Yogyapos.com (SLEMAN) – Joglo Singodikoro menggelar sarasehan refleksi sejarah 200 tahun Perang Jawa.serta pameran pusaka dan manuskrip, di Kadisono, Margorejo, Tempel, Sleman, Minggu (14/12/225).
Dalam sarehan ini diuraikan sejarah Perang Jawa oleh R. Chaerul Wardana dan Yoga, serta monolog " Berita Dari Jauh" oleh aktor teater Totok Suryo.
BACA JUGA: Dibuka Danrem, Pertemuan Gabungan Persit KCK Bahas Pengelolaan Keuangan Keluarga
Kedua nara sumber menguraikan, sejumlah peristiwa penting yang tercatat dalam sejarah nDalem Singodikoro antara lain: Menjadi tempat berkumpulnya laskar prajurit Diponegoro dalam sub-peristiwa Perang Mloko (1826). Tahun 1883 menjadi tempat persinggahan putra lelaki satu-satunya Sultan HB V, Gusti Timur Muhammad Suryaningalogo, dan GKR Sekar Kedaton sebelum tertangkap di Balerante.
BACA JUGA: Condongcatur Fun Walk Diikuti 2.300 Peserta, Semarak Bertabur Hadiah
Selain itu, juga menjadi markas tentara kelas kedua dan Heiho Keibodan masa Jepang. Lalu pada awal kemerdekaan dimanfaatkan sebagai sekolah Sekolah Menengah Ekonomi Pertama (SMEP) Negeri Tempel. Juga pada tahun 1948 bangunan menjadi kantor Kalurahan Kadisono dan jabatan lurah di wariskan tu run temurun tiga periode.
BACA JUGA: Ketua Muslimat NU Bantul: Perempuan Harus Perkuat Diri dengan Pengetahuan dan Keterampilan
"Harapan kedepan terus berlanjut gelar pusaka serta sarasehan ini dengan dukung oleh pemerintah dan masyarakat. Sekarang masih taraf pribadi dan keluarga," ungkap Chairul Wardana yang biasa disapa Agus cucu Singadikoro ini, kepada yogyapos.com di sela-sela acara. Acara ini akan berlangsung sampai 16 Desember 2025.
Sejumlah pusaka yang dipamerkan || YP-Agung DP
Ia menjelaskan, kegiatan sudah rutin diadakan di pendapa tersebut. Namun kegiatan sarasehan dan gelar pusaka baru pertama kali. Sekarang sudah ada perhatian dari pemerintah.
“Namun hanya dukungan saja, padahal seharusnya pemerintah turun kebawah karena oleh pemerintah bangunan telah ditetapkan sebagai salah satu cagar budaya yang di di wilayah Kapanewon Tempel.
BACA JUGA: Perkumpulan Tosan Aji Lar Gangsir Berharap Lahir Para Empu Keris Baru
Sementara itu, seusai membukan kegiatan Sarasehan, Panewu Tempel Dakiri SSos MSi, menyampaikan apresiasinya dan memberikan dukungan penuh terhadap kegiatan ini.
Menurutnya, ini merupakan kegiatan pertama penelusuran sejarah silsilah Singodikoro digelar di pendapa yang sudah masuk sebagai cagar budaya di wilayah Margorejo Tempel.
BACA JUGA: Sastra Ilmu
Dakiri juga mengatakan Singodikoro merupakan suatu sejarah yang harus dipertahankan serta diketahui oleh masyarakat. Disisi lain pemerintah memiliki peran dalam menjaga mengembangkan nilai-nilai sejarah agar tak tergerus oleh perkembangan zaman.
"Joglo Singodikoro merupakan bagian dari cagar budaya dipahami tidak hanya sebatas bangunan, namun sejarah yang melekat pada perjuangan serta sisilah dari Singodikoro," tandasnya.
BACA JUGA: HUT ke-55 IKG di Ciledug Dihadiri Gubernur Banten dan Bupati Gunungkidul
Lurah Margorejo, Abdul Aziz Ridwan juga menyamaikan komitmennya untuk mendukung pelestarian bangunan joglo, termasuk dari sisi pembiayaan perawatan.
Ia mengungkapkan dengan kegiatan seperti ini, semoga masyarakat Margorejo khususnya, bisa mengetahui sejarah budaya tentang perang Diponegoro.
BACA JUGA: SMAN 2 Sleman Peroleh Bantuan Seperangkat Gamelan dari GKR Hemas
"Kedepannya bisa menjadi tanda bah wa di Margorejo pernah menjadi tempat bersejarah dalam rangka mempertahan NKRI, serta ada tempat bersejarah sebagai cagar budaya," ujar Ridwan kepada media seusai membuka gelat banda pusaka Joglo Singodikoro.(Agn)
