WAFATNYA Dewan Suro Masjid Jogokariyan, Kyai Jazir ASP, di PKU Muhammadiyah Jalan KH Ahmad Dahlan Yogyakarta pada Senin (22/12/2025) pagi tadi, menyisakan duka sekaligus peringatan keras bagi kita.
BACA JUGA: Menaker Imbau Perusahaan Terapkan WFA pada 29-31 Desember
Salah satu kegelisahan yang berulang kali beliau suarakan terasa sederhana tetapi sesungguhnya mendasar yaitu bahwa generasi muda, khususnya di Jawa Tengah dan DIY, kian tidak memahami bahasa Jawa. Mereka mengaku wong Jowo, tetapi tidak mampu berkomunikasi dengan bahasanya sendiri. Akibatnya, percakapan tidak nyambung, nilai tidak tersampaikan, dan identitas perlahan memudar.
BACA JUGA: Jogja Hanyengkuyung Sumatra, Aksi Penggalangan Dana Musisi Yogya untuk Korban Bencana Sumatera

Bahasa ibu bukan sekadar alat komunikasi. Ia adalah fondasi pembentukan karakter. Melalui bahasa ibu, seseorang belajar sopan santun, tata krama, empati, dan batas etis dalam berelasi. Dalam bahasa Jawa, misalnya, terdapat unggah-ungguh dan pilihan tutur yang mengajarkan penghormatan, pengendalian diri, serta kesadaran sosial. Ketika bahasa ini tidak lagi dipahami yang hilang bukan hanya kosakata tapi juga sistem nilai yang menyertainya.
BACA JUGA: Harga Ikan di Pantai Depok Mulai Naik, Ini Rinciannya
Berbagai kajian akademik menguatkan pandangan tersebut. Psikologi perkembangan menegaskan bahwa bahasa adalah sarana utama internalisasi norma sosial. Lev Vygotsky menunjukkan bahwa bahasa membentuk cara berpikir dan perilaku individu. Sosiolinguistik Joshua Fishman menyebut melemahnya bahasa ibu sebagai tanda rapuhnya identitas kolektif suatu komunitas. UNESCO pun menegaskan bahwa bahasa ibu berperan penting dalam pembentukan karakter, empati sosial, dan kohesi masyarakat.
BACA JUGA: Polda DIY Siap Sambut Nataru, Gelar Pasukan Operasi Lilin Progo Dilakukan Lintas Sektoral
Namun realitas hari ini justru bergerak berlawanan. Di banyak daerah, “kampung Inggris” tumbuh subur dan dirayakan. Tidak ada yang keliru dengan penguasaan bahasa asing. Yang problematis adalah ketika bahasa ibu ditinggalkan tanpa upaya pelestarian yang setara. Globalisasi yang tidak berpijak pada akar budaya hanya akan melahirkan generasi yang cakap secara teknis, tetapi miskin orientasi nilai.
BACA JUGA: RSUD Panembahan Senopati Tetap Lakukan Pelayanan Kesehatan Selama Libur Nataru
Kyai Jazir tidak menolak modernitas. Yang beliau kritik adalah keterputusan generasi dari akar budayanya sendiri. Menurut beliau, komunikasi adalah kunci pewarisan norma. Jika bahasa ibu tidak lagi dikuasai, maka nasihat orang tua, petuah leluhur, dan kearifan lokal akan kehilangan daya pengaruh. Bahasa yang putus melahirkan generasi yang sulit menyerap nilai, bahkan dari lingkungannya sendiri.
BACA JUGA: Pak Hakim Yanto Mainkan Lakon 'Pandu Swargo' Dihadiri Kapolri, Danrem dan Titiek Soeharto
Gagasan ini menjadi sangat relevan jika dikaitkan dengan tema Hari Ibu 2025 yang dirilis Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak: “Perempuan Berdaya dan Berkarya, Menuju Indonesia Emas 2045.” Ibu adalah pendidik pertama dan utama. Dari ibulah anak mengenal kata, makna, dan rasa. Bahasa ibu hidup atau mati pertama-tama ditentukan di dalam keluarga, melalui peran ibu.
BACA JUGA: Kajati DIY Sampaikan Amanat Presiden di Upacara Peringatan Hari Bela Negara
Jika Indonesia sungguh-sungguh ingin membangun generasi emas, maka penguatan peran ibu harus dimaknai secara kultural, bukan semata ekonomi.
Pendidikan usia dini berbasis bahasa ibu, penguatan muatan lokal, serta penciptaan ruang publik yang ramah bahasa daerah perlu menjadi agenda serius. Menghidupkan kembali “kampung Jawa” atau kampung-kampung berbasis bahasa dan budaya lokal bukan nostalgia, melainkan investasi karakter bangsa.
BACA JUGA: Publik Apresiasi Langkah Menkeu Purbaya Menunda Kenaikan PPN
Kini Kyai Jazir telah berpulang. Namun peringatan yang beliau tinggalkan tidak boleh diabaikan. Kehilangan bahasa ibu berarti kehilangan arah. Bangsa yang tercerabut dari bahasanya akan mudah kehilangan karakter, bahkan jati dirinya sendiri. Indonesia Emas 2045 hanya akan bermakna jika dibangun di atas akar yang kokoh. Dan akar itu bernama bahasa ibu. (Penulis: Yuningsih Purwoastuti adalah alumnus Sosiatri/PSDK UGM)
