Batu Jonggol di Bulak Triharjo Dipercaya Ditunggui Janoko dan Macan Putih

share on:
Batu Jonggol di Bulak Triharjo, Dusun Murangan VIII, Sleman || YP-Agung Dwi Purwanto

Yogyapos.com (SLEMAN) - Kepercayaan masyarakat terhadap tempat-tempat wingit (angker) agaknya sulit dihilangkan. Meski sudah memasuki abad teknologi mutakhit, namun sebagian masyarakat kita masih mempercayai adanya ‘makhluk halus’ penunggu suatu tempat atau benda-benda tertentu.

Hal ini setidaknya seperti kabar yang beredar di masyarakat terkait dengan keberadaan batu besar yang terkenal dengan sebutan ‘Batu Jonggol’, di Bulak Triharjo, Dusun Murangan VIII, Triharjo, Sleman.

Bongkahan batu berukuran besar itu dipercaya ditunggui oleh mahkluk halus. Cerita beredar, dulu batu tersebut semula sebagai tempat bertapa Janoko di Gunung Merapi. Ribuan tahun lalu saat Merapi meletus, batu besar itu pun ikut terpental menggelnding dan berakhir di Bulak Triharjo.

“Waktu saya tiduran di sini muncul lelaki tampan bernama Raden Janoko,” tutur Wegyo (60) yang sering nenepi tirakan di batu tersebut, Sabtu (9/1/2021).

Bukan hanya Janoko saja, tetapi juga terkadang muncul seekor macan putih klangenannya. Penampakan dua mahkluk itu tentu hanya bisa dialami oleh orang-orang tertentu yang terbilang sukses semedi.

Suka atau tidak suka, percaya atau tidak percaya. Tapi begitulah adanya. Sampai sekarang batu tersebut masih berada di sana, dan tak seorang pun yang berkenan menyingkirkannya.

Konon, pernah ada seseorang yang menyangkal tentang batu wingit itu, sehingga mencoba memecahkannya. Tapi upaya tersebut sia-sia karena tak sanggup memecahkan batu itu. Bahkan sepulang dari sana, orang itu sakit dan berujung meninggal dunia.

Lain lagi cerita Pak Ndedek, bahwa siapa pun orang yang sukses nenepi di di batu tersebut tiba-tiba akan memeroleh patung kecil warna kuning keemasan berujud Janoko di saku bajunya. “Semacam ada getaran saat semedi di Batu Jonggol,” katanya.

Meski demikian Pak Ndedek tetap mengingatkan bahwa kisah tentang Batu Jonggol ini jangan sampai kita menjadi berlaku syirik atau menyekutukan tuhan Yang Maha Esa. Batu tetap merupakan karya Allah, apa pun yang terjadi di sana tentu atas kehendakNya. (Agung DP)

 


share on: