Batik Farras Terus Berpacu dengan Inovasi, Produksinya Kian Diminati

share on:
Farras selalu mengontrol kreasi pekerja || YP-Supardi

Yogyapos.com (BANTUL) - Menggerakkan usaha apa pun selalu menghadapi tantangan dalam mengembangkan bisnisnya. Hal ini juga berlaku di dunia industri batik di Bantul.

Batik sebagai warisan budaya bangsa Indonesia yang telah mendapat pengakuan dunia merupakan komoditas andal. Biasanya pengelolaan manajemen usaha batik dilakukan secara tradisional dan monoton oleh generasi tua. Oleh sebab itu generasi muda pengusaha batik kini berupaya melakukan inovasi, salah satunya dilakukan oleh Dairi Farras (33), pemilik Perusahaan dan Toko Batik Farras.

BACA JUGA: Pencuri Kotak Amal di Masjid Baitul Muslimin Ditangkap, Diduga Pula Pelaku Curanmor

“Saya meneruskan usaha batik kain dari tinggalan ayah saya Umbuk Haryanto asal Kuonprogo. Bapak saya dalam proses produksinya terbiang mahir. Maka ilmunya saya adopsi namun juga saya lengkapi dengan manajemen yang lebih baik agar usaha ini inovatif,” tutur Dairi Farras, di tokonya, Jalan Kolonel Sugiono Ringinharjo Bantul, Sabtu (24/2/2024).

Farras melakukan pengembangan manajemen, produksi maupun pemasaran, sangatlah beralasan karena ia lulusan Manajemen Ekonomi UII Yogyakarta.

BACA JUGA: Aksi Ratusan Rakyat Yogya 'Tolak Pemilu Curang' Serukan Jokowi Turun

“Intinya dalam berinovasi saya melanjutkan ilmu produksi yang diperoleh dari orangtua dengan dipadukan dengan ilmu akademik yang saya peroleh dari UII,” tukasnya tanpa memerinci lebih jauh inovasi yang dimaksud.

Berkreasi sepenuh hati || YP-Supardi

Kini batik hasil inovasi Farras sudah mencapai belasan macam. Setiap satu jenis inovasi jumlahnya mencapai puluhan. Tujuannya untuk mampu bersaing dengan batik painting.

BACA JUGA: Harga Beras Melonjak, Senator DIY: Boleh Jadi Akibat Sebaran Bansos yang Ugal-ugalan

Diantaranya jenis cap dan ada yang paduan cap dengan tulis. Sehingga jenis-jenis tersebut memberikan banyak pilihan kepada konsumen sehingga diminati pembeli. Harganya juga terjangkau yaitu Rp 100.000 hingga Rp 200.000 per lembar.

“Target saya adalah usaha dengan inovatif ini memasyarakat dan mendukung kemajuan perdagangan maupun wisata yang juga akan berdampak positif bagi para pengusaha kain di Bantul,” tambah Farris.

Para pembatik kain di tempat produksi dan toko batik Farras mayoritas berusi muda usia. Mereka trengginas dan memiliki ide-ide kreatif untuk inovasi. (Spd)


share on: