ANCAMAN PEMBUNUHAN PROF NI'MATUL HUDA: Elemen Alumni UII Desak Kepolisian Tangkap Pelaku

share on:
Konferensi elemen alumni UII bulatkan tekad lakukan pelaporan ke Polda DIY || YP-Ismet

Yogyapos.com (YOGYA) - Simpati dan empati terhadap Guru Besar FH UII, Prof Dr Ni’matul Huda SH MHum yang diteror dan diancam akan dibunuh oleh sekelompok orang tak dikenal, terus mengalir dari sejumlah elemen masyarakat. Tak terkecuali para advokat alumnus perguruan tinggi tersebut, menunjukan empatinya dengan melakukan rapat terbuka di Yogyakarta, Sabtu (30/5/2020). Mereka mendesak agar Kepolisian Republik Indonesia cq Polda DIY mengusut tuntas kasus tersebut.

“Kami mendesak Polda DIY segera mengusut tuntas dan menangkap pelaku teror teror tersebut. Sebab peristiwa ini sudah menciderai nilai-nilai akademi dan demokrasi, bukan hanya keselamatan nyawa korban saja,” ujar Koordinator Advokat Alumni UII yang merupakan salah satu elemen Alumni UII Yogyakarta yang anggotanya mencapai ribuan di seluruh Indonesia. Turut hadir dalam acara ini antara lain Dr Guru Besar Pascasarjana UMY Dr Trisno Raharjo SH MHum, H Amin Zakaria SH MH, Ivan Bert SH, Andri Irwanto SH, Sultan Akbar SH dan Adi Susanto SH.

Aprilia mengungkapkan, sebabagaimana marak diberitakan bahwa korban Ni’matul Huda pada beberapa hari lalu sedianya akan menjadi salah satu narasumber diskusi virtual dengan tema ‘Meluruskan Persoalan Pemberhentian Presiden Ditinjau dari Sistem Ketatanegaraan’ yang diselenggarakan di UGM.

Tapi kemudian ada yang mengembuskannya seolah diskusi tersebut merupakan perencanaan makar. Sehari sebelum diskusi berlangsung rumah korban didatangi sejumlah orang menggedor pintu dan meneriakinya. Korban tetap bertahan di dalam rumah tanpa membukakan pintu sembari menelpon mencari bantuan dari berbagai pihak.

Aksi teror ini juga dilakukan melalui ponselnya dengan ancaman pembunuhan. Bukan hanya terhadap dia saja, melainkan juga kepada beberapa panitia diskusi yang notabene para mahasiswa.

Aprilia menegaskan, sebenarnya tema diskusi itu meruapakan hal umum. Bahwa menjadi tidak biasa karena ada pihak-pihak tak bertanggung jawab yang mengembuskan isu negatif penjatuhan presiden di masa pandemi Covid-19 yang berlanjut teror maupun ancaman pembunuhan.

Padahal, diskusi tersebut sesungguhnya murni kegiatan akademik. Bahkan korban sedianya justru akan memberikan pencerahan tentang prosedur ketatanegaraan.

“Tapi dengan adanya fitnah yang sengaja diembuskan pihak tak bertanggung jawab dan berbuntut ancaman pembunuhan itu, maka kami tegas sangat tidak bisa mentolerir. Kami akan melaporkan persoalan ini ke Polda DIY. Ya Senin (1/6/2020) nanti,” tegas Aprilia seraya menyatakan bukti-bukti ancaman itu lengkap berupa CCTV, Sceerenhoot medsos maupun komunikasi ponsel.

Aprilia menyatakan, peristiwa ini bukanlah delik aduan. Sehingga tanpa korban melakukan pelaporan pun sebenarnya kepolisian wajib melakukan pengusutan. Demikian juga masyarakat bisa melakukan desakan pengusutan.

Jika tidak disikapi serius, papar dia, dampaknya akan sangat besar. Bisa mengancam kemurnian kegiatan akademis.

Hal senada disampaikan Amin Zakaria, rakyat sebagai pemberi mandat punya hak melakukan kontrol. Jangan justru masyarakat pemberi mandat malah dibully.

Kegiatan akademis bisa saja berisi pengetahuan tentang kontrol jalannya pemerintahan. Ini merupakan bagian dari demokratisasi yang dijamin konstitusi. “Jangan dihambat kegiatan semacam ini. Menghambat, apalagi melarangnya, itu menciderai hakekat demokrasi. Jangan sampai demokrasi justru dikorupsi,” tegasnya. (Dol/Met)

 


share on: