20 Tokoh Terima Anugerah Budaya dari Gubernur

share on:
Gubernur DIY Sultan Hamengku Buwono X bersama sebagian penerima anugerah || YP-Ist

Yogyapos.com (YOGYA) - Sebanyak 20 tokoh terdiri dari para pelaku seni, pelestari adat serta pemelihara cagar budaya, menerima Penghargaan Anugerah Budaya Gubernur DIY. Penghargaan tersebut diserahkan berdasarkan Surat Keputusan Gubernur DIY No.289/Kep/2020 Tentang Pemberian Anugerah Kebudayaan Kegiatan Kebudayaan Seniman dan Budayawan Tahun 2020.

Adapun wujud penghargaan berupa Piagam, Plakat, Pin Emas serta uang pembinaan sebesar Rp 25 juta setiap orang atau Lembaga. Prosesi penyerahan penghargaan ditandai dengan pemasangan pin emas serta piagam  oleh oleh Gubernur DIY Sri Sultan HB X di Kepatihan Yogyakarta, Rabu (19/12/2020). 

Gubernur DIY Sri Sultan HB X mengungkapkan, pemberian penghargaan ini merupakan bentuk apresiasi dari pemerintah atas karya para pelaku seni  serta para pemelihara bangunan cagar budaya. Meski sederhana, tetapi mempunyai nilai tersendiri sambutannya dihadapan para seniman dan tamu undangan lainnya.

“Penghargaan ini diberikan kepada manusia-manusia mandiri yang peduli akan pentingnya pelestarian pusaka budaya. Kita sudah selayaknya menghargai para pelestari dan penggiat budaya ini,”ujar Gubernur dalam sambutannya di hadapan para seniman dan pelaku budaya. 

Dijelaskan Gubernur, tahun 2020 ini spektrum penerima penghargaan dibuat semakin luas dan beragam. Bahkan baru kali penghargaan diberikan kepada seorang sejarawan asing atas kesibukannya meneliti sejarah Pangeran Diponegoro. Bertolak dari pemahaman bahwa budaya merupakan ekspresi totalitas manusia, maka perluasan ruang lingkup penghargaan merupakan sebuah keniscayaan. 

Gubernur mencontohkan, pelestarian seni tari klasik bukan sekadar melestarikan tarian semata tetapi juga melestarikan semua unsur budaya klasik yang masih relevan. Pengembangannya tidak dimaksud untuk merubah nilai-nilai demi selera jaman. Fenomena ini menandakan bahwa budaya mempunyai sifat dinamis dan lentur, mengandung daya reservasi yang melestarikan tetapi juga mengandung daya progresif yang pengembangannya lebih bermutu.

Terpisah, seniman Purwadmadi Admadipura berpandangan, kebudayaan Yogyakarta yang selama ini ditekuninya telah memberikan sesuatu yang berlebih, sehingga dirinya mampu memahami bahwa kerja kebudayaan merupakan proses keterlibatan dalam interaksi dengan peristiwa budaya. 

“Setelah dekat maka kita perlu mengambil jarak untuk melakukan pewartaan dengan yang lain,” ujar Purwadmadi. 

Sedangkan Pakar Peneliti dari Oxford University Peter Carey mengungkapkan, atas pengalamannya selama tinggal di Yogya dan melakukan penelitian sejarah, pihaknya memperoleh banyak pengetahuan yang selama ini belum ditemuinya. Karena penghargaan yang diterima merupakan hal yang dirasakannya sangat membanggakan.

Para Penerima Penghargaan, masing-masing Kreator Ir Eko Agus Prawoto March (Kreator), Drs Purwadmadi (Budayawan/Pemikir Budaya), Peter Carey (Pelestari dan/atau Pelaku Seni), IVAA (Indonesian Visual Art Archive), Drs Susilo Nugroho, Shaggydog, Dr Theresia Suharti SST MS, Dr Nyi KRT Pujaningsih SST MS, Nasirun SSn, Garin Nugroho Riyanto SSn MHD, Drs Hariyadi, R Bambang Nursinggih SSn, Amir Junawan, Noto Sukamto (Pemangku Upacara Adat Gubug Gedhe), Pemangku Upacara Adat Trah RT Singalodra, Sutilah Suhardjo, Prawirowilogo Pametri Wiji (Pelaku dan atau Pelestari Cagar Budaya Bangunan Indische PT Pos Indonesia, Bangunan SD Marsudiri (Yayasan Marsudirini Perwakilan Yogyakarta), Bangunan Gardu Listrik Abu Bakar Ali (PT PLN), PT Bank BPD DIY, Yayasan Bopkri (Bangunan Indische) Delia Murwihartini (Dowa), Rumah Anwar Priyadi (Indische Jalan Sultan Agung). (*/Slistyawan Ds)

 

 

 

 


share on: