekerja sama dengan Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta Jurusan Etnomusikologi dibawah bimbingan dan binaan Dosen institut ini yang juga pendiri kelompok musik Taliwangsa, Drs Haryanta MPd. 

“Pentas musik etnik kali ini dan juga pada Minggu (22/11) malam bahwa musik dari berbagai daerah di nusantara diramu sedemikian rupa serta berpentas bersama. Jadi gaya musik yang dipentaskan bersama dan jadi satu merupakan betbagai gaya maupun jenis berbagai etnik yang ada,” kata Haryanta. 

Pada acara yang sama, sebelum dipentaskan musik etnik nusantara juga dipentaskan  musik Jawa (panembromo) oleh salah satu group musik asal Bantul. Dalam gelaran musik etnik ini, Abdul Hakim Muslih dan Joko Santoso memperoleh kehormatan menerima sampur (selendang) dari pemain dan ikut berjoget bersama. (Spd)

 


share on: