Sugianto : Saya Sarjana Pertama di Merapi

share on:
Dua mahasiswa terbaik Fisipol UWM saat yudisium || YP-Ist

Yogyapos.com (YOGYA) - Sugianto mengaku sangat bangga bisa lulus dan segera menyandang gelar Sarjana Ilmu Politik (SIP) dari Universitas Widya Mataram (UWM). Lelaki asal Dusun Banyu Adem, Srumbung, Magelang, menyebut terdapat 99 sarjana di desanya.

Mahasiswa program studi Administrasi Publik UWM itu mengatakan, dirinya menjadi sarjana ke-100 di dusun pertama di bawah puncak Merapi. Ya saya sarjana ke-100 di Merapi,” kata dia saat mengikuti yudisium dan pelepasan sarjana baru dari Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisipol) UWM, Kamis (24/2/2022).

Perangkat desa itu dinyatakan lulus terbaik saat yudisium bersama 11 mahasiswa lain, yang dipimpin Dekan Fisipol UWM Dr As Martadani Noor, MA dan dihadiri Wakil Rektor I UWM  Dr Jumadi SE MM.

Kuliah di perguruan tinggi tidak direncanakan oleh Sugianto. “Saya sedang mencari informasi untuk keponakan saya yang mau kuliah. Kemudian mendapat nama Universitas Widya Mataram. Nama itu disserahkan, eh keponakan tidak tertarik, justru saya yang tertarik mendaftar pada dua hari menjelang penutupan pendaftaran,” katanya.

Dia berangan-angan menjadi sarjana yang bisa menambah sumberdaya manusiaber pendidikan tinggi di desanya. Alasannya, desanya sangat subur, sebagian besar warga bertani salahk pondok di laha 167 hektar. Selain itu, warga memproduksi gula dengan omzet setahun bisa mencapai miliaran.

“Masalah di desa saya menyangkut kualitas sumberdaya manusia (SDM). Sebagian besar lulusan SMA atau di bawahnya. Aparat desa pendidikan tertinggi SMA. Karena itu SDM yang berkualitas belum mencukupi,” jelasnya.

Dengan gelar sarjana administrasi publik yang disandangnya, dia berharap bisa mengabdi sebagai aparat desa yang memiliki kualifikasi baik dan sesuai gelar kesarjanaannya.

Dr As Martadani Noor MA, menyatakan salut atas perjuagan Sugianto. Dengan latar belakangnya sebagai mahasiswa dari desa, dia mengingatkan perjalanan pendidikan yang dialaminya.

“Saya sendiri dari desa. Sekolah dasar mengenal sepatu saat mau lulus, dan itu memasang sepatu harus terbalik karena saya tidak pernah memakai sepatu selama sekolah sebelumnya,” kenangnya.

Tetapi anak-anak dari desa tidak perlu berkecil hati atau minder untuk mencapai pendidikan tertinggi karena soal kecerdasan dan semangat belajar anak desa bisa saja lebih baik. “Sayakuliah strata satu (S1) sampai S3 selalu mendapat beasiswa,” ujar dia.

Pendidikan S1 dari Fisipol UWM (lulus 1991), master/S2 dari Andhara University, S3 Universitas Sebelas Maret.

Ketika menjadi sarjana, menurut dia, setiap lulusan keinginannya menghadirkan pemikiran alternatif. “Pikiran kita sebagai sarjana harus menjadi pemecah masalah, meghadirkan pemikiran alternatif. Itu biasanya dicibir, sementara sarjana pemikirannya biasa-biasa dilabel negatif, dikatakan sarjana kok hanya begitu saja,” ujarnya. 

Dia menegaskan, para mahasiswa yang baru lulus dan menyandang gelar kesarjanannya menghadapi dunia nyata di tengah masyarakat, bagaimana berkiprah di dalamnya dan mendapat respon positif, itu tantangan.

Dr Jumadi menambahkan, sarjana perlu memahami peran yang ideal di masyarakat, yaitu berpikir kritis atau alternatif atau pemecah masalah, kreatif dan inovatif,  empati kepada orang lain, memiliki kemampuan komunikasi yang baik, baik komunikasi personal maupun komunikasi online. (*/Met)


share on: